JPMorgan memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi menembus level US$266.000 atau sekitar Rp4,49 miliar dalam jangka panjang. Proyeksi tersebut didasarkan pada pandangan bahwa Bitcoin kian menarik dibandingkan emas, meskipun dalam jangka pendek pasar kripto masih berada di bawah tekanan akibat melemahnya sentimen investor.
Dalam laporan yang dirilis pada Rabu, analis JPMorgan yang dipimpin Managing Director Nikolaos Panigirtzoglou menilai pasar kripto kembali tertekan sepanjang sepekan terakhir. Pelemahan aset berisiko global, khususnya saham teknologi, serta koreksi tajam pada harga emas dan perak turut memperburuk kinerja harga Bitcoin.
Mengutip The Block, tekanan sentimen juga diperparah oleh insiden peretasan senilai US$29 juta pada platform DeFi berbasis Solana, Step Finance. Kejadian tersebut dinilai semakin menggerus kepercayaan investor terhadap sektor kripto secara keseluruhan.

Koreksi terbaru membuat harga Bitcoin turun di bawah estimasi biaya produksinya, yang selama ini kerap dipandang sebagai “soft price floor”. JPMorgan memperkirakan biaya produksi Bitcoin saat ini berada di kisaran US$87.000. Jika harga Bitcoin bertahan di bawah level tersebut dalam periode yang berkepanjangan, penambang dengan struktur biaya tinggi berpotensi keluar dari pasar, yang pada akhirnya dapat menekan biaya produksi ke level yang lebih rendah.
Dalam perdagangan terakhir, Bitcoin tercatat melanjutkan pelemahan dengan penurunan hampir 10% dalam 24 jam. Saat ini, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$65.600 berdasarkan data The Block.
Meski tertekan dalam jangka pendek, JPMorgan menilai prospek jangka panjang harga Bitcoin masih solid seiring pergeseran peran Bitcoin relatif terhadap emas. Kinerja emas yang jauh mengungguli Bitcoin sejak Oktober lalu, ditambah lonjakan volatilitas emas, justru membuat Bitcoin dinilai semakin menarik dalam perspektif jangka panjang.
Rasio volatilitas Bitcoin terhadap emas kini turun ke sekitar 1,5, atau terendah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memperkuat daya tarik harga Bitcoin dari sisi penyesuaian risiko dan volatilitas.
Berdasarkan kerangka analisis tersebut, kapitalisasi pasar Bitcoin perlu meningkat hingga setara dengan harga Bitcoin di level US$266.000 untuk menyamai nilai investasi sektor swasta di emas. Investasi emas swasta global diperkirakan mencapai sekitar US$8 triliun, tidak termasuk kepemilikan bank sentral.
Meski demikian, analis JPMorgan menegaskan target tersebut tidak realistis untuk dicapai dalam waktu dekat. Proyeksi tersebut mencerminkan potensi jangka panjang harga Bitcoin apabila sentimen negatif berbalik dan aset ini kembali dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko ekstrem.
Sebelumnya, pada November lalu, JPMorgan sempat memperkirakan harga Bitcoin berpeluang naik hingga sekitar US$170.000 dalam rentang 6–12 bulan. Target terbaru yang lebih tinggi mencerminkan horizon jangka panjang dan sejalan dengan kenaikan proyeksi harga emas ke kisaran US$8.000–US$8.500.
Baca juga :
Bitcoin Anjlok ke US$60.000, INDODAX: Aksi Jual Institusi dan Likuidasi Besar Jadi Biang Keroknya
Di tengah tekanan harga, aktivitas likuidasi di pasar derivatif kripto relatif terbatas dibandingkan kuartal sebelumnya. Proses deleveraging di kontrak perpetual juga dinilai tidak separah gelombang likuidasi besar yang terjadi pada Oktober lalu.
Likuidasi oleh investor institusi non-native di kontrak berjangka Bitcoin dan Ethereum di CME juga tercatat lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini mengindikasikan tekanan di pasar derivatif masih relatif terkendali.
Harga Bitcoin Turun Saat ETF Terus Mencatat Arus Keluar

Sementara itu, arus dana ETF mencerminkan sentimen negatif yang lebih luas. ETF spot Bitcoin dan Ethereum terus mencatat arus keluar, menandakan melemahnya minat baik dari investor institusi maupun ritel.
Sejak pengumuman MSCI pada 10 Oktober, ETF Ethereum mengalami arus keluar sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan ETF Bitcoin relatif terhadap aset kelolaan. Kondisi ini menyoroti kerentanan likuiditas altcoin, di mana arus dana keluar yang relatif kecil dapat berdampak signifikan terhadap harga.
Pasokan stablecoin juga tercatat menyusut dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan sikap kehati-hatian investor. Namun, JPMorgan menilai kontraksi ini lebih merupakan respons alami terhadap penurunan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan, bukan indikasi bahwa investor sepenuhnya meninggalkan pasar kripto.





