Apa perbedaan Bitcoin dan altcoin? Kenali pengertian, fungsi, contoh, karakteristik, risiko, serta perbedaan BTC dan altcoin untuk pemula.
Bitcoin sering menjadi aset kripto pertama yang dikenal masyarakat. Namun, semakin jauh mengenal dunia cryptocurrency, pengguna akan menemukan ribuan aset digital lain seperti Ethereum, Solana, XRP, Cardano, Avalanche, Arbitrum, dan berbagai token lainnya.
Aset-aset tersebut sering disebut sebagai altcoin.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan Bitcoin dan altcoin?
Secara sederhana, Bitcoin merupakan aset kripto pertama yang dirancang sebagai uang digital terdesentralisasi, sedangkan altcoin adalah istilah umum untuk aset kripto selain Bitcoin.
Meski sama-sama menggunakan teknologi blockchain, setiap aset dapat mempunyai tujuan, teknologi, mekanisme konsensus, dan fungsi yang berbeda.
Apa Itu Bitcoin?
Bitcoin adalah aset kripto yang diperkenalkan melalui whitepaper berjudul Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System pada 2008 oleh Satoshi Nakamoto.
Jaringan Bitcoin mulai beroperasi pada Januari 2009.
Bitcoin dirancang agar pengguna dapat melakukan transaksi secara peer-to-peer tanpa membutuhkan lembaga keuangan sebagai perantara.
Salah satu karakteristik utama Bitcoin adalah jumlah pasokannya yang dibatasi hingga 21 juta BTC.
Karakteristik tersebut membuat Bitcoin sering dibahas sebagai aset digital dengan kelangkaan yang telah ditentukan oleh protokol.
Bitcoin menggunakan mekanisme konsensus Proof of Work (PoW). Transaksi jaringan diproses dan diamankan melalui aktivitas mining.
Apa Itu Altcoin?
Altcoin adalah istilah yang secara umum digunakan untuk menyebut cryptocurrency selain Bitcoin.
Istilah tersebut berasal dari gabungan kata alternative dan coin, yang mengacu pada alternatif terhadap Bitcoin.
Dengan demikian, Ethereum, Solana, XRP, Cardano, Avalanche, dan banyak aset kripto lainnya secara umum dapat disebut altcoin.
Namun, altcoin bukan berarti semuanya memiliki fungsi yang sama.
Ada yang digunakan untuk membayar biaya transaksi jaringan, menjadi token governance, mendukung aplikasi terdesentralisasi, menyediakan layanan tertentu, atau menjadi bagian dari ekosistem blockchain.
Karena itu, ketika seseorang membahas altcoin, sebenarnya ia sedang membicarakan kategori aset yang sangat luas.
Perbedaan Bitcoin dan Altcoin
Berikut beberapa perbedaan utama Bitcoin dan altcoin.
| Aspek | Bitcoin | Altcoin |
|---|---|---|
| Peluncuran | 2009 | Muncul setelah Bitcoin |
| Fungsi | Uang digital/aset kripto | Beragam sesuai proyek |
| Contoh | BTC | ETH, SOL, XRP, ARB, dll. |
| Teknologi | Blockchain Bitcoin | Beragam blockchain |
| Konsensus | Proof of Work | Beragam mekanisme |
| Pasokan | Maksimum 21 juta BTC | Berbeda-beda |
| Ekosistem | Relatif berfokus pada Bitcoin | Sangat beragam |
| Risiko | Tetap memiliki volatilitas | Berbeda-beda dan dapat sangat tinggi |
Perlu diperhatikan bahwa tabel tersebut merupakan gambaran umum. Altcoin bukan satu jenis teknologi tertentu, sehingga karakteristik satu altcoin dapat sangat berbeda dari altcoin lainnya.
Bitcoin vs Altcoin dari Segi Fungsi
Salah satu perbedaan paling penting adalah fungsi.
Bitcoin pada awalnya dirancang sebagai sistem uang elektronik peer-to-peer. Dalam perkembangannya, Bitcoin juga banyak digunakan sebagai aset digital untuk menyimpan atau memindahkan nilai.
Sementara itu, altcoin dapat memiliki fungsi yang jauh lebih beragam.
Contohnya adalah Ethereum. Selain memiliki ETH sebagai aset kripto, jaringan Ethereum digunakan untuk menjalankan smart contract dan berbagai aplikasi berbasis blockchain.
Ada pula blockchain yang dirancang untuk transaksi cepat, decentralized finance (DeFi), gaming, tokenisasi aset, maupun berbagai aplikasi lainnya.
Jadi, Bitcoin lebih mudah dikenali dari fungsi utama jaringannya, sedangkan altcoin memiliki use case yang sangat beragam.
Perbedaan Teknologi Bitcoin dan Altcoin
Bitcoin menggunakan mekanisme Proof of Work.
Dalam sistem tersebut, miner menggunakan perangkat komputasi untuk membantu mengamankan jaringan dan memproses blok transaksi.
Sementara itu, sejumlah blockchain altcoin menggunakan mekanisme berbeda.
Ethereum, misalnya, menggunakan Proof of Stake (PoS) setelah melakukan perubahan mekanisme konsensus pada 2022.
Blockchain lainnya dapat menggunakan variasi mekanisme konsensus yang berbeda.
Artinya, tidak semua cryptocurrency bekerja dengan cara yang sama seperti Bitcoin.
Perbedaan Jumlah Pasokan
Bitcoin memiliki batas pasokan maksimum sebesar 21 juta BTC.
Sementara itu, aturan pasokan altcoin sangat bervariasi.
Ada cryptocurrency dengan pasokan maksimum tertentu, ada yang memiliki pasokan sangat besar, dan ada pula yang memiliki mekanisme penerbitan token berbeda.
Perbedaan ini penting karena jumlah token bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga sebuah cryptocurrency.
Misalnya, harga satu unit cryptocurrency yang murah tidak otomatis berarti aset tersebut lebih murah secara valuasi. Untuk melihat ukuran sebuah aset, investor juga perlu memahami market capitalization, yaitu harga aset dikalikan jumlah token yang beredar.
Baca juga :
- Apakah Bitcoin Bisa Dibeli dengan Uang Rp50 Ribu? Ini Caranya
- Cara Kirim Bitcoin dari Indodax ke Wallet Lain dengan Aman
- Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar, INDODAX Nilai Pasar Tetap Perlu Cermati Faktor Makro
Apakah Altcoin Lebih Berisiko daripada Bitcoin?
Risiko setiap aset kripto berbeda.
Bitcoin juga memiliki volatilitas tinggi dan dapat mengalami penurunan harga yang besar.
Namun, banyak altcoin memiliki karakteristik tambahan seperti ketergantungan terhadap perkembangan proyek, penggunaan jaringan, likuiditas, tokenomics, dan kondisi ekosistem.
Sebagian altcoin juga memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas yang jauh lebih kecil dibandingkan Bitcoin. Kondisi tersebut dapat membuat pergerakan harganya lebih tajam.
Karena itu, tidak tepat menganggap semua altcoin memiliki risiko yang sama.
Investor perlu melihat masing-masing proyek secara terpisah.
Apakah Ethereum Termasuk Altcoin?
Ya.
Jika menggunakan definisi umum bahwa altcoin adalah cryptocurrency selain Bitcoin, maka Ethereum termasuk altcoin.
ETH merupakan aset native dari jaringan Ethereum.
Hal yang sama berlaku untuk banyak aset lain seperti Solana (SOL), XRP, Cardano (ADA), dan berbagai cryptocurrency lainnya.
Namun, istilah altcoin tidak berarti aset tersebut merupakan “tiruan Bitcoin”. Banyak altcoin justru dirancang untuk fungsi yang berbeda.
Apakah Arbitrum Termasuk Altcoin?
Ya.
Arbitrum (ARB) dapat dikategorikan sebagai altcoin karena ARB bukan Bitcoin.
Arbitrum sendiri merupakan jaringan Layer 2 yang dibangun untuk membantu meningkatkan kapasitas transaksi Ethereum, sedangkan ARB merupakan token yang terkait dengan governance ekosistem Arbitrum.
Ini menjadi contoh bahwa sebuah altcoin dapat mempunyai fungsi yang berbeda dari Bitcoin.
Bitcoin dan Altcoin, Mana yang Harus Dipahami Lebih Dulu?
Untuk pemula, hal yang lebih penting bukan sekadar menghafalkan daftar cryptocurrency.
Pahami terlebih dahulu karakteristik masing-masing aset.
Misalnya:
Bitcoin:
Pahami bagaimana blockchain Bitcoin bekerja, mining, Proof of Work, pasokan 21 juta BTC, dan fungsi Bitcoin.
Altcoin:
Pahami proyek di balik token, fungsi blockchain, tokenomics, mekanisme konsensus, penggunaan jaringan, serta risiko yang menyertainya.
Dengan cara tersebut, seseorang tidak membeli cryptocurrency hanya karena melihat harga atau tren di media sosial.
Kesimpulan
Perbedaan Bitcoin dan altcoin terutama terletak pada sejarah, fungsi, teknologi, mekanisme konsensus, tokenomics, dan ekosistemnya.
Bitcoin merupakan cryptocurrency pertama dan mempunyai karakteristik khusus, termasuk batas pasokan maksimum 21 juta BTC serta penggunaan Proof of Work.
Sementara itu, altcoin merupakan istilah umum untuk cryptocurrency selain Bitcoin. Karena kategorinya sangat luas, karakteristik antara satu altcoin dengan altcoin lainnya dapat berbeda secara signifikan.
Ethereum, Solana, XRP, dan Arbitrum merupakan contoh aset yang dapat dikategorikan sebagai altcoin, tetapi masing-masing memiliki teknologi dan fungsi yang berbeda.
Bagi pemula, memahami perbedaan tersebut penting sebelum membeli aset kripto. Jangan hanya melihat harga sebuah koin, tetapi pahami juga apa fungsi aset tersebut, bagaimana teknologinya bekerja, bagaimana tokennya digunakan, dan apa saja risikonya.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan memberikan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki risiko volatilitas dan kerugian. Lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan transaksi.





