Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan kuat dan turun menembus level USD 80.000. Pada Sabtu (31/1/2026) pukul 12.48 waktu ET atau 17.48 WIB, Bitcoin tercatat melemah 6,53% ke posisi USD 78.719,63. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya, setelah pada Jumat (30/1/2026) BTC sempat menyentuh USD 81.104, level terendah sejak 21 November 2025.
Pada saat bersamaan, dolar Amerika Serikat menguat menyusul penunjukan mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai Ketua The Fed yang baru. Penunjukan tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait potensi arah kebijakan moneter yang lebih ketat serta kemungkinan berkurangnya likuiditas di sistem keuangan global.

Kevin Warsh dikenal sebagai figur yang mendorong perubahan kebijakan di Federal Reserve, termasuk rencana pengurangan neraca bank sentral AS. Penyusutan neraca ini diperkirakan akan mengurangi dukungan likuiditas yang selama ini menopang aset berisiko dan spekulatif, seperti Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Selama beberapa tahun terakhir, aset digital dinilai diuntungkan oleh besarnya neraca The Fed yang mendorong reli harga melalui limpahan likuiditas.
Kepala Ekonom Annex Wealth Management di Menomonee Falls, Wisconsin, Brian Jacobsen, menjelaskan bahwa neraca The Fed yang membesar, ditambah regulasi perbankan yang ketat, menyebabkan likuiditas tertahan di Wall Street. Kondisi tersebut membuat aliran dana sulit mengalir ke sektor riil atau Main Street.
Akibatnya, terbentuk gelembung harga pada berbagai instrumen keuangan, mulai dari obligasi, mata uang kripto, logam mulia, hingga saham-saham spekulatif. Tidak hanya Bitcoin, Ether (ETH) juga mengalami tekanan signifikan. Pada Sabtu sore waktu setempat, harga Ether turun 11,76% ke level USD 2.387,77.
Baca juga :Â
Secara keseluruhan, pasar kripto masih berupaya mencari arah setelah mengalami koreksi tajam sepanjang tahun lalu. Berbeda dengan aset digital, instrumen lain seperti emas dan saham justru menunjukkan kinerja positif dalam beberapa waktu terakhir.
Jacobsen menilai koreksi harga yang terjadi berpotensi saling memperkuat dan memicu tekanan jual lanjutan. Penurunan tajam yang terjadi pada Jumat lalu menjadi pengingat akan risiko pasar bagi investor, dengan peluang aksi jual tambahan dalam beberapa hari mendatang.

Harga Bitcoin Turun 1/3 dari Rekor Tertinggi
Tekanan di pasar kripto ini muncul setelah sebelumnya ada ekspektasi terhadap regulasi yang lebih ramah, terutama pada awal pemerintahan Presiden Donald Trump. Meski demikian, Bitcoin sebagai aset kripto utama telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya sejak mencetak rekor tertinggi pada Oktober 2025.





