31.5 C
Jakarta
Jumat, 12 Agustus, 2022

Cara dan Tips Menjadi Lender Online P2P Lending

Belakangan ini, menjadi lender online P2P Lending (peer-to-peer lending) kian diminati oleh masyarakat, terutama kalangan milenial. Fakta pun menunjukkan fintech P2P lending kian dibanjiri pendana, baik dari institusi maupun super lender.

Statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa tingkat lender institusi meningkat di semua jenis pada Juni 2021 lalu, dengan total outstanding industri mencapai Rp22,89 triliun, lender retail (individu) dalam negeri sebesar Rp5,27 triliun, luar negeri Rp221,93 miliar dan sisanya Rp17,4 triliun berasal dari lender institusi.

Per Juni 2021, total rekening lender bahkan sudah menyentuh angka 8,96 juta entitas dengan total pendanaan mencapai Rp14,7 triliun. Jumlah itu diketahui naik tajam dari Januari 2021, yang kala itu jumlah rekeningnya baru mencapai 6,55 juta entitas dengan total pendanaan Rp9,1 triliun.

Lender di P2P Lending

P2P lending saat ini hadir untuk memudahkan pemilik UMKM dalam memperoleh pembiayaan. P2P lending pun menjadi sarana masyarakat luas untuk menjadi pendana dan membantu mengembangkan UMKM. Lender di P2P lending diketahui dibagi menjadi tiga, yaitu individu, badan usaha, dan badan hukum, sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016.

Lender terdiri dari:

  • individu WNI
  • individu WNA
  • badan hukum dalam/luar negeri
  • badan usaha dalam/luar negeri
  • lembaga internasional.

Syarat-syarat Lainnya bagi Lender

  1. Minimal Usia 21 Tahun

Hal itu harus dibuktikan dengan adanya dokumen kependudukan pada saat melakukan registrasi di perusahaan penyelenggara fintech P2P lending.

  1. Memiliki Pendapatan atau Sudah Bekerja

Jika dari pendapatan Anda per bulannya masih dapat disisihkan untuk dikembangkan, sebaiknya manfaatkan dana tersebut. Pastikan dana yang hendak dikembangkan adalah uang dingin. Di samping itu, pastikan bahwa dana yang disalurkan itu bukan dari pos pengeluaran bulanan maupun dana darurat. Hal ini dilakukan untuk mencegah jika sewaktu-waktu membutuhkan uang cepat.

  1. Punya NPWP

Anda pun wajib memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai lender. Hal itu karena keuntungan yang Anda peroleh dari mendanai di P2P lending bakal dikenakan pajak sehingga harus dilaporkan.

  1. Pahami Risikonya

Sebelum terjun ke dalam pengembangan dana lewat P2P lending, sebaiknya pelajari terlebih dahulu risikonya dan pastikan bahwa Anda siap menerima segala potensi yang dapat terjadi.

Cara Kerja P2P Lending sebagai Lender

Lender pada awalnya wajib meregistrasikan diri ke platform P2P lending yang dipilih. Lender pun tentu mesti telah memenuhi persyaratan yang dijelaskan di atas. Setelah registrasi diri dikonfirmasi, lender dapat melihat profil borrower.

Sebagai lender, Anda dapat menyeleksi dengan melihat riwayat pendapatan, keuangan, dan tujuan peminjaman. Jika tujuan peminjaman untuk alasan produktif, misalnya membuka usaha, lender bisa melihat bentuk usaha, domisili, kategori, deskripsi, dan data penting lainnya. Data-data itu telah disediakan di marketplace P2P lending.

Lalu, lender bisa memilih borrower, yang tentunya sesuai dengan preferensi dan tujuan masing-masing. Selanjutnya, P2P lending akan membuka penggalangan dana. Apabila sudah mencukupi, dana tersebut ini disalurkan kepada borrower.

Lender sendiri akan memperoleh keuntungan saat borrower mengembalikan pinjaman disertai bunganya.

Tips Mendanai di P2P Lending

  1. Pilih Platform Terpercaya

Sejumlah fintech lending bermunculan dalam beberapa tahun belakanga, tetapi memang tidak semuanya legal berizin OJK. Sebagai lender pemula, tips paling sederhana yang perlu dipahami adalah memilih platform yang terbukti legal.

Dalam hal ini, penting untuk berhati-hati saat memilih perusahaan tempat Anda hendak mendanai nantinya.

  1. Periksa Kelayakan

Tujuan utama Anda sebagai lender tentu saja untuk memperoleh return. Karena itu, Anda pun harus fokus pada tujuan ini dan jangan sampai mengabaikan risiko dalam pendanaan yang dilakukan.

Untuk tahap permulaan, pelajarilah risiko investasi sebelum terjun memulainya. Hal ini bisa Anda lakukan dengan mempelajari prospektus secara terperinci. Apabila ada yang tidak dipahami, tanyakan di awal kepada perusahaan P2P lending yang dituju.

  1. Perhatikan Transparansi Perusahaan

Perusahaan P2P lending haruslah terbuka terhadap para penggunanya sebab jika tidak, boleh jadi itu tanda perusahaan tersebut abal-abal. Lalu, periksa pula performa dan kinerja perusahaan selama ini.

Untuk menjadi lender online peer-to-peer lending, penting bagi Anda untuk memilih perusahaan yang transparan terkait bisnis. Adapun keterbukaan perusahaan menjadi tanda perusahaan itu tidak mengkhawatirkan apabila diawasi.

Terkait hal itu, dapatkan informasi mengenai profil perusahaan, keuntungan, mitigasi risiko, dan lain-lain.

  1. Pilih Perusahaan dengan Riwayat Baik

Hal penting lainnya yang harus dipertimbangkan adalah riwayat perusahaan dalam berbisnis. Pasalnya, tidak ada orang yang ingin tergabung dalam perusahaan yang tidak profesional dan memiliki riwayat bisnis yang tidak meyakinkan.

Karena itu, pelajari laporan keuangan perusahaan untuk mengecek riwayatnya. Hal itu akan dapat membantu Anda mengambil keputusan, termasuk mempertimbangkan potensi keuntungan.

  1. Periksa Nilai TKB

Salah satu indikator yang dipertimbangkan investor sebelum mengucurkan dana, termasuk dalam P2P lending, adalah Tingkat keberhasilan (TKB). Pada P2P lending, TKB menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pendanaan.

Misalnya, mengenai P2P lending mampu menyediakan fasilitas penyelesaian kewajiban pinjam-meminjam, terutama dalam jangka waktu 90 hari sejak jatuh tempo harus sudah ada penyelesaian dari borrower.

  1. Tidak Berlebihan dalam Menawarkan Keuntungan

Dihadapkan pada perusahaan pendanaan yang menawarkan keuntungan terlalu berlebihan tentu saja akan menimbulkan tanda tanya.  Pasalnya, perusahaan yang sehat akan menawarkan keuntungan yang masuk akal.

Hal itu karena bisnis yang dijalankan tampak terus berkesinambungan dan bisa diharapkan dalam kurun waktu panjang.

  1. Memiliki Jangkauan Pasar Luas

Raihan perusahaan yang luas sejalan dengan tingginya potensi mencapai lebih banyak pelanggan. Hal itu pun menunjukkan potensi ekspansi bisnis di kemudian hari.

Karena itu, pilih perusahaan dengan jangkauan pasar yang luas karena potensinya untuk berkembang di masa yang akan datang lebih tinggi dan hal itu juga tentu akan menguntungkan Anda.

  1. Meminta Syarat yang Wajar

Ketika mendaftar di perusahaan pendanaan, tentu akan diwajibkan memenuhi berbagai persyaratan. Dalam hal ini, perhatikan apakah persyaratan yang diminta itu masih wajar atau tidak, khususnya yang berkaitan dengan data pribadi.

Kalau perlu, Anda dapat mengeceknya ke peraturan yang sudah ditetapkan OJK. Hal itu penting agar keamanan data pribadi Anda tetap terjaga dan tidak disalahgunakan.

  1. Cek Peminjamnya

Pada P2P lending, borrower tidak hanya terbatas pada keperluan konsumtif, tetapi juga bisa untuk keperluan produktif. Misalnya, petani dan pelaku UMKM.

Karena itu, Anda bisa memilih sesuai produk pendanaan yang ditawarkan perusahaan P2P lending yang dituju, baik untuk borrower konsumtif maupun borrower produktif.

  1. Pilih yang Menyediakan Asuransi Kredit

Risiko selalu ada dalam investasi, termasuk pada pendanaan di P2P lending. Risiko tertingginya adalah uang pendana tidak kembali lantaran peminjam gagal bayar.

Oleh sebab itu, pilihlah perusahaan P2P lending yang menyediakan mitigasi risiko yang baik. Di antara mitigasi risiko yang umumnya ditawarkan oleh perusahaan P2P lending adalah asuransi kredit. Perusahaan P2P lending yang berada di naungan OJK mayoritas sudah bekerja sama dengan perusahaan asuransi.

 

Penulis: Kontributor

Editor: Anju Mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Mengaktifkan Rekening Pasif Mandiri, Gampang Kok!

JAKARTA, duniafintech.com – Cara mengaktifkan rekening pasif Mandiri berikut ini tentu penting untuk diketahui oleh para nasabah Bank Mandiri. Pasalnya, hal ini diperlukan, terutama ketika...

Pajak Fintech Berikan Kontribusi Rp83,15 Miliar

JAKARTA, duniafintech.com - Kementerian Keuangan mencatat sektor keuangan digital atau financial technology (fintech) memberikan kontribusi (pajak) sebesar Rp83,15 miliar dari capaian bulan Juni 2022...

Berita Bitcoin Hari Ini: Bitcoin Cs Lanjutkan Penguatan Harga

JAKARTA, duniafintech.com - Berita Bitcoin hari ini datang dari pergerakan aset kripto yang masih menguat dan menunjukkan pergerakan yang cukup signifikan.  Belakangan ini, harga Bitcoin...

Menkeu Pusing Kuota Anggaran BBM Subsidi Makin Bengkak

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) mengkhawatirkan anggaran untuk subsidi energi akan membengkak lantaran harga BBM dan volume penggunaan BBM subsidi merangkak naik. Jika mengacu...

Dukung UMKM, Fintech Gelontorkan Rp52,92 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Koperasi dan UKM terkait peluncuran program Solusi dan Konsultasi Pembiayaan...
LANGUAGE