35.1 C
Jakarta
Selasa, 20 Oktober, 2026

Danantara Dongkrak Ekonomi 30 Kali Lipat Lewat Teknologi

Danantara membidik dampak ekonomi hingga 30 kali lipat melalui integrasi industri berbasis teknologi, inovasi, dan hilirisasi.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membidik dampak ekonomi hingga 30 kali lipat melalui pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi. Strategi tersebut akan didorong melalui Danantara Technology, Innovation, and Investment Forum (DTIIF) 2026 pada 26-28 Oktober 2026.

Forum berskala global ini ditargetkan mempertemukan 1.500 peserta, termasuk inovator, investor internasional, lembaga riset, dan perusahaan teknologi dunia. Sejumlah perusahaan yang dijadwalkan hadir antara lain SpaceX, Boeing, dan Airbus.

Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, mengatakan pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

“Satu-satunya jalan kalau kita ingin membangun industri ke depan yang memiliki dampak ekonomi cukup tinggi adalah dengan membangun industri berbasis teknologi dan inovasi, sehingga forum ini diadakan sebagai agenda tahunan pembuka peta jalan prioritas Danantara,” ujar Sigit dikutip 20 Oktober 2026..

Menurut Sigit, DTIIF dirancang sebagai agenda tahunan untuk menyelaraskan strategi investasi korporasi dengan arah kebijakan pemerintah. Forum tersebut juga ditujukan untuk membangun ekosistem industri dan investasi guna mendukung program ekonomi Presiden.

“Tujuan nomor satu kita adalah membangun platform sekaligus memenuhi kewajiban Danantara dalam membangun ekosistem industri dan ekosistem investasi guna mendukung program ekonomi dari Bapak Presiden,” katanya.

Danantara-1

Sigit menjelaskan, Danantara menetapkan lima pilar industri strategis sebagai landasan investasi. Pilar tersebut meliputi ketahanan energi, ketahanan pangan dan kesehatan, hilirisasi mineral, infrastruktur mobilitas dan digital, serta sektor perbankan dan teknologi finansial.

Dalam pengembangan hilirisasi mineral, Danantara mendorong integrasi rantai pasok dari hulu, tengah atau midstream, hingga hilir. Pendekatan ini dinilai mampu menghasilkan dampak ekonomi lebih besar dibandingkan aktivitas ekstraktif atau perakitan semata

“Kalau ekstraktif dampaknya hanya 1,2 sampai 1,5 dan perakitan hanya 1,4 sampai 1,9, tetapi jika kita garap dari hulu, tengah, hingga hilir, efek ekonominya tidak hanya 5 atau 10, melainkan bisa melompat 20 sampai 30 kali lipat,” ujar Sigit.

Pilar infrastruktur mobilitas dan digital mencakup kecerdasan buatan atau (Artificial Intelligence/AI), teknologi informasi, transportasi, perbankan, dan teknologi finansial (fintech).

Danantara juga menyoroti teknologi pertahanan sebagai sektor strategis untuk menjembatani inovasi dengan investasi. Selain itu, Sigit menyebut industri pendukung dengan fokus pada sektor pertanian atau agriculture.

“Pilar berikutnya mencakup infrastruktur mobilitas mulai dari digital, kecerdasan buatan, teknologi informasi, hingga transportasi, perbankan dan tekfin, serta teknologi pertahanan sebagai penopang akhir untuk menjembatani inovasi dengan investasinya,” tutur Sigit.

Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara, Ricardo Irwan Rei, mengatakan DTIIF ditargetkan dihadiri sekitar 1.500 peserta. Mereka mencakup 170 inovator global, lebih dari 100 perusahaan teknologi dunia, serta puluhan pusat riset dan inovasi.

Forum tersebut tidak hanya ditujukan sebagai ajang pertemuan, tetapi juga diharapkan menghasilkan kemitraan dan kesepakatan investasi yang dapat segera dijalankan.

“Jadi ini memang acara yang sangat besar, prestisius, tapi kami juga tidak ingin sekedar ramai, memang memberikan implikasi yang positif bagi proses industrialisasi kita hari ini,” kata Irwan.

Sigit menegaskan, keberhasilan forum akan diukur dari jumlah kesepakatan yang dihasilkan. Kesepakatan tersebut dapat berupa nota kesepahaman, head of agreement, maupun perjanjian yang bisa segera direalisasikan.

“Jadi, ukuran keberhasilan kita adalah berapa banyak deal-deal yang kita jalankan pada saat forum ini,” ujarnya.

danantara 4

Ia menambahkan, evaluasi hasil forum tidak berhenti ketika acara selesai. Danantara juga akan memantau perkembangan kesepakatan dalam satu hingga dua bulan setelah penyelenggaraan.

DTIIF 2026 dijadwalkan menghadirkan pimpinan perusahaan global dari sektor dirgantara, bioteknologi, dan kecerdasan buatan. Perwakilan SpaceX, Boeing, dan Airbus termasuk dalam daftar tokoh industri yang dijadwalkan hadir.

Selain itu, forum tersebut direncanakan menghadirkan peraih Nobel Peter Howitt dan lebih dari 100 CEO perusahaan teknologi dunia.

“Akan hadir para industrialis kelas atas dan pimpinan tingkat C dari SpaceX, Boeing, Airbus, bioteknologi hingga kecerdasan buatan, bersama peraih Nobel Peter Howitt serta lebih dari 100 CEO korporasi teknologi dunia,” tuturnya.

Rangkaian acara berlangsung selama tiga hari dengan agenda berbeda. Pada 26 Oktober, kegiatan akan diisi diskusi pleno bersama pakar teknologi, inovasi, dan investasi, arahan pimpinan, serta penampilan BUMN.

Pada hari kedua, forum akan menghadirkan panel diskusi sektoral secara paralel di sejumlah ruangan. Sementara itu, hari ketiga akan diisi sesi pleno publik. Danantara juga menyiapkan sesi business matching agar BUMN dapat memperkenalkan produk dan solusi unggulannya kepada calon mitra.

Managing Director Global Relations & Communications Danantara, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan DTIIF menjadi salah satu platform untuk memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan global, khususnya di bidang teknologi dan inovasi.

“Nah, memang fokus daripada acara DTIFF ini adalah bagaimana kita bisa membangun kepercayaan dengan para stakeholders yang terkait khususnya dalam hal ini adalah teknologi dan juga innovation,” kata Pahala.

Menurut Pahala, sekitar 70 persen pembahasan forum akan berfokus pada teknologi dan inovasi. Adapun 30 persen sisanya diarahkan pada investasi. Danantara juga menyiapkan platform kedua bernama The New Asia Forum yang berfokus pada upaya menarik modal ke kawasan Asia.

Pahala menyebut Asia berkontribusi sekitar 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, investasi global yang masuk ke kawasan tersebut diperkirakan hanya sekitar 25-30 persen.

Melalui kedua platform tersebut, Danantara berharap dapat memperkuat kepercayaan investor, memperluas kemitraan internasional, dan mempercepat pengembangan industri berbasis teknologi di Indonesia. DTIIF 2026 terbuka untuk umum. Mahasiswa, inovator, dan perusahaan rintisan atau startup dapat mendaftar sebagai peserta.

Baca selengkapnya Berita fintech Indonesia terkini di sini >>

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU