26.2 C
Jakarta
Jumat, 19 Agustus, 2022

Kritik Harga Pertamax Naik, Ekonom Sebut Pertamina sudah Untung Rp15,3 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com – Kritik atas kebijakan Pertamina kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) umum RON 92 atau Pertamax datang dari Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios), Bhima Yudhistira.

Dalam pandangannya, kebijakan ini mestinya tidak dilakukan oleh pemerintah karena Pertamina sendiri sudah untung besar saat menahan harga Pertamax sebesar Rp9 ribu di tengah turunnya harga minyak dunia pada tahun 2020 silam.

“Idealnya, kenaikan Pertamax masih bisa ditahan. Pada saat harga minyak turun di kisaran 20 dolar AS per barel pada 2020, harga Pertamax tidak diturunkan,” kata Bhima, dikutip pada Minggu (3/4).

Sebagaimana diketahui, kendati kenaikan Pertamax menjadi Rp12.500 per liter atau di bawah rencana awal, yakni mencapai Rp16 ribu, tetapi tetap saja kenaikan ini bakal memberatkan ekonomi masyarakat menengah.

Menurut Bhima lagi, kenaikan harga pertamax ini pun berpotensi membuat masyarakat beralih menggunakan bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi jenis pertalite. Lantas, dengan maraknya penggunaan pertalite, kebutuhan anggaran subsidi pun bakal ikut membengkak. Selisihnya itu meningkat pesat dari sebelumnya, ketika harga pertamax masih Rp9.000.

“Mereka (masyarakat, red) akan terpaksa turun kelas ke Pertalite. Migrasi ini bisa akibatkan gangguan pada pasokan Pertalite, yang berujung kelangkaan di SPBU,” sebut Bhima.

Di sisi lain, ia pun menilai bahwa meningkatnya konsumsi pertalite bakal berdampak terhadap kenaikan kebutuhan dana kompensasi. Pasalnya, pertalite kini telah menjadi BBM bersubsidi sehingga hal itu berpotensi menimbulkan masalah baru sebab saat ini tunggakan kompensasi pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) terus naik.

“Ini kan sama saja Pertamina mengeluh pertamax harus naik, tetapi nanti pindah keluhannya ke alokasi dana kompensasi pertalite kurang. Jadi, naik semua ujungnya,” tuturnya.

Padahal, kata Bhima lagi, dengan keuntungan besar yang pernah diperoleh Pertamina ketika harga minyak dunia turun, hal itu dapat menutup selisih harga kenaikan yang ditetapkan sehingga masyarakat kelas menengah tidak harus bermigrasi ke Pertalite.

“Pertamina bahkan tercatat membukukan untung sebesar Rp15,3 triliun pada periode yang sama (2020). Artinya, kompensasi masyarakat membayar Pertamax saat itu bisa digunakan untuk menahan selisih harga keekonomian dan harga jual Rp9 ribu per liter,” tutupnya.

 

 

Penulis: Kontributor/Boy Riza Utama

Editor: Rahmat Fitranto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Alasan Token ASIX tak Lolos Izin, Bappebti Beberkan Hal Ini

JAKARTA, duniafintech.com - Token ASIX milik pesohor tanah air, Anang Hermansyah tak lolos izin dari Badan Pengawas Bursa Berjangka Komoditi (Bappebti). Hal ini lantas...

Bisa Dicoba! Inilah Pilihan Platform untuk Mining Ethereum

JAKARTA, duniafintech.com - Platform untuk mining Ethereum (ETH) penting diketahui, guna mendukung proses mining atau penambangan tersebut. Selain trading, cara mudah untuk mendapatkan kripto jenis...

Penambahan Modal BUMN, Erick: Jangan Dibilang Utang Lagi 

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan penjelasan gamblang mengenai rencana penambahan modal sejumlah BUMN  seperti PT Bank Tabungan...

Cara Top Up OVO lewat ATM Permata hingga Internet Banking

JAKARTA, duniafintech.com – Cara top up OVO lewat ATM Permata dan beberapa metode lainnya berikut ini perlu disimak oleh pengguna layanan ini. Kalau kamu sering...

Cara Cek Tagihan Kartu Kredit BCA dengan 6 Metode Termudah

JAKARTA, duniafintech.com – Cara cek tagihan kartu kredit BCA dengan beberapa metode termudah berikut ini tentunya penting untuk diketahui. Di samping kartu debit, Bank BCA...
LANGUAGE