31.8 C
Jakarta
Sabtu, 2 Juli, 2022

Ini Penyebab Harga Bitcoin Turun, Diprediksi Bakal Menguat Lagi Setelah US$25 Ribu

JAKARTA, duniafintech.com – Penyebab harga Bitcoin turun terjadi ketika pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam upaya memerangi inflasi yang tak terkendali. Harga Bitcoin (BTC) melanjutkan pelemahan atau turun di bawah US$30.000 untuk pertama kalinya sejak Juli 2021. 

Hal ini mencerminkan penurunan lebih dari 55 persen dari level tertingginya pada November 2021.

Mengutip dari Bloomberg, Selasa (10/5/2022), aset kripto terbesar di dunia itu turun 1 persen menjadi US$29.992 di perdagangan Asia. 

Kemudian Ethereum turun sebanyak 3,7 persen, sementara Solana turun 8,2 persen dan Avalanche turun 10,4 persen.

“Kami melihat slow-motion meltdown, karena sebagian besar adalah aksi jual pemegang lama. Sekarang beberapa perbendaharaan perusahaan melayang di dekat basis biaya mereka, pasar menunggu dan mengawasi untuk melihat apakah pemegang saham akan memaksa beberapa risiko,” kata Josh Lim, kepala derivatif di broker Genesis Global Trading yang berbasis di New York. 

Melansir Bisnis.com, penyebab harga Bitcoin turun terjadi ketika pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam upaya memerangi inflasi yang tak terkendali, sehingga menjauhkan investor dari aset spekulatif di pasar global.

Baca juga: Harga Kripto 10 Mei 2022 Lesu, Bitcoin Cs Semakin Terpuruk

Michael Novogratz, investor cryptocurrency miliarder yang memimpin Galaxy Digital Holdings Ltd., memperingatkan bahwa ia memprediksi keadaan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

“Kripto mungkin diperdagangkan berkorelasi dengan Nasdaq sampai kita mencapai keseimbangan baru. Naluri saya adalah ada beberapa pelemahan lagi yang harus dilakukan, dan itu akan diperdagangkan di pasar yang sangat berombak, bergejolak, dan sulit setidaknya untuk beberapa kuartal berikutnya sebelum orang-orang merasa bahwa kita berada pada keseimbangan,” kata Novogratz.

Sementara itu, Luna Foundation Guard (LFG), asosiasi yang dibuat untuk mendukung token terdesentralisasi dan blockchain Terra, mengatakan akan mengeluarkan pinjaman senilai sekitar US$1,5 miliar dalam Bitcoin dan TerraUSD untuk membantu memperkuat pasak TerraUSD setelah turun di bawah US$1 pada Sabtu lalu karena pasar kripto terus anjlok.

Baca juga: Siap-siap, Elon Musk Terapkan Twitter Berbayar Untuk Akun Pemerintah dan Perusahaan

“Kami mengawasi dengan cermat untuk melihat bagaimana harga pasar selama 24 jam ke depan. Ini Termasuk apakah mekanisme yang diperkenalkan untuk membantu meningkatkan ketergantungan, seperti LFG yang meminjamkan Bitcoin ke perusahaan perdagangan OTC, akan cukup untuk bertahan pada saat stres berat atau jika kita membutuhkan mekanisme stabilisasi tambahan,” kata Steven Goulden, analis riset senior di pembuat pasar kripto Cumberland DRW.

Dengan korelasi 40 hari merujuk patokan saham S&P 500 yang di sekitar rekor, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, setiap pukulan lebih lanjut yang menekan pasar saham akan berisiko menyeret Bitcoin turun juga.

Masih Berpotensi Turun

Harga Bitcoin sebagian besar bertahan antara US$ 35.000 dan US$ 46.000 selama beberapa bulan terakhir. Sehingga, penurunan harga terbaru mungkin menandai awal dari tren pasar baru mata uang kripto tertua itu.

Mengutip CoinDesk, indikator grafik harga Bitcoin cenderung bearish akhir pekan lalu. Sebab, harga mata uang kripto dengan kode BTS tersebut menembus di bawah garis tren naik tiga bulan.

Mencapai level tertinggi sepanjang masa pada 10 November tahun lalu, penurunan harga di bawah US$ 34.500 menunjukkan koreksi lebih dari 50%.

“BTC terus terbebani oleh tekanan makro dan sentimen pasar secara umum,” kata Joe DiPasquale, CEO BitBull Capital, kepada CoinDesk

“Kenaikan suku bunga AS menghasilkan volatilitas tetapi pergerakan naik hanya berumur pendek,” tambahnya. 

DiPasquale memperkirakan, harga Bitcoin akan turun lebih jauh, penyebab harga bitcoin turun terutama karena kebijakan moneter terus berkontraksi. Tapi, dia justru tidak melihat BTC akan jatuh di kisaran US$ 25.000 hingga US$ 30.000.

Harga Bitcoin Diprediksi Menguat Pasca US$25 Ribu, November 2022

Analis Bitcoin terkemuka, Tone Vays berpendapat, bahwa harga Bitcoin menguat pasca menyentuh US$25 ribu, kemungkinan besar November 2022 nanti. Ini mencerminkan peluruhan pasar terus berlanjut, seperti yang telah diproyeksikan oleh Tone Vays sendiri.

Proyeksi terbaru oleh Tone itu disampaikannya di Youtube pada Jumat (6/5/2022), ketika harga Bitcoin mulai masuk ke wilayah US$35 ribu, dilansir dari Blockchain Media.

Berikut ini prediksinya: 

Pertama, potensi melemahnya harga Bitcoin hari ini sudah ia sampaikan di sejumlah video sebelumnya, secara teknikal.

Kedua, Tone Vays mengatakan bahwa dia sedang menunggu kesempatan terbaik untuk membeli Bitcoin (BTC) di tengah aksi harga bearish aset kripto unggulan itu.

Ketiga, bahwa harga Bitcoin kemungkinan akan melanjutkan lintasannya ke bawah dan mencoba masuk ke support level psikologisnya, yakni US$30 ribu, kecuali naik secara tiba-tiba. Arahan terakhir ini, mencerminkan bahwa whale bisa tiba-tiba melakukan pembelian banyak dan membuat harga Bitcoin terdongkrak cepat.

Keempat, berdasarkan grafik, kita perlu kembali ke pola segitiga pada Mei 2022 ini, guna memastikan akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, jika terus berada di bawah batas pola itu, maka mungkin pada bulan depan bisa berakhir di sekitar US$23 ribu.

Kelima, pada grafik mingguan, Vays tak menampik harga Bitcoin terlihat “benar-benar mengerikan”, karena kripto itu memancarkan beberapa sinyal bearish. Tegasnya, kita saat ini sedang dalam proses membentuk penutupan terendah mingguan baru. Ini berpotensi akan menjadi penutupan terendah kedua dalam waktu sekitar satu tahun. Namun jika berlanjut lebih dari setahun, itu bukanlah pertanda baik, itu bukan pertanda bullish. 

Keenam, ia menyarankan ketika harga Bitcoin jatuh cepat, jangan lakukan pembelian begitu saja. Diperlukan beragam alasan mulai dari analisis teknikal ataupun fundamental pada rentang waktu tertentu.

Ketujuh, dengan skenario lebih suram, Vays mengatakan kemungkinan pasar bearish ini akan memakan waktu berbulan-bulan sebelum Bitcoin dapat mencetak support level terbaiknya.

Kedelapan, Vays memilih untuk mengkumulasi Bitcoin dengan harga terendah di akhir tahun. Jika Bitcoin terus turun, ia memprakirakan, pada November harga Bitcoin menguat pasca berada di kisaran US$25 ribu. Ini yang ia sebut bahwa pasar bearish berakhir. 

Ini senada dengan prakiraan teknikal oleh analis Katie Stockton dari Fairlead Strategies, bahwa support terkuat harga Bitcoin adalah US$27.200. Yang menegaskan pasar masih sangat bearish dan akan disusul pelemahan berikutnya.

Harga Bitcoin Cs terkini

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Selasa (10/5/2022) pagi, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) melemah 8,83 persen dalam 24 jam dan 19,40 persen dalam sepekan.

Saat ini, harga bitcoin berada di level USD 31.147,90 per koin atau setara Rp 453,2 juta (asumsi kurs Rp 14.552 per dolar AS). 

Kemudian Ethereum (ETH) juga masih melemah. Selama 24 jam terakhir, ETH anjlok 9,11 persen dan 19,71 persen dalam sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level USD 2.300,77 per koin. 

Kripto selanjutnya, Binance coin juga masih melemah pagi ini. Dalam 24 jam terakhir BNB ambles 12,86 persen dan 20,22 persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga USD 310,72 per koin. 

Baca jugaPadahal Berizin OJK, Perusahaan Reksadana Ini Tipu Korban hingga Rp500 M

Kemudian harga kripto Cardano (ADA) juga masih berkutat di zona merah. Dalam satu hari terakhir ADA melemah 14,62 persen dan 18,88 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level USD 0,6376 per koin.

Adapun Solana (SOL) masih terus meorosot hari ini. Sepanjang satu hari terakhir SOL melemah 11,78 persen dan 23,99 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level USD 66,67 per koin.

Baca juga: Usai Suku Bunga The Fed Naik, Harga Bitcoin Melonjak Jadi USD 40.000

XRP juga masih terkoreksi sangat dalam. Dalam satu hari terakhir, XRP turun 10,55 persen dan 17,50 persen dalam sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga USD 0,5093 per koin. 

Terra (LUNA) juga masih melemah hari ini. Terra anjlok 35,55 persen dalam 24 jam terakhir dan 48,54 persen dalam sepekan. Saat ini Terra dihargai USD 43,38 per koin.

Stablecoin seperti Tether (USDT) dan USD coin (USDC), pada hari ini sama-sama menguat 0,02 persen. Hal tersebut membuat harga keduanya berada di level USD 1,00.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Luncurkan Fitur Baru, Aplikasi Anak Bangsa Ini Mudahkan Bikin NFT Kurang dari Satu Menit

JAKARTA, duniafintech.com - Aplikasi Media Sosial karya anak bangsa, Woilo meluncurkan fitur 'NFT Woilo'. Dengan fitur baru tersebut, Aplikasi asal Surabaya, Jawa Timur itu...

Tak Konsisten, Rusia Batalkan Rencana Pembayaran Ekspor Minyak Pakai Bitcoin

JAKARTA, duniafintech.com - Pemerintah Rusia membatalkan rencana sebelumnya untuk menerima pembayaran Bitcoin untuk ekspor minyak. Kementerian keuangan negara itu menganggap bitcoin sebagai opsi pembayaran...

Dijuluki Ratu Kripto, Ternyata Perempuan Ini Tipu Investor Sampai Rp60 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - FBI menambahkan Dr. Ruja Ignatova, yang memproklamirkan diri sebagai 'Cryptoqueen' atau ratu kripto ke dalam daftar Sepuluh buronan Paling Dicari. Bahkan lembaga...

Menyasar Timur Indonesia, Pemerintah Tambah Kuota Ekspor Produsen Minyak Goreng 

JAKARTA, duniafintech.com - Pemerintah akan memberikan insentif berupa penambahan kuota ekspor bahan baku minyak goreng bagi produsen yang memasok minyak goreng ke wilayah Indonesia...

Asuransi Mobil Bekas, Segini Besaran Preminya

JAKARTA, duniafintech.com – Kehadiran asuransi mobil bekas tentunya akan memberikan proteksi sekaligus kenyamanan bagi pemilik kendaraan. Bukan hanya untuk mobil baru, asuransi mobil memang sangat...
LANGUAGE