30 C
Jakarta
Kamis, 30 Juni, 2022

Gawat! Harga Bitcoin Sedang Anjlok Parah, Sentuh Level US$ 23.000 per Keping

JAKARTA, duniafintech.com – Harga kripto terbesar di dunia yakni Bitcoin sedang anjlok dan makin membesar pada perdagangan Senin (13/6/2022) sore, karena investor cenderung menghindari aset berisiko dalam menghadapi aksi jual pasar global setelah inflasi di Amerika Serikat (AS) kembali meninggi.

Melansir CNBC Indonesia, per pukul 16:40 WIB, harga Bitcoin anjlok hingga 12,83% ke posisi harga US$ 23.987,21/koin atau setara dengan Rp 377.298.137/koin (asumsi kurs Rp 14.678/US$). Tak hanya Bitcoin saja, Ethereum, koin digital (token) terbesar kedua juga ambruk 17,17% ke harga US$ 1.216,59/koin atau Rp 17.857.108/koin.

Sebelumnya pada pagi hari ini, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 25.000. Tetapi, koreksinya semakin membesar dan kini diperdagangkan di kisaran US$ 23.000. Hal ini menjadi level terendahnya sejak Desember 2020.

Dengan ini, maka harga Bitcoin telah ambruk hingga sekitar 65% dari harga tertinggi sepanjang masanya di kisaran US$ 67.000 yang tercipta pada November 2021.

Pergerakan pasar kripto pada hari ini juga sejalan dengan pasar saham global yang juga berjatuhan setelah dirilisnya inflasi AS pada periode Mei lalu.

“Korelasi antara pasar ekuitas dan Bitcoin terus meningkat, menandakan bahwa keduanya bergerak semakin beriringan,” kata Naeem Aslam, analis di AvaTrade, dikutip dari AP News.

Sebelumnya pada Jumat pekan lalu, inflasi dari sisi konsumen AS yakni consumer price index (CPI) pada Mei 2022 melesat 8,6% secara tahunan (year-on-year/yoy). Inflasi tersebut naik dari bulan sebelumnya 8,3% (yoy) dan menjadi rekor tertinggi sejak 1981.

Kemudian inflasi inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan naik 6% (yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm) inflasi naik 1% dan inflasi inti 0,6% (mtm). Harga energi berkontribusi besar terhadap kenaikan inflasi.

Sepanjang Mei harga energi naik 3,9% dari bulan sebelumnya. Sementara dibandingkan Mei 2021, harga energi melonjak hingga lebih dari 34%. Harga minyak mentah yang masih tinggi saat ini, ada kekhawatiran inflasi masih akan terus meninggi.

Baca jugaBerapa Penghasilan YouTuber? Simak di Sini Cara Menghitungnya

Padahal sebelumnya, pelaku pasar sudah memprediksi bahwa inflasi Negeri Paman Sam berpotensi melandai pada bulan lalu, di mana mereka melihat inflasi AS pada April lalu sedikit melandai. Tetapi nyatanya, ekspektasi pasar tersebut pun meleset.

Data inflasi terbaru yang kembali meninggi membuat pasar semakin yakin bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga secara agresif.

Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 50 basis poin (bp) menjadi 1,25-1,5% adalah 76,8%. Bahkan, kenaikan 75 bp ke 1,5%-1,75% juga masuk perhitungan dengan kemungkinan 23,2%.

Baca juga5 Cara agar Akun Tidak Terkena Phising

Sementara itu dari pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury), pada jam perdagangan Indonesia, yakni pukul 16:28 WIB, yield Treasury tenor 10 tahun naik 8,1 basis poin (bp) menjadi 3,238%.

Bahkan untuk yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun melonjak signifikan yakni sebesar 14,6 bp menjadi 3,195%.

Baca jugaBumper Mobil Penyok: Cara Memperbaiki dan Estimasi Biayanya

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Peer to Peer Lending? Begini Cara Kerjanya

JAKARTA, duniafintech.com – Ada banyak hal yang sejatinya perlu diketahui tentang apa itu peer to peer lending, termasuk hingga ke cara kerjanya. Pada dasarnya, P2P...

Kemenko Marves Sebut Beli Minyak Goreng Pakai PeduliLindungi untuk Cegah Penimbunan

JAKARTA, duniafintech.com - Pelaksana Tugas Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Rachmat Kaimuddin menjelaskan, penggunaan aplikasi PeduliLindungi...

Memalukan! Karyawan Terraform Labs Masuk Daftar Larangan Terbang oleh Pemerintah Korsel

JAKARTA, duniafintech.com - Beberapa karyawan Terraform Labs yang berbasis di Korea Selatan (Korsel), perusahaan di belakang stablecoin Terra USD, yang runtuh bulan lalu dan...

Elon Musk Paksa WFO, Pegawai Tesla Gak Dapat Meja Kantor & WiFi

JAKARTA, duniafintech.com - Seruan keras Elon Musk untuk karyawan Tesla kembali ke kantor alias work from office (WFO) nyatanya tak mudah dijalankan. Ini karena...

Poin Penting Kelola Dana P2P Lending Syariah Untuk Beli Rumah

JAKARTA, duniafintech.com - Poin penting dalam kelola dana P2P lending syariah untuk membeli rumah akan dibahas di sini. Bentuk pengembangan nilai investasi P2P Lending...
LANGUAGE