Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan bergerak mendekati US$86.000 pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Penguatan terjadi setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Bitcoin tercatat naik sekitar 1,1% menjadi US$85.929,4 setelah sebelumnya sempat menyentuh US$86.995,4.
Meski demikian, Bitcoin masih kesulitan mempertahankan perdagangan di atas level US$87.000.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih mempertimbangkan dua kekuatan yang berlawanan. Data tenaga kerja yang melemah memberikan sentimen positif bagi aset berisiko, tetapi imbal hasil obligasi AS yang tinggi dan risiko inflasi masih membatasi kenaikan Bitcoin.
Data Tenaga Kerja AS Lebih Lemah dari Perkiraan
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan Bitcoin berasal dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Data menunjukkan perusahaan di AS hanya menambahkan sekitar 29.000 lapangan kerja sepanjang September 2026.
Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar.
Tidak hanya itu, data ketenagakerjaan untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Kondisi pasar tenaga kerja yang mulai melemah membuat investor memperkirakan The Fed memiliki ruang lebih sedikit untuk kembali menaikkan suku bunga secara agresif.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya memberikan sentimen positif bagi aset berisiko seperti saham dan kripto.

Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Turun
Perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed terlihat cukup signifikan.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di bawah 20%.
Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan ekspektasi pada pekan sebelumnya.
Bagi Bitcoin, kondisi ini menjadi faktor penting.
BTC sering kali sensitif terhadap perubahan likuiditas global. Ketika investor memperkirakan kebijakan moneter tidak akan semakin ketat, minat terhadap aset berisiko dapat meningkat.
Hal tersebut sempat terlihat pada Jumat setelah laporan ketenagakerjaan AS dirilis. Bitcoin langsung melonjak hingga menembus US$87.000.
Namun, kenaikan tersebut tidak berlangsung lama.
Bitcoin Belum Mampu Bertahan di Atas US$87.000
Meski sentimen dari data ketenagakerjaan cukup positif, Bitcoin belum mampu mempertahankan posisinya di atas US$87.000.
Salah satu penyebabnya adalah pergerakan imbal hasil Treasury AS.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat turun ke bawah 5,17% setelah data tenaga kerja diumumkan.
Namun, imbal hasil tersebut kemudian kembali meningkat menuju sekitar 5,28%.
Kenaikan yield Treasury membuat aset berbunga menjadi lebih menarik sehingga dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko yang tidak menghasilkan bunga secara langsung seperti Bitcoin.
Karena itu, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa satu laporan ketenagakerjaan yang lemah akan membuat The Fed langsung beralih menuju kebijakan moneter yang jauh lebih longgar.
Dolar AS Masih Menjadi Tantangan Bitcoin
Selain yield Treasury, kekuatan dolar AS juga menjadi faktor yang membatasi reli Bitcoin.
Dolar yang kuat biasanya memberikan tekanan terhadap berbagai aset yang diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut.
Bagi investor di luar Amerika Serikat, penguatan dolar dapat membuat pembelian aset berdenominasi dolar menjadi relatif lebih mahal.
Karena itu, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga mulai berkurang, Bitcoin masih membutuhkan katalis tambahan untuk melanjutkan reli.

ETF Bitcoin Kembali Catat Arus Masuk
Salah satu sinyal positif justru datang dari pasar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Produk ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk bersih US$102,7 juta pada 1 Oktober.
Sehari kemudian, yakni 2 Oktober, arus masuk meningkat menjadi sekitar US$189,8 juta.
Kembalinya aliran dana tersebut menjadi perkembangan positif setelah permintaan ETF sempat melemah menjelang akhir September.
ETF Bitcoin menjadi indikator penting karena produk tersebut memberikan akses kepada investor institusional dan investor pasar modal tradisional untuk memperoleh eksposur terhadap Bitcoin.
Jika arus masuk ETF terus berlanjut, permintaan institusional berpotensi membantu menopang harga BTC.
Harga Minyak di Atas US$100 Jadi Risiko
Di luar kebijakan The Fed, investor Bitcoin juga perlu memperhatikan harga minyak.
Harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik yang berlangsung di Timur Tengah.
Kondisi tersebut dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi.
Harga energi yang tinggi meningkatkan biaya transportasi, produksi dan distribusi barang. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat membuat inflasi lebih sulit turun.
Hal ini menciptakan dilema bagi The Fed.
Di satu sisi, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Di sisi lain, tekanan inflasi dari harga energi masih cukup tinggi.
Jika inflasi kembali meningkat, kemampuan The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.

US$87.000 Jadi Level Penting Bitcoin
Perhatian trader saat ini tertuju pada kemampuan Bitcoin menembus dan mempertahankan level US$87.000.
BTC telah beberapa kali bergerak melewati level tersebut tetapi belum mampu bertahan secara konsisten.
Apabila Bitcoin mampu membentuk perdagangan yang stabil di atas US$87.000, peluang menuju US$90.000 dapat kembali terbuka.
Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat memicu aksi ambil untung dari trader jangka pendek.
Karena itu, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari mendatang akan menjadi penting untuk menentukan apakah kenaikan saat ini berkembang menjadi breakout atau hanya reli jangka pendek.
Altcoin Ikut Menguat, Cardano Naik Lebih dari 10%
Sentimen positif Bitcoin juga diikuti sejumlah altcoin.
Ethereum (ETH) naik sekitar 0,7% menjadi US$2.715,88, sedangkan XRP menguat 1,3% menjadi sekitar US$1,52.
BNB naik sekitar 0,6%, sementara Solana relatif stagnan.
Pergerakan paling mencolok terjadi pada Cardano (ADA).
Harga ADA melonjak sekitar 10,6% menjadi US$0,2707, sekaligus menyentuh level tertingginya sejak Mei 2026.
Dogecoin (DOGE) juga menguat sekitar 3,1%.
Kenaikan sejumlah altcoin menunjukkan bahwa membaiknya sentimen tidak hanya terkonsentrasi pada Bitcoin.
Baca juga :Â
- Harga Bitcoin Tembus US$80.000, Arus Dana ETF Kripto AS Kembali Menguat
- AS Buka Jalan Baru Dana Investasi Masuk Kripto, Bitcoin Bisa Semakin Dilirik Institusi
- Harga Bitcoin Masuki Oktober dengan Kenaikan 6,33%, Tapi Permintaan ETF Mulai Melemah
- Cara Trading Bitcoin dan Altcoin yang Mudah
- INDODAX Raih Trusted & Popular Brand 2026 Berkat Kepercayaan Konsumen Kripto Indonesia
Kesimpulan
Harga Bitcoin kembali mendekati US$86.000 setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan yang lebih besar dari perkiraan.
Penambahan tenaga kerja hanya mencapai 29.000 pada September, sehingga pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Namun, Bitcoin masih menghadapi tantangan dari tingginya yield Treasury, dolar AS yang relatif kuat serta harga minyak di atas US$100 yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi.
Di sisi positif, ETF Bitcoin spot kembali mencatat arus masuk pada awal Oktober.
Level US$87.000 kini menjadi resistance penting. Jika BTC mampu menembus dan mempertahankan level tersebut, target psikologis US$90.000 berpotensi menjadi perhatian pasar berikutnya.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.
SELENGKAPNYA ARTIKEL BERITA KRIPTO HARI INI DI SINI>>





