28.2 C
Jakarta
Minggu, 21 Juli, 2024

Menteri Teten Ajak 90% Peternak Mandiri Bentuk Korporasi Agar Naik Kelas

JAKARTA, duniafintech.com – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan, industri peternakan di dalam negeri memiliki berbagai tantangan dalam mengembangkan bisnisnya supaya bisa naik kelas. 

Salah satu penyebabnya karena sebanyak 90% peternak merupakan pelaku peternakan mandiri atau perorangan sehingga sulit untuk menyaingi korporasi besar yang menguasai pangsa pasar.

Teten mengaku cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Pasalnya, sektor ini berkontribusi sebesar 16,04% terhadap total produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada kuartal II-2021. Jumlah tersebut meningkat 7,07% dibandingkan tahun sebelumnya(year on year/yoy). 

Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 mencatat, bahwa dari 27,6 juta pelaku usaha di sektor pangan, 48,9% atau 13,5 juta pelaku usaha bergerak di sektor peternakan. 

Di mana dalam sektor perternakan terdiri dari tiga komoditas utama yaitu 49,3% ayam atau 6,7 juta pelaku usaha, 34,2% sapi potong atau 4,6 juta pelaku usaha, dan 22,5% kambing atau 3 juta pelaku usaha.  

“Tapi tantangannya dewasa ini, masih banyak skala usahanya masih kecil-kecil dan perorangan. Sekitar 90% dari pelaku usaha perunggasan di Tanah Air merupakan peternak unggas mandiri atau perorangan, sehingga sulit menghadapi persaingan dengan konglomerasi peternakan,” katanya dalam konferensi pers, Senin (7/2).

Dia bilang, untuk dapat meningkatkan skala bisnis pelaku peternakan nasional pemerintah terus menggenjot agar peternak mandiri segera membangun korporatisasi peternakan. 

Caranya dengan membentuk kelompok maupun koperasi. Setelah itu, nantinya dapat dibentuk model bisnis yang terintegrasi atau integrated farm pada sektor peternakan.   

“Ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Adapun integrated farming system merupakan sistem pertanian dengan upaya memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan, pangan, hortikultura, hewan ternak dan perikanan, untuk mendapatkan agroekosistem yang mendukung produksi pertanian (stabilitas habitat). Sehingga dapat berdampak pada peningkatan ekonomi dan pelestarian sumber daya alam. 

“Ini semacam menciptakan sirkulasi ekonomi. Salah satu contohnya yang ada di Mas Ihsan Farm ini dalam 1 hektare (ha) saja bisa menghasilkan omzet hingga Rp12 miliar per tahun. Kalau model seperti ini diadopsi, bukan hanya petaninya yang sejahtera, tetapi juga menjaga ketahanan pangan kita,” ucapnya.

Baca Juga:

Sementara itu, Founder dan Owner Mas Ihsan Farm, Sri Darmono Susilo menceritakan, usaha pertanian dan pertanian yang dimilikinya berdiri sejak 1993. Saat ini hasil pertanian dan peternakan yang menerapkan model integrated farming system ini mampu menghasilkan omzet Rp8 miliar hingga Rp11 miliar per bulan. 

Darmono mengelola total lahan berukuran 20ha yang menghasilkan aneka produk. Mulai dari pangan, energi (biogas), pakan ternak, hingga pupuk organik (asam humat).

“Kalau cuma dari seekor sapi atau domba, hanya menghasilkan pendapatan tak lebih dari 30% saja. Tapi, jika dengan peternakan terintegrasi dengan sistem closed-loop akan menghasilkan banyak produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi,” jelas Alumnus Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. 

Dari penuturan Darmono, setiap seekor sapi, 30% hanya menghasilkan energi dan daging. Sedangkan 70% lainnya menghasilkan biogas, pakan, dan pupuk kompos. Sedangkan komoditas yang paling mahal adalah menghasilkan bibit atau sel sapi melalui sperma dan sel telur. 

“Namun yang terpenting dalam pengelolaan model pertanian integrated farm ini letaknya pada kemampuan dari sumber daya manusia (SDM) menghubungkan antar elemen yang ada. Sehingga diharapkan memang benar-benar dipelajari secara menyeluruh dan mendalam,” tuturnya.

Penulis: Nanda Aria

Editor: Anju Mahendra

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU