26.6 C
Jakarta
Senin, 26 Juli, 2021

Microsoft: Serangan Crypto-Centric Jadi Pukulan Keras untuk Indonesia

DuniaFintech.com – Penelitian Microsoft menunjukkan serangan crypto-centric atau yang terkait kripto tumbuh di Indonesia selama 2018 hingga 2019. Terungkap pula, bahwa Indonesia memiliki tingkat pertemuan malware tertinggi di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2019. Mereka menyimpulkan bahwa ini menunjukkan peningkatan serangan cryptojacking dan ransomware.

Dilansir dari Cointelegraph, laporan tersebut menunjukkan bahwa wilayah Indonesia terus mengalami tingkat pertemuan “lebih tinggi dari rata-rata” untuk ransomware dan serangan malware lainnya, masing-masing memposting angka 1,6 dan 1,7 kali lebih tinggi daripada bagian dunia lainnya.

Peningkatan Serangan Ransomware dan Cryptojacking di Indonesia

Indonesia memiliki tingkat serangan malware 10,68% selama 2019. Meskipun ini merupakan penurunan 39%, angkanya tetap dua kali lebih tinggi dari rata-rata regional, kata Microsoft.

Mengenai serangan ransomware, Indonesia sekarang berada di peringkat kedua dalam hal tingkat pertemuan di 14%. Ini 2,8 kali lebih tinggi dari rata-rata yang terdaftar di negara lain di wilayah ini.

Tingkat pertemuan Cryptojacking berdiri di angka 10% pada 2019, dua kali lebih tinggi dari rata-rata regional dan bahkan global, serta memiliki tingkat pertemuan tertinggi di kawasan Asia Pasifik dan peringkat # 4 secara global.

“Sementara fluktuasi nilai cryptocurrency baru-baru ini dan meningkatnya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan cryptocurrency telah mengakibatkan para penyerang memfokuskan kembali upaya mereka, mereka terus mengeksploitasi pasar dengan kesadaran siber yang rendah dan adopsi rendah dari praktik kebersihan siber,” jelas Haris Izmee, Presiden Direktur Microsoft Indonesia.

Baca Juga:

Korelasi COVID-19 dan Peningkatan Serangan Cyber

Sementara itu, selain serangan crypto-centric, peneliti Microsoft Intelligence Protection mengemukakan kekhawatiran tentang peningkatan serangan bertema COVID-19 di setiap negara di dunia. Mereka mencatat bahwa setidaknya ada satu insiden per negara, dengan jumlah serangan yang berhasil di negara-negara dengan wabah tinggi sedang meningkat.

Sebagian besar serangan siber terkait COVID-19 dikirimkan melalui lampiran email jahat atau URL. Peretas sering menyamar sebagai entitas global dengan peran kunci dalam pandemi seperti Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, atau CDC, dan Departemen Kesehatan AS.

Baru-baru ini, Cointelegraph melaporkan bahwa Singapura telah melihat peningkatan yang signifikan dalam upaya serangan cryptojacking selama kuartal pertama tahun 2020.

(DuniaFintech/ Karin Hidayat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

DIREKTORI LIST

ARTIKEL TERBARU

Qoala Insurtech Ungkap Strategi Digital Marketing Tahun 2021

DuniaFintech.com - Pandemi Covid-19 memberikan banyak perubahan di berbagai aspek bisnis, termasuk gaya pemasaran di setiap industri. Namun, pandemi justru memberi peluang bagi perusahaan...

Fintech Santara, Investasi di Bisnis UMKM dengan Sistem Equity Crowdfunding

DuniaFintech.com - Fintech Santara merupakan platform equity crowdfunding yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan. Equity crowdfunding itu sendiri adalah istilah untuk layanan urun...

Jenis-jenis Produk Pinjaman Bank Syariah Indonesia

Sebagaimana bank-bank lainnya, Bank Syariah Indonesia atau BSI juga memiliki produk pinjaman bagi nasabahnya. Apa saja jenis pinjaman bank syariah? Perlu diketahui, Bank Syariah...

PasarPolis, Perusahaan Asuransi dengan User Experience Terbaik

PasarPolis merupakan perusahaan asuransi yang telah hadir sejak tahun 2015 untuk merevolusi industri asuransi yang selama ini cenderung sulit. Dengan memanfaatkan teknologi terbaru, PasarPolis...

Bareksa, Marketplace Investasi Digital Pertama di Indonesia

Bareksa merupakan marketplace investasi reksadana digital terintegrasi pertama di Indonesia. Startup financial technology (fintech) ini milik PT Bareksa Portal Investasi yang berdiri pada 17...
LANGUAGE