26.3 C
Jakarta
Rabu, 14 Januari, 2026

Mahasiswa Terjerat Pinjol: Bukti Kurangnya Literasi Keuangan di Kampus

JAKARTA, duniafintech.com – Mahasiswa terjerat pinjol atau pinjaman online menjadi salah satu topik terhangat belakangan ini di dunia teknologi finansial.

Pasalnya, pinjaman online yang tadinya merupakan terobosan dalam layanan keuangan, kini justru menjerat para mahasiswa yang menggunakan layanannya untuk memenuhi gaya hidup hedonisme.

Sebelumnya ratusan mahasiswa kampus IPB dikabarkan sempat terjerat pinjol hingga miliaran. Bahkan mahasiswa UI ada yang tega membunuh temannya untuk mencuri, motifnya untuk membayar utang pinjol.

Dan baru-baru ini survei acak yang dilakukan pihak kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyebutkan bahwa sebanyak 58 mahasiswa terjerat pinjol dari nominal kecil hingga puluhan juta rupiah.

Berikut ini ulasan selengkapnya terkait mahasiswa terjerat pinjol, seperti dikutip dari Republika.co.id, Selasa (7/11/2023).

Baca juga: Elon Musk akan Jadikan Twitter sebagai Pinjol usai Dibeli Rp 668 T?

ISFF 2023 INDODAX

Mahasiswa Terjerat Pinjol: Literasi Tidak Cukup dengan Pesan

Peneliti Institute of Public Policy and Economic Studies (INSPECT), Ahmad Ma’ruf menjelaskan, meski pinjol ini dianggap sebagai terobosan layanan keuangan yang cepat dan mudah dibandingkan perbankan, namun dampak-dampak negatifnya pun banyak dan menjadi mirip dengan rentenir.

Dampak negatif ini pun kerap kali dirasakan oleh kalangan yang literasi keuangannya tidak baik, seperti ibu rumah tangga dan mahasiswa. 

“Dan seringnya pinjol dijadikan skema Ponzi untuk gali lubang tutup lubang. Jadi kebanyakan konsumen itu tidak hanya ke satu pinjol, tapi pinjam lagi ke pinjol lain buat melunasi utang pinjol,” ujar Ma’ruf.

Menurut Ma’ruf, literasi keuangan itu tidak cukup dengan menyampaikan pesan, tetapi harus terus dilakukan hingga muncul kesadaran, yakni dengan adanya manajemen risiko.

Untuk mahasiswa yang banyak terpapar dengan media sosial dan gaya hidup hedonis, perlu diberi literasi keuangan dengan kesadaran atas manajemen risiko. Menurut Ma’ruf, mahasiswa jurusan ekonomi dan keuangan pasti diajarkan mengenai hal tersebut, tetapi belum tentu jurusan lainnya.

“Ini gaya hidup hedonis yang masuk ke anak muda, tidak lepas dari sosmed. Literasi finansial harus ada kesadaran terhadap manajemen risiko, dan gaya hidup, dosen di dalam kelas harus mengajarkan hal itu juga,” ujar dosen Prodi FEB UMY ini.

Kesadaran Reputasi

Tidak hanya kesadaran mengenai bunga pinjol yang tinggi, mereka juga perlu diperingatkan mengenai kesadaran reputasi. Karena apabila meminjam hingga menunggak, pinjol akan menggunakan kontak yang diakses dari telepon peminjam untuk menagih ke seluruh kontak yang ada.

“Saya sering sekali dapat chat WhatsApp yang menagih pinjol, ini kan reputasi dipertaruhkan. Kalau pinjolnya sih tetap untung dengan cost mereka yang besar,” jelasnya.

Selain dengan literasi keuangan, hal lain yang perlu diupayakan agar mahasiswa terjerat pinjol adalah dengan mempermudah akses pembiayaan dari perbankan atau koperasi yang ada di kampus.

Tapi tentunya akses pembiayaan tersebut hanya untuk mempermudah biaya kuliah, bukan gaya hidup hedonis anak muda. Apalagi untuk melunasi utang karena judi online.

“Makanya sebagai pengajar di kelas kita harus terus menyampaikan hal tersebut kepada para mahasiswa,” kata dia.

Mahasiswa Terjerat Pinjol: OJK Ingatkan Jangan untuk Konsumtif, Apalagi untuk Gaya Hidup

Sebelumnya diberitakan, puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diketahui terjerat pinjaman online (pinjol). Diketahui uang pinjamannya untuk membeli ponsel dan motor baru.  

Terkait hal ini Kepala Otoritas Jasa Keuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Parjiman mengatakan pihaknya mewanti-wanti mahasiswa agar tidak terjerat pinjol, terutama yang ilegal. 

“Tapi kami selalu wanti-wanti kepada mahasiswa dan juga masyarakat untuk tetap waspada dengan pinjol ilegal,” ujarnya, dikutip via Kompas.com.

Dia mengatakan Satgas Pemberantasan Aktivasi Keuangan Ilegal (PAKI) sudah menutup 5.753 pinjol ilegal. Namun, diakuinya bahwa pinjol ilegal masih ada yang beroperasi.  

Langkah yang akan diambil OJK DIY untuk menanggulangi mahasiswa terjerat pinjol ilegal adalah dengan cara pemberian literasi di kampus-kampus. Dia mengatakan OJK DIY telah berkeliling ke sejumlah kampus. 

“Yang akan datang ke STIE YKPN dan STIM YKPN, di kampus lain ada UGM, UNY, UST kita lakukan literasi juga,” ujar dia.

Baca juga: Joki Pinjol Solusi atau Masalah? Panduan Mengenai Joki Pinjol

Mahasiswa Terjerat Pinjol

Menurutnya, kemudahan pengajuan pinjaman ditengarai menjadi penyebab masih banyaknya pinjol ilegal yang beroperasi. Dia mengimbau kepada mahasiswa dan masyarakat agar mengambil pinjaman online yang legal. 

Mahasiswa dan masyarakat juga bisa melakukan pengecekan langsung daftar pinjol legal yang sudah mendapatkan izin dari OJK, yakni melalui nomor aplikasi Whatsapp ke 081 157 157 157. 

“Ingat hanya ada 102 (saat ini menjadi 101, red) peer to peer lending (pinjol) yang terdaftar di OJK,” kata dia. 

Selain itu, dia mengingatkan kepada mahasiswa untuk mengambil pinjaman sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan membayar. 

“Pinjam untuk kepentingan produktif. Jangan untuk konsumtif, apalagi untuk gaya hidup. Serta pahami hak, kewajiban dan risikonya,” ucapnya. 

OJK saat ini juga tengah berupaya untuk memperbaiki ekosistem pinjaman online dengan cara memberlakukan moratorium izin peer to peer lending.  Moratorium izin ini dimulai sejak tahun 2020 lalu. 

Sebelumnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menemukan 58 mahasiswanya terjerat pinjaman online (pinjol). Data tersebut ditemukan pasca UMY menggelar survei penggunaan pinjol pada mahasiswanya. 

Menurut Rektor UMY Gunawan Budiyanto mengatakan bahwa survei yang dilakukan ini secara acak atau random. 

“Survei secara acak, ternyata ada 58 yang ngaku pernah pinjam pinjol,” kata Gunawan.

Setelah ditelusuri para mahasiswa yang terjerat pinjol karena untuk menuruti gaya hidup. Di antaranya untuk mengganti telepon genggam dan motor. 

“Ada yang bilang ganti HP, ganti motor, untuk gaya hidup. Tapi, untuk bayar SPP enggak ada,” imbuhnya.

Baca juga: Paylater Bunga Rendah Terpercaya Ada yang 0% Lho! 

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU