27.7 C
Jakarta
Rabu, 30 November, 2022

Badai Resesi Ekonomi Global Menghantui Negara di Dunia

JAKARTA, duniafintech.com – Bayang-bayang badai resesi ekonomi global tahun 2023 menjadi hantu di beberapa negara di dunia, yang cukup meresahkan.

Bahkan sebelum 2023 terdapat beberapa negara yang sudah menunjukkan gejala-gejala terkena badai resesi ekonomi global. Tidak terkecuali Indonesia yang diperkirakan akan menghadapi krisis multidimensi atau sering disebut sebagai The Perfect Storm (badai resesi ekonomi global)

Badai Resesi Ekonomi Global Membuat Dunia dalam Kondisi Bahaya

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan situasi ekonomi saat ini menjadi semakin menantang dan bahkan tergolong dalam kondisi bahaya. Sebab, harus menghadapi tekanan inflasi yang tinggi, proses pertumbuhan ekonomi melambat, ancaman krisis energi dan pangan hingga masalah perubahan iklim.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya karena perang Rusia dan Ukraina sehingga memperburuk krisis ketahanan pangan dunia, meningkatnya harga energi termasuk harga pangan dan pupuk. Ditambah lagi adanya kebijakan proteksi perdagangan sejumlah negara sehingga terganggunya rantai pasok global.

Baca juga: Hadapi Resesi Ekonomi Global, Pemerintah Pastikan Tak Jadi Pasien IMF

Lalu, adanya lonjakan harga energi yang mempengaruhi sebagian besar negara terutama negara berkembang sebagai negara pengimpor yang menanggung beban lebih berat. Selain itu, adanya kebijakan moneter yang lebih ketat sehingga menimbulkan risiko efek badai resesi ekonomi global ke seluruh dunia dan menciptakan ancaman bagi pemulihan ekonomi.

“Resiko itu akan membebani negara miskin bahkan negara berpenghasilan menengah hingga negara maju,” kata Sri Mulyani.

badai resesi ekonomi global

Ekonomi Indonesia Hadapi The Perfect Storm

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan Indonesia akan menghadapi krisis multidimensi atau disebut sebagai The Perfect Storm. Dia menjelaskan kondisi tersebut terdiri atas inflasi tinggi, kontraksi ekonomi menuju resesi dan situasi geopolitik yang tidak pasti. Meski diperkirakan akan terjadi badai, dia belum bisa memastikan kapan terjadinya badai, dampak dan skala yang yang dihasilkan.

“Nah bagian skenario perfect storm ini yang mungkin terjadi beberapa kemungkinan ke depan,” kata Mahendra.

Baca juga: Ancaman Resesi Ekonomi Global 2023, Tetap Yakin Ingin Cicil Rumah?

Dia menjelaskan terdapat tiga hal yang membentuk krisis multidimensi kedepannya. Pertama adalah inflasi yang tinggi, termasuk kondisi inflasi dari negara-negara maju sejak 30 sampai 40 tahun perkembangan perekonomian negara tersebut.

Kedua, inflasi tinggi yang memaksa ekonomi negara-negara maju terkontraksi dan berpontensi negara tersebut menjadi resesi.

Ketiga, adanya ketidakpastian dalam lingkup geopolitik. Menurutnya faktor yang sebelumnya kerap dikesampingkan sehingga menjadi penanda dari fenomena The Perfect Storm.

“Aspek ini perlu diperhitungkan karena dampaknya mulai terlihat besar,” kata Mahendra.

Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk Hadapi Resesi Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan pemerintah sudah menyiapkan skenario-skenario terburuk untuk menghadapi perfect storm. Sebab badai resesi ekonomi global yang akrab disebut perfect storm bisa terjadi di hampir semua negara di dunia.

Menurutnya pemerintah harus tetap menggunakan prinsip kehati-hatian agar selalu siaga untuk menghadapi badai besar resesi ekonomi global yang menghantui negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

“Perfect storm itu menurut saya hampir semua bisa terjadi di dunia. Jadi kita harus waspadai itu,” kata Luhut.

Untuk itu, Luhut menekankan untuk menghadapi badai besar resesi ekonomi global tersebut dibutuhkan kekompakan antara pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan yang lain. Menurutnya kekompakan tersebut sudah berjalan dengan baik, hal itu terlihat bahwa Indonesia tidak masuk dalam daftar 28 negara pasien masuk IMF.

“Kemarin Bu Menkeu sudah menyampaikan sudah ada 28 negara yang antre masuk IMF. Kita jauh dari itu, kita mungkin salah satu negara yang terbaik hari ini,” kata Luhut.

Baca jugaDitengah Resesi Global Ekonomi, Bank Sentral Tak Dapat Menolak Bitcoin

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Payment Gateway  Gratis Terbaik, Simak di Sini Rekomendasinya

JAKARTA, duniafintech.com – Payment gateway adalah penyedia layanan pembayaran dan transaksi online yang membantu proses pembayaran bisnis. Adapun gerbang pembayaran ini bertugas menghubungkan pembeli dengan...

Dollar ke Rupiah Hari Ini di BCA hingga BRI, Intip Kurs-nya

JAKARTA, duniafintech.com – Dollar ke rupiah hari ini, sesuai kurs, melemah pada level Rp 15.673 di perdagangan pasar spot Senin (28/11). Adapun Rupiah melemah 0,39%...

Berita Kripto Hari Ini: FTX Lanjutkan Bayar Gaji Pegawainya

JAKARTA, duniafintech.com – Berita kripto hari ini mengulas pertukaran/bursa kripto yang bangkrut, yaitu FTX, dan perusahaan afiliasinya. Pada Senin, 28 November 2022, FTX yang sudah...

Modal Usaha UMKM jadi Fokus Amartha Kolaborasi dengan eFishery

JAKARTA, duniafintech.com -  PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) sebagai perusahaan teknologi finansial yang berfokus pada penyaluran modal usaha bagi UMKM, menjalin kolaborasi dengan eFishery. eFishery...

Keunggulan Mekanisme Blockchain, Aman & Transparan!

JAKARTA, duniafintech.com - Keunggulan mekanisme Blockchain tentunya memiliki keamanan yang kuat dan transparan dalam setiap transaksi. Teknologi ini merupakan teknologi pendukung yang diterapkan dalam aset kripto atau...
LANGUAGE