26 C
Jakarta
Kamis, 5 Agustus, 2021

Memahami Lebih Jauh tentang Aset Kripto Nano, Apa Itu?

Bagi yang belum tahu apa itu Nano, Nano adalah aset kripto yang dirancang untuk menjadi fasilitas pembayaran instan yang praktis, aman, tanpa pungutan biaya. Aset kripto ini bahkan dapat mengatasi keterbatasan dari pendahulunya, yaitu infrastruktur keuangan konvensional dan banyak aset kripto lainnya.

Kehadiran Nano bertujuan untuk menggantikan mata uang fiat dan meningkatkan awareness masyarakat atas aset kripto yang ada. Sehingga, kripto lebih mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, nano juga menyasar hal yang serupa dengan Bitcoin, hanya saja perbedaannya terletak pada cara melakukan transaksi dan tugas lainnya dari blockchain bekerja lebih cepat dan lebih fleksibel.

Token Nano menggunakan kombinasi algoritma dari Proof of Work dan Proof of Stake. Kombinasi dari kedua algoritma tersebut punya istilah yang lebih dikenal sebagai Delegated Proof of Stake atau DPoS. Maka, jika terjadi masalah dengan transaksi pada sistem Nano, aka nada delegasi yang memilih dapat transaksi secara sah dan punya validitas.

Bagaimana sih sejarah terciptanya Nano ini?

Sejarah Aset Kripto Nano

Nano dikembangkan pada tahun 2014 dengan nama RaiBlocks dengan ticker XRB yang meluncur pada tahun 2015 lewat public faucet. Raiblocks atau XRB ini kemudian berganti nama menjadi Nano pada Januari 2018 lalu. Pemilihan nama baru ini bukan tanpa alasan. Selain nama RaiBlocks dianggap tidak begitu menarik perhatian, Nano dipilih untuk mewakili kecepatan serta efisiensi yang ditawarkan proyek kepada pengguna pada nantinya.

Nah, sejak proyek Nano ini dimulai, developer punya satu tujuan utama, yaitu membuat transaksi peer to peer aset kripto dapat lebih terukur, sebab saat ini banyak aset kripto berbasis blockchain mengidentifikasi skalabilitas sebagai masalah yang kerap dihadapi. Nano yang punya skalabilitas yang tinggi tentunya akan menghasilkan biaya transaksi yang lebih rendah dan menciptakan transaksi yang lebih cepat. Sehingga dapat menutup kerugian dari pendahulunya yang memiliki skalabilitas rendah.

Cara Kerja Aset Kripto Nano

Jika aset kripto pada umumnya mengandalkan mining, aset kripto Nano menggunakan ORV atau Open Representative Voting untuk mencapai suatu consensus. Transaksi jaringan menggunakan node akan akan dikonfirmasi lewat voting. Pemilik akun pada tiap perwakilan akan memberi suara, yang dibagi berdasarkan berapa jumlah Nano yang dimiliki setiap akun. Lalu consensus dicapai tiap perwakilan saat tiap akun memberi suara pada validitas tiap blok.

Hal ini membuat semakin banyak token yang dimiliki pengguna, semakin besar pula kekuatan pengguna untuk memberikan suara kepada tiap kelompok perwakilan. Metode ini untuk membantu pengguna yang punya Nano untuk memilih representative yang diinginkan atas namanya tanpa melepas kendali atas koinnya.

Pengguna yang punya token Nano akan punya andil dalam suatu keputusan, misalnya siapa yang menciptakan consensus. Tim developer Nano, kabarnya, menganggap cara ini dapat menjadi pilihan yang baik daripada melakukan mining. Proses memberikan suara tersebut juga terbilang lebih hemat dan memudahkan token beroperasi tanpa harus dibebankan suatu biaya transaksi.

Jumlah Token Nano yang Beredar

Nano memiliki token maksimum yang dapat dipasarkan. Saat ini, jumlah maksimum tersebut ditetapkan sebesar 133.248.290 Nano. Sebelumnya, pasokan maksimum Nano jauh lebih tinggi dari itu, hanya saja token yang tersisa di atas ambang batasnya, yaitu 133 juta, akan dibakar secara permanen. Artinya, sekitar 39 persen dari pasokan genesis asli telah terdistribusikan.

Aset kripto Nano menggunakan ledger yang dikenal dengan Block Lattice. Tim developer yakin Block Lattice dapat menawarkan keamanan lebih baik dan memungkinkan sejumlah besar transaksi terjadi secara bersamaan. Ledger ini menyediakan blockchainnya pada tiap akun di jaringan, dan pemilik akun adalah satu-satunya orang yang dapat menambah block ke chain mereka.

Hal ini berbeda dengan blockchain lain, chain tunggal yang kerap menjadi perebutan bagi para penambang secara konstan satu sama lain, dan mencoba menambahkan block berikutnya untuk menerima hadiah atau reward.

Penulis : Kontributor

Editor : Gemal A.N. Panggabean

Cek di sini untuk mengetahui daftar market place aset kripto resmi di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

DIREKTORI LIST

ARTIKEL TERBARU

Apa itu Blockchain? Ini Penjelasannya

Salah satu sistem komputerisasi dan internet yang berkembang adalah blockchain. Apa itu blockchain?  Sebagian besar dunia teknologi cryptocurrency seperti Bitcoin mengandalkan bentuk database dengan keunggulan mampu...

Situs Penghasil Bitcoin Gratis 2020 Terbukti Tanpa PHP

DuniaFintech.com - Terdapat berbagai macam cara untuk mendapatkan bitcoin bahkan tanpa deposit sekalipun. Menarik bukan? Berikut beberapa situs penghasil bitcoin gratis 2020 terpercaya dan...

Mengenal Dana, Dompet Digital Indonesia

Tidak mau kalah dengan para pendahulunya baik itu dari dalam ataupun luar negeri, ada startup fintech terbaru di tanah air yang sudah diperkenalkan kepada...

Mengenal Xendit : Payment Gateway dengan Beberapa Keunggulan

Xendit, adalah salah satu starup payment gateway yang berizin di Indonesia. Xndit payment gateway yang memiliki beberapa produk unggulan yang membantu bisnis di Asia...

Harga Bitcoin Hari Ini : BTC Menurun, Ethereum Sambut London Hardfork

Harga Bitcoin hari ini sudah memasuki penurunan, setelah rally lebih dari satu pekan dengan pemuncak Rp600 juta. Namun, berbeda dengan Ethereum yang terus menguat...
LANGUAGE