25 C
Jakarta
Selasa, 19 Oktober, 2021

SmartFarming, Teknologi Pertanian yang Cocok dengan Zaman Sekarang

SmartFarming merupakan teknologi pertanian yang cocok dengan zaman sekarang. Pemerintah juga mendorong smartfarming untuk mengangkat pertanian indonesia.

Permasalahan pada sektor pangan selalu menjadi perhatian di setiap negara. Pemerintah selalu berupaya memenuhi kebutuhan pangan rakyat dan menjaga ketahanan pangan diantaranya melalui pemberdayaan petani, mendorong petani milenial, peningkatan produktivitas dan penggunaan teknologi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berkesempatan meninjau lokasi pertanian yang dikembangkan oleh petani milenial dengan konsep smartfarming melalui penggunaan teknologi, dalam agenda kunjungan kerja di Klaten, Jawa Tengah.

“Program Millennial smartfarming diharapkan dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional sebagai dampak adanya pandemi Covid-19,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/9).

Apa itu Smart Farming?

Program Millenial Smart Farming merupakan ekosistem pemberdayaan milenial melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital (IoT) dari hulu ke hilir serta meningkatkan inklusi keuangan desa. 

Program ini bertujuan mengimplementasikan pertanian cerdas dengan penerapan digitalisasi pertanian dengan Internet of Things (IoT). Dengan begitu akan membentuk ekosistem pertanian dengan pembukaan akses pasar kepada petani.

Sehingga penghasilan petani terjamin, serta mengoptimalkan inklusi keuangan di desa yang terhubung dengan perbankan maupun pembiayaan digital atau financial technology, dan memperkuat kelembagaan petani milenial yang dilakukan oleh berbagai stakeholder.

Bertani Dengan Perangkat Canggih

Dalam lawatannya, Menko Airlangga menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu petani milenial bernama Hartoyo. Hartoyo sendiri sebelumnya bekerja kantoran di Jakarta, namun saat ini ia menekuni pertanian karena diakuinya penghasilan yang didapatkannya dari sini lebih besar. 

Hartoyo menjelaskan kepada Menko Airlangga mengenai mekanisasi pertanian smart farming, yaitu menggunakan mesin otomatis yang dikontrol melalui aplikasi yang diinstal di gawai tablet yang digunakan. Tak hanya itu, sumber energinya pun menggunakan tenaga surya, yang sudah digunakannya selama tiga bulan.

Teknologi yang Membantu Petani Menyiasati Perubahan Iklim

Aplikasi dan alat sensor cuaca ini dibuat oleh sebuah perusahaan rintisan anak bangsa PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB). Perusahaan rintisan tersebut mencetuskan konsep Smart Farming 4.0 yang menjadi pemenang pertama Hermes Award kategori Startup pada gelaran Hannover Messe 2020. Teknologi sensor cuaca ini dinamakan Automatic Weather Sensor (AWS).

Konsep Smart Farming 4.0 memberi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Caranya adalah dengan menggunakan alat sensor dan aplikasi, yang memberikan informasi yang dapat membantu petani untuk meningkatkan produksi pertanian, termasuk mengurangi pemakaian pupuk dan air.

“Konsep tersebut menjadi dasar menciptakan aplikasi mobile yang berbasis teknologi pertanian untuk membantu pencatatan sistem bertani, memilih pedoman budidaya, serta penanganan dan pengolahan pertanian yang baik,” ucap Airlangga.

Tak hanya itu, teknologi ini juga membantu meningkatkan efisiensi pertanian dengan lebih mudah dan hemat namun dapat menghasilkan panen secara maksimal, disamping itu petani juga dapat dengan mudah mendapatkan akses mitra dan pasar yang tepat.

Mengoptimalkan Produksi Pertanian

Selanjutnya, Airlangga bersama dengan Wakil Bupati Klaten dan Direktur Hubungan Kelembagaan BNI mencoba menanam padi menggunakan Treventer, sebuah mesin menanam otomatis. 

Airlangga juga berbincang dengan ibu-ibu petani yang sedang menanam secara tradisional. Pada kali itu, dia menanyakan perkembangan pertanian dan juga menjelaskan bantuan pemerintah khususnya KUR yang bisa diambil para petani untuk semakin mengembangkan pertaniannya.

Petani tersebut menuturkan bahwa, dengan menggunakan alat tanam otomatis tersebut, hasil panen bisa meningkat antara 6-7 ton per hektar. Bahkan, dalam dua tahun bisa dua kali panen. 

“Kalau semuanya menggunakan teknologi diharapkan produktivitas akan lebih tinggi lagi, apalagi sudah menggunakan alsintan otomatis untuk penanaman,” tutup Airlangga. 

Reporter : Nanda Aria

Editor : Gemal A.N. Panggabean

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

DIREKTORI LIST

ARTIKEL TERBARU

OJK Dorong Pertumbuhan Teknologi Finansial Urun Dana

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peran industri teknologi finansial urun dana atau securities crowdfunding (SCF) untuk meningkatkan skala bisnis pelaku UMKM di Indonesia. Pasalnya,...

Regulatory Sandbox: Strategi Jitu Tangkal Kealpaan Regulasi Fintech

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, penggunaan regulatory sandbox atau ruang uji coba terbatas bagi para perusahaan rintisan di bidang finansial teknologi atau...

Kesenjangan Akses Keuangan antara Kota dan Desa, Ini Kata OJK

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara mengungkapkan bahwa masih tercipta gap atau kesenjangan yang cukup lebar...

Disinggung OJK, AFPI Putus Keanggotaan Penagih Utang PT ITN

Kantor milik PT Indo Tekno Nusantara (ITN) digerebek kepolisian pada Kamis, (14/10) lalu. ITN merupakan perusahaan penagih utang yang mengoperasikan 13 perusahaan pinjol, di...

Tentang Waktu dan Petunjuk Cara Ikut Lelang Pegadaian

Lelang Pegadaian adalah penjualan barang gadai oleh Pegadaian dengan cara dilelang kepada khalayak masyarakat. Mengingat debitur tidak sanggup melunasi pinjamannya, Pegadaian pun berhak untuk...
LANGUAGE