25.8 C
Jakarta
Kamis, 6 Oktober, 2022

Sri Mulyani Klaim Turunkan Rasio Utang 37,91 Persen

JAKARTA, duniafintech.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim dalam waktu dua tahun setelah pandemi berhasil menurunkan rasio utang. Terbukti rasio utang mencapai 37,91 persen di tahun ini.

Sri Mulyani mengatakan rasio utang Indonesia mencapai 40,7 persen di tahun 2021, mengalami penurunan menjadi 37,91 persen di tahun 2022. Menurutnya hanya sedikit negara yang berhasil menurunkan rasio utang pemerintah di tahun ke-3 setelah pandemi.

“Capaian ini menunjukkan momentum pemulihan ekonomi Indonesia masih cukup kuat,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Penambahan Modal BUMN, Erick: Jangan Dibilang Utang Lagi 

Terbukti, dia mencontohkan tercermin dari indeks penjualan retail yang tumbuh cukup solid. PMI kembali menguat sebesar 51,7 persen pada bulan Agustus 2022. Sementara konsumsi listrik turut melonjak, khusus sektor bisnis tumbuh 25,9 persen, sedangkan sektor industri mengalami pertumbuhan 16,2 persen.

“Artinya, kegiatan ekonomi dari sisi produksi terus tumbuh,” kata Sri Mulyani.

Menurutnya akibat pemulihan ekonomi ini, angka kemiskinan Indonesia mengalami penurunan dari puncak akibat pandemi yaitu sebanyak 10,14 persen di tahun 2021 menjadi 9,54 persen di tahun 2022. Pemerintah juga menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, sehigga angka pengangguran mengalami penurunan dari 6,26 persen di tahun 2021 menjadi 5,83 persen di tahun 2022.

Baca juga: Luhut: Kita Salah Satu Negara yang Punya Utang Terkecil di Dunia

Untuk itu, disiplin konsolidasi fiskal harus tetap dilakukan sehingga tahun 2023 defisit APBN bisa kembali dibawah 3 persen agar APBN pun tetap terjaga kekuatan dan kesehatannya serta dapat berperan optimal sebagai shock absorbe.

“Semoga capaian-capaian positif ini akan terus berlanjut ke depannya,” kata Sri Mulyani.

Dia menilai dengan pencapaian-pencapaian tersebut, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang cepat dan tinggi untuk pemulihannya selama masa pandemi. Pada tahun 2021, PDB riil Indonesia telah mencapai 1,6 persen diatas level prapandemi. Kemudiam di semester pertama tahun 2022 bahkan jauh lebih tinggi lagi, yaitu 7,1 persen.

“Ini merupakan posisi tertinggi ketiga di antara negara G20 dan ASEAN,” kata Sri Mulyani.

Kendati demikian, dia menilai pengelolaan fiskal yang pruden dan hati-hati selama krisis pandemi berlanjut juga berdampak pada akumulasi defisit fiskal 2020-2021 yang masig tergolong moderat yaitu 10,7 persen.

“Namun efektif mendorong pemulihan ekonomi,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Tol Serang-Panimbang Pakai Utang China, Luhut: Jangan Mubazir!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Asuransi Online Terbaik – Tips Jaga Diri Kala Pancaroba Datang

JAKARTA, duniafintech.com - Asuransi online terbaik menjadi salah satu solusi memproteksi diri kala musim pancaroba datang kerap membawa penyakit. Perubahan cuaca dan suhu udara di...

Masyarakat Digital Perempuan, Pemuda dan UMKM jadi Fokus Pemerintah

JAKARTA, duniafintech.com - Masyarakat Digital Perempuan, Pemuda dan UMKM, jadi fokus pemerintah untuk memacu peningkatan produktivitasnya. Bank Indonesia menyampaikan dalam acara perhelatan internasional Presidensi G20,...

Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini di BCA dan BRI, Cek di Sini

JAKARTA, duniafintech.com – Dollar ke rupiah hari ini, Rabu (5/10/2022), menurut kurs yang tersedia, menguat pada level Rp 15.248 di perdagangan pasar spot. Adapun rupiah...

Pertumbuhan Investor Pasar Modal Asal Sumatera Utara Meningkat 30,41 Persen

JAKARTA, duniafintech.com - Pertumbuhan investor pasar modal Provinsi Sumatera Utara, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai  memiliki potensi. Terbukti, investor pasar modal Provinsi Sumatera Utara...

Berita Bitcoin Hari Ini: Wuih, Bitcoin Kembali ke US$20.000!

JAKARTA, duniafintech.com – Berita Bitcoin hari ini datang dengan kabar menggembirakan. Pasalnya, Bitcoin kembali menyentuh level US$20.000. Sebagai informasi, harga mayoritas kripto utama kembali pada...
LANGUAGE