26.8 C
Jakarta
Selasa, 16 Agustus, 2022

Tenang Saja, Metaverse Akan Tetap Bertahan saat Crypto Crash

JAKARTA, duniafintech.com – Crypto crash yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan keraguan bagi mereka yang berminat berinvestasi dalam pengembangan teknologi blockchain. Tapi tak perlu khawatir, itu merupakan fenomena yang lazim terjadi. 

Selain memanfaatkan naik turun nilai tukar token terhadap mata uang fiat, di dunia blockchain juga kini muncul peluang untuk berinvestasi di berbagai project masa depan, termasuk metaverse. 

“Memang bagi project yang tidak berhati-hati mengelola keuangannya menjadi ancaman besar. Syukurnya sejak awal Realitychain sudah mengantipasi dengan mendiversifikasi keuangan, sebagian harus dalam bentuk stable coin,” jelas Pandu Sastrowardoyo, chief blockchain officer di Realitychain, dikutip dari Investor.id.

Namun, menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse. 

“Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan,” terangnya. 

Pengamat dunia metaverse, Tuhu Nugraha, menjelaskan fenomena ini menjadi dorongan bagi para pelaku tidak lagi sekedar menciptakan dan berjual beli token. 

“Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi,” jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

“Metaverse sendiri jalannya masih panjang, konsumennya masih belum terlalu siap. Tapi konsep ini sangat bisa diarahkan untuk kepentingan industri yang sudah mapan, misalnya untuk riset dan eksperimen sebelum di-launch ke pasar,” papar dia.

Kelebihan metaverse yang memungkinkan kolaborasi skala dunia, membuatnya ideal untuk kepentingan simulasi dunia nyata. 

Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

“Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh Pandu.

Menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse. 

“Fokus kita adalah sustainable business, dengan membangun value dan memenuhi kebutuhan user,” tambah Adam Ardisasmita CEO Realitychain. Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan yang lain, Realitychain tidak sekedar membuat metaverse. Lebih jauh, mereka memfasilitasi siapapun untuk membuat metaverse sendiri dengan menyediakan enginenya. 

Baca juga: Melek Teknologi, NFT Jadi Metode Lain untuk Populerkan Karya Musisi Tanah Air

“Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan,” terangnya. 

“Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi,” jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

Baca juga: Masyarakat Shanghai Gunakan NFT Buat Rekam Masa Lockdown Covid-19

Sementara itu, Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

“Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh dia.

Baca jugaMenuju Go Global, UMKM Sektor Kuliner dan Teknologi Jadi Produk Unggulan 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Berita Fintech Indonesia: Nama Fintech Legal Dicatut, AFPI Ancam Tempuh Jalur Hukum

JAKARTA, duniafintech.com – Berita fintech Indonesia terbaru kali ini datang dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Untuk diketahui, AFPI melayangkan ancaman terhadap pihak-pihak yang...

Berita Bitcoin Hari Ini: Koreksi, BTC Dibanderol Rp 355 Juta

JAKARTA, duniafintech.com - Berita Bitcoin hari ini masih seputar pergerakan harga kripto yang mengalami koreksi.  Saat ini, aset kripto dengan kapitalisasi pasar tersebar Bitcoin atau...

Makin Dilirik, Sandiaga Uno Ajak Jelajahi Keindahan Indonesia Lewat Metaverse

JAKARTA, duniafintech.com - Teknologi Metaverse kini semakin dilirik, Sandiaga Uno mengajak untuk menjelajahi keindahan Indonesia melalui Metaverse.  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Menparekraf ini...

OneAset, Aplikasi Investasi One Stop Solution Favorit Masa Kini

JAKARTA, duniafintech.com - Saat ini investasi sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat, salah satunya karena munculnya berbagai aplikasi yang mendukung, yakni OneAset adalah suatu...

Asuransi Kesehatan Syariah untuk Keluarga, Inilah Produknya

JAKARTA, duniafintech.com – Asuransi kesehatan syariah untuk keluarga penting dimiliki sebagai upaya pertanggungan atas segala risiko yang akan terjadi. Tentu saja, setiap orang ingin memiliki...
LANGUAGE