24.6 C
Jakarta
Sabtu, 10 Januari, 2026

Investasi di Obligasi, Yuk Ketahui Keuntungan dan Risikonya

JAKARTA, duniafintech.com – Investasi di obligasi kerap kali dianggap sebagai pilihan yang lebih aman dan stabil dibandingkan dengan investasi di pasar saham, terutama untuk investor yang mencari pendapatan tetap dan lebih rendah risikonya. 

Meski demikian, tetap penting untuk memahami karakteristik dan risiko yang terkait dengan investasi ini sebelum membuat keputusan investasi.

Nah, untuk lebih memahami tentang apa itu investasi di obligasi, simak ulasannya berikut ini.

Sekilas tentang Investasi di Obligasi 

Investasi di obligasi adalah cara bagi individu atau lembaga untuk meminjamkan uang kepada penerbit obligasi, yang biasanya adalah perusahaan, pemerintah, atau lembaga keuangan. 

Baca juga: Perbedaan Saham dan Reksadana: Jenis Investasi dan Produknya

ISFF 2023 INDODAX

Dalam investasi obligasi, investor membeli obligasi dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari pembayaran bunga tetap yang ditetapkan dalam obligasi tersebut. 

Obligasi adalah instrumen keuangan yang bersifat utang, di mana penerbit obligasi berjanji untuk membayar kembali pokok obligasi pada tanggal jatuh tempo, sambil membayar bunga kepada pemegang obligasi pada periode yang telah ditentukan sebelumnya.

Keuntungan Investasi di Obligasi

Investasi di obligasi menawarkan sejumlah keuntungan yang dapat menarik bagi berbagai jenis investor. Berikut adalah beberapa keuntungan utama dari investasi di obligasi:

1. Pendapatan Tetap

Bunga Tetap: Obligasi membayar bunga dengan tingkat tetap kepada pemegangnya. Ini memberikan investor pendapatan tetap yang dapat diandalkan selama umur obligasi.

2. Pengembalian yang Terjamin

Jangka Waktu dan Nilai Nominal: Obligasi memiliki tanggal jatuh tempo dan nilai nominal yang terjamin. Investor tahu kapan mereka akan menerima kembali pokok investasi mereka.

3. Kepastian Pendapatan

  • Obligasi Pemerintah: Obligasi pemerintah sering dianggap sebagai investasi yang sangat aman karena pemerintah biasanya dianggap mampu membayar kembali utangnya.
  • Obligasi Korporat Berkualitas Tinggi: Obligasi dari perusahaan dengan peringkat kredit tinggi juga menawarkan kepastian pembayaran yang tinggi.
  1. Diversifikasi Portofolio

Stabilitas dalam Portofolio: Obligasi dapat memberikan stabilitas dalam portofolio investasi, terutama jika dimiliki bersamaan dengan saham dan aset berisiko tinggi lainnya.

  1. Perlindungan dari Volatilitas Pasar

Stabilitas Nilai: Obligasi biasanya kurang volatil dibandingkan dengan saham, yang berarti nilai investasi mereka tidak akan mengalami fluktuasi yang signifikan karena perubahan pasar.

  1. Manfaat Pajak

Pembebasan Pajak: Beberapa jenis obligasi, seperti obligasi pemerintah, dapat membebaskan pemegangnya dari pajak atas bunga yang diterima.

  1. Pilihan Diversifikasi Penghasilan

Obligasi dengan Pendapatan Variabel: Beberapa obligasi membayar bunga berdasarkan indeks atau suku bunga pasar, memberikan peluang bagi investor untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan suku bunga.

  1. Kepercayaan Investor

Kepercayaan kepada Penerbit: Investasi di obligasi menunjukkan kepercayaan kepada penerbit obligasi, baik itu pemerintah atau perusahaan, dan dapat memperkuat hubungan antara investor dan penerbit.

Risiko Investasi di Obligasi

Investasi di obligasi, meskipun dianggap sebagai opsi yang lebih stabil dibandingkan dengan saham, masih melibatkan risiko tertentu. Beberapa risiko yang perlu dipertimbangkan oleh investor obligasi meliputi:

  1. Risiko Kredit
  • Default Risks: Penerbit obligasi mungkin gagal membayar bunga atau mengembalikan pokok pada tanggal jatuh tempo. Ini terutama merupakan risiko dalam obligasi korporat dan obligasi dari entitas dengan peringkat kredit rendah.
  • Downgrade Risks: Jika peringkat kredit penerbit obligasi turun, nilai pasar obligasi bisa turun, dan investor mungkin mengalami kerugian jika mereka harus menjual obligasi sebelum jatuh tempo.

Baca juga: Rekomendasi Saham Hari Ini: IHSG Berpeluang Menguat, Simak Saham ADRO hingga INCO

Investasi di Obligasi

  1. Risiko Suku Bunga
  • Interest Rate Risks: Harga obligasi bisa berfluktuasi sebaliknya dengan perubahan suku bunga. Jika suku bunga naik, harga obligasi yang ada turun, yang dapat menyebabkan kerugian jika investor harus menjual obligasi sebelum jatuh tempo.
  • Reinvestment Risks: Ketika obligasi mencapai jatuh tempo dan investor memperoleh kembali pokok, mereka mungkin tidak dapat menginvestasikan kembali dana mereka pada tingkat bunga yang sama dengan obligasi yang telah jatuh tempo.
  1. Risiko Inflasi

Purchasing Power Risks: Jika tingkat inflasi melebihi tingkat bunga obligasi, daya beli pendapatan yang diterima dari obligasi tersebut dapat berkurang dalam nilai riil, mengurangi keuntungan yang diperoleh oleh investor.

  1. Risiko Pasar

Market Risks: Perubahan kondisi pasar keuangan, sentimen pasar, atau ketidakstabilan ekonomi dapat mempengaruhi harga obligasi di pasar sekunder.

  1. Risiko Likuiditas

Liquidity Risks: Beberapa obligasi mungkin memiliki tingkat likuiditas yang rendah, yang berarti mereka sulit dijual di pasar sekunder tanpa menurunkan harga jual.

  1. Risiko Nilai Mata Uang

Currency Risks: Jika obligasi dikeluarkan dalam mata uang asing, fluktuasi nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi nilai investasi bagi investor yang berada di negara dengan mata uang berbeda.

  1. Risiko Pengelolaan

Management Risks: Kinerja perusahaan atau entitas penerbit obligasi juga dapat mempengaruhi nilai obligasi. Keputusan manajemen dan kebijakan perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk membayar bunga dan mengembalikan pokok.

  1. Risiko Geopolitik

Geopolitical Risks: Konflik politik atau geografis, perubahan kebijakan pemerintah, atau ketidakstabilan politik dapat mempengaruhi nilai dan keamanan investasi obligasi.

Baca juga: Saham Top Gainer Hari Ini: Ini Cara Mengidentifikasinya

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU