Cara Melakukan Investasi bagi Anak Muda
- Kenali konsep dan resiko investasi
- Memiliki tujuan keuangan yang jelas
- Tentukan jangka waktu investasi
- Buka rekening investasi
- Jalankan investasi secara disiplin
To subscribe, simply enter your email address on our website or click the subscribe button below. Don't worry, we respect your privacy and won't spam your inbox. Your information is safe with us.
Are you ready to take your experience to the next level? Unlock a world of exclusive benefits by joining our premium content community. As a member, you'll gain access to a wealth of valuable resources, tailored specifically for you.
DuniaFintech.com – Erik Tristan Voorhees adalah pendiri startup berdarah Amerika-Panama. Dia adalah salah satu pendiri perusahaan bitcoin Coinapult, bekerja sebagai Direktur Pemasaran di BitInstant, dan merupakan pendiri dan pemilik parsial situs judi bitcoin Satoshi Dice (kemudian dijual pada Juli 2013 ke pembeli yang tidak disebutkan namanya)
Dia didenda oleh AS Komisi Sekuritas dan Bursa untuk penawaran saham tidak terdaftar yang terkait dengan SatoshiDice. Dia juga pencipta dan CEO dari bitcoin instan dan pertukaran altcoin ShapeShift.io, setelah mendirikan dan mengoperasikannya di bawah nama alias Beorn Gonthier. Ia kemudian mengungkapkan keterlibatannya yang sebenarnya dengan perusahaan sebagai bagian dari pengumuman pendanaan awal, pada bulan Maret 2015 silam.
Berasal dari Colorado, Voorhees kemudian pindah ke Dubai, New York City dan New Hampshire, menjadi peserta dalam Proyek Free State. Voorhees sekarang tinggal di Panama City, Panama. Menurut perintah pengadilan AS dalam kasus SEC, Voorhees adalah warga negara AS pada 3 Juni 2014. Ia bersekolah di Vail Mountain School, dan lulus pada 2007 dari University of Puget Sound.
Voorhees percaya sistem moneter saat ini memiliki masalah sistemik yang serius dengan risiko pihak lawan, bahwa Sistem Federal Reserve “curang” dan menganjurkan pemisahan antara uang dan negara. Dia menyimpan aset dan keuangannya dalam Bitcoin, dan merupakan penentang perpajakan yang blak-blakan meskipun dia mengajukan ke IRS sebagai warga negara Amerika.
Baca Juga:
Voorhees adalah pendiri dan mantan CEO Coinapult, sebuah perusahaan yang mentransfer Bitcoin melalui SMS dan email. Dia sebelumnya mendirikan Satoshi Dice. SatoshiDice kemudian dikritik karena tingkat lalu lintas perjudiannya yang tinggi, dan menyebabkan peningkatan jumlah data yang disimpan dalam “rantai blok” Bitcoin.
Pada 8 Maret 2013, ia diwawancarai di podcast komentator keuangan terkenal Peter Schiff oleh Tom Woods tentang Bitcoin sebagai mata uang alternatif. Pada 30 Januari 2015 dia diwawancarai di Podcast Pengetahuan Bitcoin dan membahas karier Bitcoin-nya.
Pada Agustus 2012, sebagai Direktur Pemasaran Voorhees dan BitInstant (salah satu layanan pertukaran kripto pertama yang didirikan oleh Charlie Shrem) berencana untuk meluncurkan kartu debit yang didanai Bitcoin, yang akan memungkinkan pembelian yang didanai Bitcoin ditransaksikan melalui jaringan bank standar.
Sejak 2014, ia telah menjadi CEO dari platform pertukaran aset kripto yang berbasis di Swiss Shapeshift. Sebelum ke Shapeshift, Voorhees memimpin upaya pemasaran di BitInstant. Voorhees juga ikut mendirikan dompet Bitcoin, prosesor pembayaran dan broker Coinapult.
Pada Januari 2019, Shapeshift memberhentikan sepertiga dari timnya dengan alasan kurangnya fokus pada produk mereka. Pada bulan Mei, Voorhees mengatakan bahwa Bitcoin tidak akan mencapai penilaian triliun dolar tanpa lebih banyak hype orang-orang tentang efek bubble-nya.
Pada bulan Juli, perusahaan miliknya meluncurkan platform pertukaran kripto noncustodial baru yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai cold storage wallet, termasuk KeepKey milik Shapeshift. Pada bulan November, Shapeshift mengumumkan peluncuran token FOX untuk memungkinkan perdagangan tanpa biaya di dalam platform mereka.
(DuniaFintech/Dita Safitri)
DuniaFintech.com – Organisasi pendukung mata uang digital global Facebook, Asosiasi Libra dapat dukungan tiga anggota baru. Salah satu dukungan tersebut berasal dari investor milik pemerintah Singapura Tamasek Holding. Selain itu, dua anggota baru Asosiasi lainnya adalah firma investasi Cryptocurrency Paradigm dan grup ekuitas swasta Slow Ventures yang keduanya berbasis di Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari laman KrAsia, Wakil Ketua Asosiasi Libra dan Kepala Kebijakan dan Komunikasi, Dante Disparte mengatakan “Libra dapat dukungan dari tiga anggota baru ini sebagai upaya menunjukan komitmen kami untuk membangun beragam kelompok organisasi yang akan berkontribusi tata kelola, roadmap teknologi, dan kesiapan peluncuran sistem pembayaran Libra.”
Tahun lalu, Facebook memperkenalkan visinya untuk Libra sebagai sistem pembayaran digital alternatif, yang awalnya direncanakan sebagai token tunggal seperti Bitcoin. Namun, Regulator di seluruh dunia mempunyai kekhawatiran bahwa Libra akan memanfaatkan basis para pengguna Facebook yang sangat besar. Sehingga akan membentuk bank sentral swasta global secara de facto yang tentunya akan mengurangi otonomi moneter bank-bank sentral yang ada.
Baca Juga:
Lantas, raksasa media sosial itu memperkecil usulannya pada bulan April, Facebook merencanakan pendekatan yang lebih tradisional menggunakan beberapa koin digital yang masing-masing terkait dengan mata uang yang ada, seperti dolar AS untuk memenangkan persetujuan regulator.
Para ahli mengklaim bahwa skema baru dapat bergabung dengan lebih mudah dengan kerangka moneter, keuangan, dan peraturan domestik, dan tidak mengancam otonomi moneter yang ada.
Sebelumnya, sejumlah perusahaan pembayaran besar menarik diri dari proyek tersebut. Ini termasuk Visa, Mastercard, eBay, Stripe, dan Paypal. Namun, Asosiasi Libra masih memiliki perusahaan nirlaba dan e-commerce lainnya sebagai anggota.
Libra Asosiasi menambahkan Temasek adalah lembaga investasi milik negara Singapura yang mengelola portofolio dana SG$ 313 iliar atau setara US$219 miliar. Libra dapat dukungan dari tiga anggota yang salah satunya Temasek sebagai investor yang fokus di Asia memberi posisi yang berbeda pada kami.
“Partisipasi kami dalam Libra Association akan memungkinkan kami berkontribusi pada jaringan pembayaran ritel global berbiaya efisien dan efektif,” ujar Chia Song Hwee, vice CEO di Temasek.
(DuniaFintech/VidiaHapsari)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) bersama INDODAX resmi meluncurkan kartu debit co-branding BRI X INDODAX. Kolaborasi dua market leader ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transformasi digital dan memperluas akses ke layanan finansial modern.
Melalui program ini, BRI sebagai salah satu bank dengan jumlah rekening terbanyak di Indonesia dengan lebih dari 221 juta rekening simpanan dan sebagai bank terbaik nomor satu di Indonesia versi The Banker 2025, semakin mempertegas komitmennya dalam menghadirkan solusi finansial yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dengan kerja sama ini, nasabah INDODAX yang membuka rekening di BRI akan mendapatkan kartu debit khusus dengan berbagai fitur unggulan. Antara lain bebas biaya transfer antarbank real-time, akses multi-currency hingga 12 mata uang, serta beragam keuntungan berupa diskon dan cashback hingga Rp125.000 untuk top-up wallet maupun transaksi harian.
CEO INDODAX, William Sutanto, menekankan bahwa kolaborasi ini akan membuka peluang besar bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari sinergi dua perusahaan terbesar dalam industrinya masing-masing di Indonesia.
“Dengan jaringan BRI yang luas hingga ke pelosok negeri, kami melihat kesempatan untuk memperkenalkan layanan keuangan digital kepada lebih banyak orang. Kartu debit ini bukan hanya alat transaksi, tetapi juga gerbang menuju literasi finansial yang lebih maju, di mana masyarakat dapat mengenal layanan digital dan kripto secara bertahap,” ungkapnya.
Tak hanya itu, nasabah yang bergabung akan memperoleh perlindungan tambahan berupa asuransi kecelakaan hingga 250% dari saldo rekening, serta akses program loyalitas BRI. Proses aktivasi dilakukan secara seamless, mulai dari pembukaan rekening dengan flagging khusus, integrasi data ke INDODAX, hingga penerbitan reward token.
Kolaborasi strategis ini juga diperkuat dengan kehadiran BRI dan INDODAX sebagai co-host di Coinfest Asia 2025 di Bali, yang menjadi ajang utama komunitas blockchain, startup, dan digital enthusiasts di Asia.
Menyinggung partisipasi tersebut, William menambahkan, “Coinfest Asia menjadi momentum penting untuk menunjukkan bagaimana kolaborasi antara bank dan kripto bisa berdampak nyata. Kami ingin menunjukkan kepada komunitas internasional bahwa Indonesia siap menjadi salah satu pemain utama dalam adopsi keuangan digital.”
Program ini diproyeksikan dapat menciptakan potensi Dana Pihak Ketiga (CASA) serta fee-based income baru, sekaligus memperluas penetrasi inklusi finansial di Indonesia melalui kanal digital.
“Bagi INDODAX, sinergi ini bukan hanya soal produk, tetapi soal membangun ekosistem. Kami ingin mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih percaya diri dalam memanfaatkan layanan digital yang aman dan terintegrasi. Bersama BRI, kami percaya langkah ini akan memperkuat pondasi ekonomi digital Indonesia di masa depan,” pungkas William.
Hal senada dikatakan Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, bahwa kolaborasi ini adalah bukti nyata bahwa BRI sebagai bank dengan jangkauan terluas di Indonesia terus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan nasabah modern.
“Kartu debit co-branding BRI X INDODAX hadir sebagai jembatan antara layanan perbankan konvensional dengan ekosistem aset digital, sehingga memberikan pengalaman transaksi yang lebih mudah, aman, dan relevan dengan generasi muda,” ungkapnya.
BRI dan INDODAX sepakat bahwa kolaborasi bank dan crypto bukan sekadar tren, melainkan langkah nyata membangun masa depan layanan keuangan yang inklusif, modern, dan berkelanjutan.Dengan RSI yang belum menunjukkan sinyal jenuh beli dan sentimen institusi yang tetap positif, Ethereum masih punya potensi besar untuk menutup September dengan kekuatan, dan mengawali Oktober dengan ledakan harga. Satu hal yang pasti: selama para whale terus akumulasi dan staking, tekanan jual ETH akan semakin berkurang—dan ruang untuk naik akan semakin terbuka.
Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (27/8/2025). Rupiah parkir di level Rp16.368 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 69 poin atau 0,43 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.298,50. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat terkoreksi hingga 75 poin sebelum akhirnya ditutup melemah
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor domestik. Pasar tengah mengantisipasi aksi demonstrasi buruh yang akan berlangsung Kamis (28/8/2025).
“Pasar mengantisipasi demontrasi buruh di hari Kamis,” ujar Ibrahim, dari keterangannya Rabu (27 Agustus 2025).
Aksi tersebut akan dipusatkan di depan DPR RI atau Istana Kepresidenan Jakarta dengan perkiraan jumlah massa mencapai 10 ribu orang. Aksi serupa juga akan digelar serentak di sejumlah provinsi dan kota industri besar di Indonesia.
Selain faktor domestik, pasar global juga diguncang isu politik di AS. Presiden AS Donald Trump menyatakan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Lisa Cook akan dicopot dari jabatannya atas tuduhan penipuan hipotek.
Namun, Cook menolak mundur dan berencana menggugat keputusan tersebut di pengadilan. The Fed juga menegaskan Trump tidak memiliki kewenangan langsung untuk memecat pejabat bank sentral.
“Gagasan ini menjadi perhatian utama pasar, mengingat The Fed telah mempertahankan sikap yang relatif hati-hati terhadap pelonggaran lebih lanjut, dengan alasan kekhawatiran atas dampak inflasi dari tarif Trump,” tuturnya.
Di sisi lain, meskipun Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan peluang pemangkasan suku bunga pada September, sikapnya dinilai masih berhati-hati karena mempertimbangkan risiko inflasi dari kebijakan tarif Trump.
Ibrahim memprediksi pada perdagangan Kamis (28/8/2025), rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang garuda diperkirakan berada dalam kisaran Rp16.360 hingga Rp16.420 per dolar AS.
Aspek | Potensi Dampak Positif | Potensi Dampak Negatif |
---|---|---|
Lalu Lintas & Operasional | – Konsumsi meningkat jika upah naik- Kepuasan pekerja | – Kemacetan menghambat logistik- Turunnya produktivitas |
– Upah dan Outsourcing | – Konsumsi rumah tangga meningkat- Pembayaran lebih adil | – Biaya tenaga kerja meningkat- Tekanan pada SMEs |
– Kebijakan Pajak | – Daya beli meningkat- Stimulus konsumsi domestik | – Penurunan penerimaan pajak- Tekanan APBN |
Sentimen Pasar | – Tuntutan direspons pemerintah => stabilitas | – Ketidakpastian ke depan => fluktuasi pasar |
.
“Tokenisasi aset adalah frontier berikutnya dalam infrastruktur pasar keuangan. Produk tokenisasi pertama kami, yakni crypto-linked note, hadir untuk menjawab tingginya minat investor institusi terhadap aset digital,” ujar Li Zhen dikutip dari Bitcoinsistemi.Peluncuran produk ini, menurutnya, merupakan bentuk respon terhadap lonjakan permintaan dari investor institusi terhadap aset digital. Peluncuran structured notes crypto oleh DBS menandai babak baru dalam integrasi antara sistem keuangan tradisional dan teknologi blockchain. Dengan menurunkan batas masuk investasi menjadi $1.000 dan menggunakan Ethereum sebagai infrastruktur, DBS menjawab tantangan aksesibilitas tanpa mengorbankan aspek regulasi. Langkah ini berpotensi menjadi cetak biru bagi institusi keuangan lain yang ingin masuk ke ruang digital asset secara aman dan terkendali, tanpa meninggalkan kerangka hukum yang berlaku.
Faktor utama | Kondisi Saat Ini | Relevansi sebagai Tanda Altseason |
---|---|---|
Harga ETH mendaki rekor historis | Terjadi | Sangat kuat sebagai trigger awal |
Arus masuk kapital institusional | Signifikan via ETF | Mendukung momentum jangka menengah–panjang |
Penurunan dominasi Bitcoin | Sedang menurun (≈59–60%) | Sinyal modal bergerak ke altcoin |
Naiknya ETH/BTC ratio | Masih di fase rebound | Belum menembus puncak historis tetapi naik |
Altcoin Season Index (ASI) | 35–53 (pending full zone) | Progresif tapi belum 75% threshold |
Pola historis Q3 Ethereum surging | Konsisten & sudah terlihat | Memposisikan Ethereum sebagai pemimpin alt |
Joao Wedson (CEO Alphractal): “The Altcoin Season Index is flashing signs of opportunity; make sure you are prepared.” (Cointelegraph, FastBull)
Merlijn (trader): “Ethereum is doing what it always does before altseason … Outperforms $BTC in Q3 → leads rotation → ignites altcoin mania.” (CryptoDnes.bg)
Ray Youssef (CEO NoOnes): “April adalah awalnya. Juni memang sempat melambat, tapi sejak akhir Juli, pasar altcoin mulai panas.” (Jawa Pos)