25 C
Jakarta
Sabtu, 28 Januari, 2023

PELAKU KEJAHATAN TETAP BISA DITANGKAP DENGAN CATATAN TRANSAKSI BITCOIN

duniafintech.com –  Mata uang virtual nomor satu di dunia ini memang tidak akan pernah terlepas dari kontroversi. Meskipun keberadaannya mulai diakui secara luas mampu membantu berbagai sektor, ada pihak-pihak tertentu yang masih merasa sangsi akan keamanan Bitcoin. Banyak yang menyebut bahwa mata uang digital ini bisa menjadi sumber kejahatan cyber berbahaya yang membuat pelaku tidak terlacak.

Kini, Bitcoin, mata uang kripto yang paling dicintai maniak komputer dan penjahat dunia maya tidak lagi kebal seperti 4 tahun yang lalu. Dulu, banyak orang yang melakukan jual beli di internet dengan menggunakan Bitcoin tanpa bisa terlacak. Seorang pengguna internet bahkan pernah menulis sebuah komentar di forum Bitcoin pada tahun 2013 lalu, “Bahkan dengan bantuan doa pun, FBI tidak akan mampu menemukan siapa dan kepada siapa Bitcoin itu ditransaksikan.”

FBI dan penegak hukum lain lantas mengambil langkah besar. Ross Ulbricht, warga negara Amerika Serikat berusia 31 tahun yang pernah menciptakan Jalur Sutera untuk perdagangan obat-obatan terlarang melalui Bitcoin senilai lebih dari 1 miliar dolar Amerika dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada bulan Januari 2015 lalu.

Masih ada Tomáš Jiříkovský, seorang pria berusia 28 tahun yang ditangkap setelah melakukan pencucian uang melalui Bitcoin curian senilai 40 juta dolar Amerika. Di bulan September, 2 pelaku kejahatan lain masing-masing Trendon Shavers (33 tahun, melarikan uang senilai 150 juta dolar yang merupakan kasus penipuan Bitcoin pertama) dan Mark Karpelès, warga Perancis berumur 30 tahun yang ditangkap dan dituduh melakukan kecurangan dan penggelapan senilai 390 juta dolar atas pertukaran mata uang Bitcoin dari platform yang sekarang ditutup, Mt. Gox.

Mayoritas pengguna Bitcoin adalah orang-orang yang taat hukum yang termotivasi oleh masalah privasi atau hanya ingin  memenuhi rasa ingin tahu. Tapi anonimitas Bitcoin juga merupakan alat yang ampuh untuk membantu kejahatan: uang virtual bisa menyimpan rahasia transaksi yang sifatnya sementara. Padahal, sebenarnya paradoks cryptocurrency membuat semua data yang terkait menciptakan jejak forensik yang tiba-tiba dapat membuat seluruh informasi keuangan Anda menjadi informasi publik yang bisa diakses oleh siapa saja.

Peneliti akademis membantu menciptakan sistem enkripsi dan perangkat aman bagi Bitcoin yang memungkinkan mereka membantu aparat keamanan.

“Para pakar ini beroperasi di bidang baru dalam dunia kolaborasi antara ilmu komputer, ekonomi, dan forensik,” kata Sarah Meiklejohn, seorang ilmuwan komputer di University College London yang memimpin sebuah lokakarya tahunan tentang kriptografi keuangan di Barbados tahun lalu.

Blockchain Mencatat Semua Transaksi Bitcoin dan Bisa Dilacak Sesuai Kebutuhan

Seperti kita ketahui bersama, Bitcoin menggunakan teknologi Blockchain yang menyimpan data semua Bitcoin yang ada di dunia dalam satu tempat. Pada Januari tahun lalu, 10 pria yang melakukan jual beli obat-obatan ilegal berhasil ditangkap oleh FBI dan Interpol di Belanda. Bagaimana bisa? Tentu saja berkat teknologi Blockchain yang menaungi Bitcoin.

Kesepuluh tersangka diketahui mencairkan uang tunai di bank dengan mengkonversi Bitcoin milik mereka lewat layanan komersial dan mengambil uang senilai jutaan Euro itu melalui ATM. Interpol dan FBI lantas menyelidiki dari mana asal dana tersebut. Jejak transaksi Bitcoin inilah yang menjadi petunjuk bagi FBI dan Interpol menemukan salah satu jaringan perdagangan obat-obatan ilegal terbesar di internet.

Jika masalah privasi adalah sesuatu yang membuat orang-orang menghindari Bitcoin, mata uang ini tentu saja tidak akan mengalami kenaikan terus-menerus seperti sekarang ini. Namun buktinya, sampai sekarang permintaan terhadap Bitcoin tidak pernah surut. Saat artikel ini ditulis, Bitcoin sudah bernilai $110.099 (setara Rp 150 juta rupiah, menurut data dari Bitcoin Indonesia, Bitcoin.co.id). Dapat dikatakan, harga Bitcoin yang semakin tinggi dikarenakan permintaan terhadap Bitcoin yang kian meningkat, karena dalam Bitcoin berlaku hukum demand dan supply.

Orang-orang memang memerlukan privasi, tapi privasi itu tetaplah privasi yang bertanggungjawab. Selama Bitcoin yang Anda miliki tidak digunakan untuk sesuatu yang melanggar hukum, maka tidak ada yang perlu dicemaskan. Jika terjadi kejahatan cyber di sekitar Anda, teknologi Blockchain malah akan mempermudah pihak berwenang melakukan penyelidikan. Jadi, kata siapa Bitcoin itu adalah tempatnya penjahat internet bersembunyi?

Written by: Dita Safitri

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Beli Koin Shopee: Syarat hingga Manfaatnya bagi Customer & Seller

JAKARTA, duniafintech.com – Cara beli koin Shopee tentu akan sangat penting diketahui, khususnya oleh seller di platform e-commerce ini. Pasalnya, koin ini bisa digunakan untuk...

Normalisasi APBN, Pemerintah tidak Tanggung Biaya Pasien Covid-19

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa seluruh belanja APBN 2023 telah dinormalisasi atau normalisasi APBN. Artinya, seluruh belanja APBN...

Masa PPKM Dicabut, Pemerintah Rumuskan Kebijakan Pasca Pandemi

JAKARTA, duniafintech.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkendalinya laju kasus pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini telah mendorong perbaikan kondisi perekonomian nasional yang...

Apa Itu Crypto Winter dan Bagaimana Dampaknya terhadap Investor?

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu crypto winter? Istilah ini kian santer terdengar belakangan ini, utamanya di kalangan peminat kripto. Sebagai informasi, saat ini di dunia...

AFPI Salurkan Pendanaan Mencapai Rp495,51 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat sejak 2018 hingga November 2022, agregat penyaluran pendanaan mencapai Rp495,51 triliun yang disalurkan oleh...
LANGUAGE