31.6 C
Jakarta
Rabu, 7 Oktober, 2026

Bitcoin Hadapi Bayang-Bayang Crash 10/10, Harga Minyak Jadi Ancaman Baru

Pasar Bitcoin (BTC) kembali menghadapi pekan yang membuat trader waspada. Bukan hanya karena harga BTC sedang mengalami tekanan, tetapi juga karena pasar memasuki peringatan satu tahun crash 10 Oktober 2025 atau “10/10”, salah satu peristiwa likuidasi terbesar dalam sejarah kripto.

Satu tahun lalu, Bitcoin baru saja mencetak harga tertinggi sepanjang masa sekitar US$126.199 pada 6 Oktober 2025.

Namun, hanya empat hari kemudian, pasar berubah drastis.

Pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai tambahan tarif 100% terhadap barang dari China memicu aksi jual besar-besaran.

Efeknya bukan sekadar koreksi harga Bitcoin. Posisi trading dengan leverage senilai lebih dari US$19 miliar terlikuidasi dan lebih dari 1,6 juta trader terdampak.

Kini, satu tahun kemudian, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$85.558, masih sekitar 32% di bawah rekor tertinggi tersebut.

Ancaman yang dihadapi pasar kali ini juga berbeda. Bukan perang dagang yang menjadi perhatian utama, melainkan harga minyak, pasokan solar dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Apa yang Terjadi pada Crash Bitcoin 10/10?

Tanggal 10 Oktober 2025 menjadi salah satu hari yang sulit dilupakan oleh trader kripto.

Empat hari sebelumnya, Bitcoin baru saja mencapai sekitar US$126.200 dan mencetak rekor harga tertinggi baru.

Optimisme pasar sangat tinggi.

Namun, kondisi berubah setelah Trump mengumumkan tarif tambahan 100% terhadap barang-barang China serta kontrol ekspor terhadap perangkat lunak.

Pasar kripto langsung mengalami aksi jual.

Masalah menjadi semakin besar karena banyak trader saat itu menggunakan leverage.

Ketika harga Bitcoin dan aset kripto lainnya jatuh, bursa secara otomatis menutup posisi yang tidak lagi memiliki margin cukup.

Terjadilah gelombang likuidasi.

Data Coinglass yang dikutip BeInCrypto menunjukkan nilai likuidasi mencapai lebih dari US$19 miliar.

Sekitar US$7 miliar bahkan terhapus hanya dalam satu jam.

Lebih dari 1,6 juta trader dilaporkan terkena dampaknya.

Seberapa dalam bitcoin akan turun

Bitcoin Kemudian Jatuh hingga US$58.600

Crash 10/10 ternyata bukan akhir dari tekanan Bitcoin.

Setelah peristiwa tersebut, harga BTC terus mengalami tekanan selama beberapa bulan berikutnya.

Bitcoin akhirnya mencapai titik terendah sekitar US$58.600 pada 1 Juli 2026.

Artinya, dari rekor US$126.200 menuju US$58.600, Bitcoin sempat kehilangan lebih dari separuh nilainya.

Sejak titik terendah tersebut, Bitcoin memang berhasil melakukan pemulihan cukup signifikan.

BTC kini kembali berada di kisaran US$85.000.

Namun, dengan harga sekitar US$85.558, Bitcoin masih berada sekitar 32% di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025.

Ancaman Oktober 2026 Kini Datang dari Minyak

Jika ancaman pada Oktober 2025 berasal dari perang dagang AS-China, situasi tahun ini berbeda.

Pasar menghadapi risiko dari energi dan konflik geopolitik.

Perang Amerika Serikat dengan Iran telah berlangsung berbulan-bulan dan masih memengaruhi perdagangan energi di kawasan Teluk.

Memang terdapat tanda-tanda pemulihan.

Aliran minyak mentah dari Teluk pada September telah kembali mencapai sekitar 91% dari tingkat ekspor sebelum perang.

Namun, kondisi produk bahan bakar olahan belum sepenuhnya pulih.

Pasokan bahan bakar seperti solar baru mencapai sekitar 60% dari kondisi sebelum perang.

Kondisi tersebut menjadi penting karena solar merupakan komponen vital bagi aktivitas ekonomi.

Truk, kapal, mesin industri dan berbagai sistem logistik bergantung pada bahan bakar tersebut.

Harga Solar AS Melonjak 73%

Dampak gangguan pasokan tersebut mulai terlihat pada harga.

Harga rata-rata solar di Amerika Serikat mencapai sekitar US$6,41 per galon pada 30 September.

Angka tersebut sekitar 73% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan harga solar dapat memberikan dampak yang lebih luas dibandingkan sekadar biaya mengisi bahan bakar kendaraan.

Hampir seluruh rantai distribusi barang menggunakan transportasi.

Jika biaya bahan bakar meningkat, perusahaan dapat meneruskan sebagian biaya tersebut kepada konsumen melalui harga produk yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memperburuk inflasi.

Dan inflasi kembali membawa pasar kepada persoalan yang sangat penting bagi Bitcoin: kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Harga Minyak Dunia Naik

Harga Minyak Masih di Atas US$100

Meski negara-negara Group of Seven (G7) telah sepakat melepaskan 100 juta barel cadangan minyak darurat, harga minyak masih berada pada level tinggi.

Harga Brent crude berada di sekitar US$102 per barel pada awal pekan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai pasokan energi belum sepenuhnya hilang.

Situasi semakin sensitif karena ketegangan di Selat Hormuz masih berlangsung.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Gangguan terhadap kapal tanker dapat dengan cepat mengubah ekspektasi pasar mengenai pasokan minyak.

Karena itu, trader Bitcoin sekarang tidak hanya memperhatikan grafik BTC.

Pergerakan minyak dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah ikut menjadi bagian dari analisis pasar kripto.

Mengapa Harga Minyak Bisa Menekan Bitcoin?

Hubungannya memang tidak langsung.

Namun, rantai dampaknya relatif mudah dipahami.

Harga minyak tinggi dapat meningkatkan biaya energi dan transportasi.

Biaya tersebut kemudian berpotensi meningkatkan inflasi.

Jika inflasi sulit turun, The Fed memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali memperketat kebijakan.

Suku bunga tinggi membuat obligasi dan instrumen berbunga lainnya semakin menarik.

Sebaliknya, aset berisiko seperti Bitcoin dapat menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil yang lebih kompetitif.

Inilah alasan mengapa pergerakan minyak menjadi salah satu faktor makro yang semakin diperhatikan pasar kripto.

Trump Soroti Masalah Kilang Minyak

Trump sendiri menilai persoalan harga bahan bakar saat ini tidak lagi semata-mata berasal dari Selat Hormuz.

Presiden AS tersebut justru menyoroti kondisi kilang sebagai salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga.

Namun, situasi geopolitik masih jauh dari stabil.

Tak lama setelah pernyataan tersebut, sebuah kapal tanker di kawasan Selat Hormuz dilaporkan mengalami serangan dan terbakar.

Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa risiko terhadap jalur energi masih dapat muncul sewaktu-waktu.

Apakah Crash 10/10 Bisa Terulang?

Kesamaan tanggal tentu tidak berarti pasar akan mengulangi crash yang sama.

Kondisi leverage, likuiditas, ekonomi dan struktur pasar saat ini berbeda dibandingkan Oktober 2025.

Namun, peringatan satu tahun 10/10 menjadi pengingat mengenai betapa cepatnya kondisi pasar kripto dapat berubah.

Terlebih, volatilitas kembali meningkat pada awal Oktober 2026.

Bitcoin kembali mengalami tekanan menuju US$84.000-US$85.000 ketika harga minyak meningkat dan yield obligasi AS bergerak naik.

Artinya, risiko makro tetap perlu diperhatikan.

Investor sebaiknya tidak menyimpulkan bahwa Bitcoin akan jatuh hanya karena memasuki tanggal yang sama dengan crash tahun lalu.

Sebaliknya, pelajaran terbesar dari 10/10 justru terletak pada risiko leverage berlebihan ketika pasar menghadapi ketidakpastian tinggi.

Leverage Jadi Pelajaran Terbesar dari Crash 10/10

Crash Oktober 2025 menunjukkan bagaimana leverage dapat memperbesar penurunan pasar.

Ketika terlalu banyak trader mengambil posisi long menggunakan dana pinjaman, koreksi harga yang relatif cepat dapat memicu likuidasi.

Likuidasi kemudian menciptakan tekanan jual tambahan.

Tekanan jual tersebut mendorong harga semakin rendah dan memicu likuidasi berikutnya.

Proses ini dapat berkembang menjadi semacam efek domino.

Karena itulah lebih dari US$19 miliar posisi dapat terhapus dalam waktu sangat singkat pada crash 10/10.

Situasi tersebut menjadi pelajaran penting ketika pasar kembali menghadapi volatilitas tinggi pada Oktober 2026.

Kesimpulan

Bitcoin memasuki pekan yang bertepatan dengan peringatan satu tahun crash 10/10, ketika lebih dari US$19 miliar posisi leverage terlikuidasi setelah pengumuman tarif Trump terhadap China.

Crash tersebut terjadi hanya empat hari setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi sekitar US$126.200.

Satu tahun kemudian, Bitcoin berada di sekitar US$85.558 atau masih sekitar 32% di bawah rekor tersebut.

Namun, sumber risiko Oktober 2026 berbeda.

Pasar kini menghadapi harga minyak di atas US$100, harga solar AS sekitar US$6,41 per galon, gangguan pasokan energi serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi dapat mempertahankan tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi kebijakan suku bunga The Fed.

Meski demikian, kesamaan tanggal tidak berarti crash 10/10 pasti terulang.

Peristiwa tersebut lebih tepat menjadi pengingat bagi investor mengenai bahaya leverage berlebihan ketika Bitcoin berada dalam kondisi pasar yang sangat volatil.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

BACA SELENGLAPNYA BERITA KRIPTO TERBARU DI SINI>>

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU