25.8 C
Jakarta
Rabu, 17 Juli, 2024

Sri Mulyani Sebut Depresiasi Rupiah 0,33%, KSSK Perkuat Koordinasi

JAKARTA, duniafintech.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga selaku ketua KSSK mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah pada kuartal I-2022 mengalami depresiasi sebesar 0,33% secara rata-rata dibandingkan akhir 2021.

Dia menjelaskan, depresiasi rupiah tersebut disebabkan oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat sebagai imbas dari perang antara Rusia dan Ukraina.

“Nilai tukar rupiah Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, nilai tukar rupiah pada kuartal 1-2022 mengalami sedikit depresiasi 0,33% secara rata-rata dibandingkan posisi akhir tahun 2021,” katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (13/4).

Bendahara negara tersebut pun menuturkan, meskipun terdepresiasi, namun depresiasi mata uang rupiah tidak sedalam mata uang lainnya di di Asia. Dia membandingkannya dengan mata uang ringgit Malaysia, rupee India, dan bath Thailand.

“Depresiasi rupiah tersebut adalah lebih rendah dibandingkan mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. Kalau Indonesia mengalami 0,33%, Malaysia ringgit mengalami depresiasi 1,15% (ytd), India rupee 1,73% (ytd), dan Thailand 3,15% (ytd),” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga selaku ketua KSSK.

Sedangkan, untuk inflasi hingga Maret 2022 tetap terkendali pada tingkat 2,64% (yoy) didukung oleh masih terjaganya sisi penawaran dalam merespon kenaikan permintaan.

Tak hanya itu, hal tersebut juga karena tetap terkendalinya ekspektasi inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta berbagai respons kebijakan terutama dalam menjaga barang-barang yang diatur pemerintah atau administered price.

Meski demikian, sambungnya, sejumlah risiko rambatan yang berasal dari kondisi global akan berpotensi mempengaruhi sisi inflasi, cost of fund, dan kinerja perekonomian nasional.

Oleh karena itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan tetap mewaspadai dan memantau, serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Hal ini untuk menghindari tekanan yang lebih berat terhadap kondisi makro perekonomian dan mencegah terjadinya tekanan yang lebih besar terhadap sektor riil.

“KSSK akan terus memperkuat koordinasi dan pemantauan bersama termasuk dalam perumusan respons kebijakan yang terkoordinasi dan bersinergi di dalam menjaga pemulihan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak dan dinamika kondisi global yang sangat tinggi,” ucapnya.

 

Penulis: Nanda Aria

Editor: Rahmat Fitranto

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU