30.5 C
Jakarta
Sabtu, 24 Oktober, 2020

Hati-Hati Dengan Praktik Fintech Ilegal, Tawarkan Pinjaman Lewat SMS

DuniaFintech.com – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan aktivitas penawaran dari fintech ilegal makin marak di tengah masyarakat. Mereka biasanya menyasar individu melalui short message system (SMS) atau pesan singkat.

Ketua Umum AFPI, Adrian Gunadi mengatakan tawaran pinjaman online melalui SMS ini kian marak di saat pandemi COVID-19. Ia memastikan bahwa tawaran itu dari pelaku fintech ilegal yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ia mengungkapkan, jenis tawaran fintech ilegal ini dengan iming-iming yang menggiurkan yang akhirnya justru akan merugikan masyarakat. Pasalnya mereka mengenakan bunga ekstra tinggi serta jangka waktu pinjaman yang pendek bagi peminjamnya. Selain itu, para oknum ini juga biasa meminta akses terhadap semua data kontak di ponsel peminjamnya. Menurutnya, hal ini sangat berbahaya karena data tersebut bisa disebarkan dan digunakan untuk mengintimidasi saat penagihan. Sehingga ia mengimbau agar masyarakat waspada dan jangan mudah tergiur dengan tawaran tersebut.

Adrian menambahkan, “pelaku fintech ilegal mengincar masyarakat yang saat ini kesulitan ekonomi dan membutuhkan uang akibat pandemi untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif.”

Baca Juga:

Sebagai informasi, fintech peer-to-peer (P2P) lending yang sudah terdaftar di OJK dilarang untuk menawarkan produk atau promosi melalui pesan singkat SMS. Hal ini diatur dalam Peraturan OJK nomor 07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Dalam Pasal 19 disebutkan, Pelaku Usaha Jasa Keuangan dilarang melakukan penawaran produk dan/atau layanan kepada Konsumen dan/atau masyarakat melalui sarana komunikasi pribadi yang bersifat personal (e-mail, short message system, dan voicemail) tanpa persetujuan konsumen.

Adrian menjelaskan, setiap penyelenggara fintech lending anggota AFPI dalam setiap penawaran atau promosi, wajib mencantumkan atau menyebutkan nama dan logo penyelenggara serta pernyataan terdaftar di OJK. Hal ini diatur dalam Pasal 35 Peraturan OJK No.77/2016. Bahkan dalam pasal 48 disebutkan penyelenggara fintech lending wajib terdaftar sebagai anggota asosiasi yang telah ditunjuk oleh OJK, yakni AFPI.

“Selain itu dalam proses penyaluran pinjaman, fintech lending terdaftar OJK juga didukung oleh asuransi pinjaman serta menggunakan system credit scoring yang sudah teruji, seperti Pefindo, untuk menganalisis dan verifikasi pinjaman,” pungkasnya.

(DuniaFintech/Drean M. Ikhsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

UMKM Bisa Ajukan Pinjaman dengan Bunga Rendah di Fintech Ini, Di Cek Yuk!

Duniafintech.com - Pinjaman dengan bunga rendah untuk Modal Usaha ditawarkan Fintech P2P Lending untuk pengusaha kecil yang menghadapi kesulitan modal dan tidak...

Mau Beli Mobil Tanpa Keuangan Terganggu? Ikuti Cara Ini

DuniaFintech.com - Beberapa orang mungkin berpikir, bahwa membeli mobil dapat membantu mengurangi biaya transportasi. Namun ternyata belum tentu loh, bisa saja justru...

Pilihan Pekerjaan Online Tanpa Menggunakan Modal dengan Penghasilan Fantastis

Duniafintech.com - Ketika penghasilan tetap masih tidak bisa mencukup kebutuhan utama, tentu kerja sampingan adalah solusinya. Tetapi, Anda pasti lebih memilih pekerjaan...

Harga Emas Digital per Jumat 23 Oktober 2020 Masih Murah!

DuniaFintech.com - Harga emas di layanan digital per Jumat 23 Oktober terpantau masih berada di angka yang rendah. Jika melihat dari layanan...

Pembiayaan 30 Miliar untuk Pembudidaya Ikan di Indonesia, Kolaborasi P2P Lending dan Agritech

DuniaFintech.com – Pionir marketplace lending, Investree, menandatangani perjanjian kerja  sama dengan perusahaan rintisan agriculture technology (agritech), eFishery, untuk mendistribusikan pembiayaan 30 miliar...
LANGUAGE