Perusahaan fintech P2P lending PT Mitrausaha Indonesia Group (Modalku) mengungkapkan sejumlah sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk memperoleh pendanaan pada 2026.
Direktur Modalku, Arthur Adisusanto, menyebut sektor perdagangan, distribusi, makanan dan minuman, serta jasa pendukung usaha sebagai bidang yang tetap prospektif. “Sektor-sektor tersebut masih menunjukkan kinerja yang relatif baik, terutama usaha dengan perputaran kas yang cepat dan permintaan yang stabil,” katanya seperti dikutip dari Bisnis.com, Kamis 5 Februari 2026.
Dari sisi segmen usaha, Arthur menilai UKM menengah umumnya lebih siap menerima pendanaan karena memiliki struktur operasional dan pencatatan keuangan yang lebih matang. Meski demikian, usaha kecil juga tetap memiliki peluang, khususnya jika kebutuhan pendanaannya jelas, bersifat produktif, serta didukung oleh model bisnis yang berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa dengan proses seleksi yang tepat, kedua segmen tersebut dapat terus didukung melalui penyaluran pembiayaan yang sehat. Dalam hal ini, Modalku menerapkan prinsip kehati-hatian dengan menilai kelayakan usaha secara menyeluruh, mulai dari kinerja historis, arus kas, tujuan penggunaan dana, hingga kemampuan bayar.
Secara umum, Arthur menilai kinerja UKM sepanjang 2025 diwarnai tantangan yang cukup besar. Aktivitas usaha memang tetap berjalan, namun pelaku UKM menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli, meningkatnya biaya operasional, serta ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada arus kas.
Kondisi tersebut mendorong Modalku untuk menerapkan sikap lebih berhati-hati dalam menyalurkan pendanaan, sejalan dengan pertimbangan kualitas aset dan keberlanjutan arus kas usaha. Selain itu, fluktuasi ekonomi juga membuat perusahaan semakin selektif agar pertumbuhan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Memasuki 2026, Arthur memandang tekanan di segmen UKM berpotensi berlanjut, terutama pada sektor yang sensitif terhadap perubahan permintaan dan biaya produksi. Risiko utama dinilai berasal dari ketidakpastian ekonomi, pergeseran pola konsumsi, serta volatilitas harga sejumlah komoditas.
Sebagai respons, strategi Modalku difokuskan pada penguatan manajemen risiko, seleksi penerima dana yang lebih terukur, pemusatan pada industri dengan potensi pertumbuhan, serta peningkatan edukasi keuangan berbasis digital.
Sebagai informasi, fintech lending yang telah beroperasi selama satu dekade ini telah menyalurkan pendanaan kumulatif sebesar Rp9,2 triliun kepada lebih dari 74.000 pemilik usaha di berbagai sektor. Sepanjang 2025, penyaluran pendanaan Modalku tercatat meningkat 81% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku UKM terhadap layanan tersebut.
Arthur menambahkan, pendanaan tersebut dimanfaatkan untuk menjaga arus kas, meningkatkan kapasitas usaha, serta membuka peluang pertumbuhan baru secara berkelanjutan, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (20/1/2026).





