27.8 C
Jakarta
Selasa, 31 Januari, 2023

Apa Itu Crypto Winter: Dampak dan Kapan Situasi Ini akan Berakhir

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu crypto winter? Istilah ini semakin sering terdengar belakangan, khususnya di kalangan peminat kripto.

Untuk  diketahui, saat ini di dunia mata uang kripto alias cryptocurrency tengah terjadi fenomena yang disebut dengan “crypto winter” atau musim dingin kripto.

Fenomena ini dianggap bisa berdampak buruk terhadap ekosistem industri mata uang kripto. Nah, untuk mengetahui lebih jauh soal istilah yang satu ini, simak ulasan berikut ini, seperti dinukil Kompas.com.

Baca juga: Tips Sukses Investasi Crypto agar Cuan Maksimal, Intip Yuk!

Apa Itu Crypto Winter?

Crypto winter adalah istilah atau penyebutan untuk fenomena jatuhnya harga atau nilai mata uang kripto di pasar secara drastis dan berkepanjangan.

Perlu diketahui, beberapa mata uang kripto yang cukup dominan di pasar harganya sempat jatuh, misalnya saja Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

Akan tetapi, fenomena merosotnya nilai mata uang kripto ini bukanlah yang pertama kali terjadi.

Istilah musim dingin kripto pun sudah digunakan sejak awal tahun 2018 lalu untuk menandai merosotnya nilai Bitcoin di pasar lebih dari 80 persen.

Adapun pada 2017 lalu, Bitcoin pernah mencapai level harga tertingginya di angka hampir 19.500 dollar AS (Rp 289 juta jika menggunakan kurs saat ini).

Nah, saat memasuki 2018, harga bitcoin anjlok jadi sekitar 3.300 dollar AS (Rp 48 juta). Pada masa itu, musim dingin crypto ini berlangsung mulai Januari 2018 hingga Desember 2020.

Lantas, harga mata uang kripto pun berangsur pulih. Puncaknya, pada November 2021 lalu, harga 1 koin Bitcoin sempat berada di level 68.990 dollar AS (Rp 1 miliar).

Akan tetapi, menguatnya nilai mata uang kripto itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, nilai beberapa mata uang kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum, terus mengalami kemerosotan hingga 70 persen, sejak tujuh bulan terakhir sejak November 2021.

Fenomena amblesnya nilai mata uang kripto selama berbulan-bulan itu yang kemudian diindikasikan sebagai crypto winters, mirip dengan yang terjadi pada tahun 2018. 

Sejak beberapa waktu terakhir, spekulasi akan terjadinya crypto winter jilid dua pun sejatinya sudah muncul dan terus terdengar hingga saat ini.

Penyebab Terjadinya Apa Itu Crypto Winter

Menukil laman Forbes, crypto winter biasanya diakibatkan saat ada aksi penjualan besar-besaran mata uang kripto dari harga tertinggi.

Di samping itu, merosotnya harga mata uang kripto pun timbul akibat sentimen negatif dari pasar. 

Adapun sentimen negatif ini muncul dari beberapa fenomena, seperti merosotnya nilai mata uang kripto LUNA lebih dari 90 persen dalam sebulan terakhir pada Mei lalu.

Lalu sentimen negatif atas pasar mata uang kripto juga disebabkan lantaran adanya aksi penangguhan atau pembekuan transaksi kripto dari platform perbankan cryptocurrency Celcius Network.

Aksi ini menyebabkan pengguna tidak dapat menarik mata uang kripto yang disimpan pada Celcius Network.

Pembekuan tersebut dikatakan Celcius Network bertujuan untuk menstabilkan daya tukar kripto (likuiditas) dan operasinya.

Sejalan dengan pengumuman pembekuan transaksi itu, harga mata uang kripto buatan Celcius Network (CEL) sendiri juga tengah anjlok hingga lebih dari 90 persen dalam satu tahun terakhir.

Tercatat di Coin Market Cap, kini harga CEL berada di level sekitar Rp 9.700. Ketidakstabilan pasar kripto ini yang membuat atau mendorong para investor untuk menjual asetnya sehingga menimbulkan musim dingin kripto.

Baca juga: Diprediksi Masih Belum akan Berakhir, Apa Itu Crypto Winter?

Dengan adanya fenomena ini, terjadi sejumlah dampak yang cukup buruk bagi industri mata uang kripto saat ini.

Apa Itu Crypto Winter

Dampak Musim Dingin Kripto

William Luther, seorang profesor ekonomi di Florida Atlantic University, memandang bahwa fenomena Crypto Winter semacam ini dianggap sebagai hal yang lumrah dalam perdagangan mata uang kripto.

Melangsir CNBC, Luther mengingatkan investor untuk tetap tenang dan menjaga pandangan mereka dalam jangka panjang.

Adapun kerugian akibat merosotnya nilai mata uang kripto dikatakan hanya sebagai fenomena sesaat.

“Dilihat dari pengalaman masa lalu, cenderung ada pasang surut ini di pasar crypto,“ ucapnya.

Ia menyampaikan, fenomena musim dingin kripto bisa menjadi pengingat bagi para investor untuk berhati-hati dalam berinvestasi, khususnya pada industri yang mudah sekali mengalami pasang surut.

Di tengah kerugian dalam investasi mata uang kripto saat ini, dirinya menyarankan investor agar dapat untuk mengalokasikan asetnya ke beberapa sektor, seperti saham dan obligasi, bukan hanya ke mata uang kripto.

Dengan demikian, ketika nilai salah satu aset tengah turun, misalnya mata uang kripto, investor tidak mengalami kerugian secara penuh sebab sudah terdiversifikasi dengan memegang aset lainnya.

Musim dingin kripto pun berdampak terhadap ruginya investor saat ini. Selain ke investor,  musim dingin kripto pun berdampak buruk terhadap mereka yang bekerja atau karyawan pada perusahaan penyedia layanan transaksi kripto.

Di tengah musim dingin kripto, investor cenderung untuk menghentikan atau mengurangi aktivitas perdagangan kripto mereka. Dengan demikian, pendapatan perusahaan dengan layanan transaksi kripto juga bakal menurun.

Kondisi itu pada akhirnya memaksa perusahaan untuk mengurangi ongkos produksi layanan, salah satunya dengan mengurangi atau memecat karyawan.

Coinbase, salah satu perusahaan dengan layanan dompet digital mata uang kripto, dikabarkan akan melakukan pemecatan sebanyak 18 persen dari total karyawan dengan status penuh waktu.

Untuk saat ini, Coinbase memiliki total karyawan penuh waktu sebanyak 5.000 orang. Dengan persentase itu, berarti terdapat 1.100 karyawan penuh waktu yang bakal dipecat dari Coinbase.

Menurut CEO Coinbase, Brian Amstrong, kemungkinan resesi bakal terjadi setelah 10 tahun lebih terjadi ledakan ekonomi. Resesi dikatakan bisa memicu Crypto Winter yang berikutnya.

Untuk mempersiapkan resesi dan Crypto Winter, Coinbase melakukan efisiensi pada operasional perusahaan, termasuk dengan melakukan pemecatan pada ribuan karyawannya. 

Lantas, kapan musim dingin kripto ini akan berakhir?

Amstrong kemudian juga menjelaskan bahwa berakhirnya Crypto Winter masih belum bisa atau sulit untuk diprediksi. Kemungkinan besar Crypto Winter bisa berjalan dalam waktu yang cukup lama.

Baca juga: Apa Itu Crypto Winter: Definisi hingga Tips untuk Menghadapinya

Sekian ulasan tentang apa itu crypto winter yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat.

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Investasi Sektor Manufaktur Naik 52 Persen di Tahun 2022, Tembus Rp497,7 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi pada sektor industri manufaktur di Tanah Air terus meningkat meski di tengah dinamika geopolitik dunia yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global....

Daftar HP Samsung Terbaru 2023 Dari Berbagai Seri

JAKARTA, duniafintech.com - Samsung dikenal sebagai salah satu merek ponsel pintar atau HP favorit banyak orang, terutama bagi para pengguna sistem operasi Android. Pasalnya,...

Sri Mulyani Upayakan Sinergi APBN Kembangkan Produktivitas UMKM

JAKARTA, duniafintech.com - Sinergi APBN sebagai instrumen keuangan negara dengan para pelaku usaha menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani dapat mengamplifikasi pemulihan ekonomi Indonesia. Berkaitan dengan...

Moncer! Ekspor Mobil Surplus Capai 64 Persen

JAKARTA, duniafintech.com - Industri otomotif ekspor mobil surplus merupakan salah satu sektor manufaktur yang strategis karena berperan penting dalam upaya menopang perekonomian nasional.  Juru Bicara...

Berikan PMN, Sri Mulyani Minta BTN Penuhi Kebutuhan Rumah

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hak untuk mendapatkan tempat tinggal, termasuk dari BTN, yang layak diatur dalam undang-undang. Namun...
LANGUAGE