26.4 C
Jakarta
Selasa, 27 September, 2022

Data Pribadi Bocor, Pakar Siber Minta Masyarakat ‘Perbanyak Doa’

JAKARTA, duniafintech.com – Data pribadi yang bocor dinilai tidak banyak yang bisa dilakukan lagi selain berdoa agar tidak disalahgunakan.

Pakar Keamanan Siber sekaligus Chairman Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan oleh korban kebocoran data pribadi selain berdoa agar tak disalahgunakan.

“Tidak ada cara lain yang harus kita lakukan adalah berdoa jangan sampai disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana penipuan,” kata Ardi dalam diskusi polemik MNC Trijaya yang disiarkan secara daring sebagaimana dikutip dari IDX Channel, Minggu (11/09/2022).

Baca juga: Berita Fintech Indonesia: Bos Fintech Bicara Soal Data Warga RI, Ini Katanya

Seperti diketahui, dugaan data pribadi bocor berturut-turut dialami oleh sejumlah perusahaan swasta hingga pemerintah.

Mulai dari kasus KPU muncul, juga ramai pembobolan data pengguna PLN, SIM card, hingga PeduliLindungi.

Sedangkan pada 2021 dan 2020 juga muncul pembobolan data BPJS, e-Hac, indiHome, BRI Life, laporan KPAI, Bank Jatim, database Polri, Facebook, Cermati, Lazada, Tokopedia hingga sertifikat vaksin Presiden Joko Widodo.

Baca jugaPinjaman Online Terbaik Milik Pemerintah, Sudah Berizin OJK Lho

Lantas Ardi melihat hal tersebut bukanlah hal yang baru dan sudah terjadi dalam waktu yang lama. Maraknya kebocoran data ini pun menandakan bahwa Indonesia tidak berdaya dalam menghadapi perkembangan teknologi.

“Pada saat itu sudah kelihatan sekali bahwa kita tidak berdaya menghadapi perkembangan teknologi-teknologi peretasan atau penyadapan,” ungkapnya.

Menurutnya satu hal sisi dari keamanan cyber itu adalah tergantung pada ketahanan fisik manusia dalam memantau  peretasan tersebut. 

Sebab peretas, lanjutnya adalah adalah manusia paling sabar karena mereka sabar untuk melihat celah-celah, seluk beluk dari kulit data agar bisa melakukan peretasan.

“Sekarang kita tahu SDM keamanan cyber sangat terbatas jumlahnya bukan Indonesia saja tapi global saat ini posisi sekitar 3 juta posisi yang belum terisi sepenuhnya,” ujar dia.

Walaupun negara telah membentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sejak tahun 2017, menurutnya hal itu belum cukup untuk mengejar ketertinggalan dalam keamanan siber di Indonesia.

“Apakah cukup waktu? apa yang terjadi di dunia ini kita masih dalam ketertinggalan harus mengejar ketertinggalan di sana, SDM kurang, teknologi tidak punya,” tuturnya.

Baca juga: Berita Fintech Hari Ini: Tips Cermat Memanfaatkan Aplikasi Keuangan

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Pinjol Cepat Cair 2022 Legal, Simak Daftarnya di Sini

JAKARTA, duniafintech.com – Pinjol cepat cair merupakan layanan finansial yang sangat dibutuhkan oleh mereka mereka yang sedang terdesak dana cepat. Adapun pinjaman online langsung cair...

Payment Gateway: Definisi, Cara Kerja, hingga Manfaatnya

JAKARTA, duniafintech.com – Payment gateway pada dasarnya merupakan solusi bagi pembayaran pada bisnis online yang kian marak belakangan ini. Hal ini penting sebagai upaya memberikan...

Dampak Fintech di Indonesia hingga Sederet Keuntungannya

JAKARTA, duniafintech.com – Dampak fintech di Indonesia tentunya sangat besar. Adapun fintech muncul seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Seperti diketahui, saat ini penggunaaan teknologi informasi...

Pinjol Bunga Rendah 2022 Cepat Cair, Nih 6 Rekomendasinya

JAKARTA, duniafintech.com – Pinjol bunga rendah 2022 cepat cair tentunya sangat penting untuk diketahui oleh kamu yang tengah kepepet dana talangan. Meski saat ini ada...

Bisnis Fintech di Indonesia: Ini 11 Startup Fintech Terbaik

JAKARTA, duniafintech.com – Bisnis fintech atau financial technology di Indonesia tampak bertumbuh pesat dalam beberapa tahun belakangan. Hal ini terjadi sebagai dampak dari perkembangan globalisasi,...
LANGUAGE