28.3 C
Jakarta
Jumat, 7 Agustus, 2020

Terdaftar di Indodax, Theta Siap Rambah Pasar Indonesia

DuniaFintech.com – Thetalabs atau Theta, platform streaming blockchain yang berdomisili di San Jose, California, siap rambah pasar Indonesia melalui kerjasama dengan Indodax sebagai salah satu pionir Indonesia startup bitcoin, blockchain dan perdagangan aset kripto.

CEO Thetalabs, Mitch, menjelaskan Theta adalah jaringan pengiriman video terdesentralisasi yang didukung oleh pengguna dan berjalan pada blockchain khusus jaringan Theta. Pengguna dapat memperoleh hadiah token karena menggunakan kelebihan bandwidth mereka untuk berbagai video dengan pengguna lain didekatnya.

“Kami telah mengembangkan jaringan pengiriman video dan mengimplementasikan kemitraan teknologi dengan platform video. Karena itu, Indonesia adalah pasar yang sangat menarik dan kami sangat senang memperkenalkan Theta Network kepada penyedia layanan lokal,” kata Mitch.

Lebih lanjut dijelaskan, kemitraan dengan Indodax merupakan langkah penting untuk menggaet pasar Nusantara. Seperti diketahui, Indonesia memiliki populasi aset kripto yang sangat aktif.

Saat ini Theta sudah memiliki beberapa Theta Guardian Nodes (server blockchain Theta) yang tersebar di Indonesia. Theta menggunakan TFUEL sebagai token atau aset kripto sebagai pembayaran. Token ini juga bisa menjadi komoditas yang dapat dibeli di Indodax.

Mitch optimis pertumbuhan video streaming seperti halnya game akan terus meningkat. Dari riset yang berhasil dihimpun, seperti kelompok riset dalam S&P Global Market Intelligence, langganan video OTT Indonesia yang berbayar menembus sekitar 36,4% rumah tangga broadband pada 2018. Angka ini diharapkan tumbuh 16,4% selama lima tahun ke depan.

Sementara menurut peneliti lain, pendapatan pada segmen Video-on-Demand diproyeksikan mencapai US $304 pada tahun 2020 dan diharapkan untuk menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR 2020-2024) sebesar 9,6%, serta menghasilkan volume pasar yang diproyeksikan dari US $ 439 juta pada tahun 2024.

Dengan ukuran pasar konten video besar Indonesia, Theta ingin memasuki pasar Indonesia dan bekerja sama dengan penyedia konten video lokal untuk membangun jaringan Theta yang terdesentralisasi.

“Dengan terdaftar di Indodax, kami ingin meningkatkan kesadaran protokol Theta dan terus meningkatkan komunitas kami dan menambahkan lebih banyak Guardian Nodes untuk sepenuhnya mendesentralisasikan protokol kami,” ungkap Mitch.

Baca Juga:

Senada dengan Mitch, CEO Indodax, Oscar Darmawan mengatakan, pihaknya selalu berusaha menghadirkan dan mendukung pengembangan infrastruktur Blockchain di Indonesia.

“Theta adalah salah satu blockchain yang menurut kami cukup berpotensi di masa depan. Khususnya melihat dari daftar partner korporasi Theta, yaitu Samsung, CJ Hello dan Google.”

“Saya kira hingga sekarang tidak banyak protokol blockchain yang mempunyai kekuatan partnership di dunia korporasi sebesar Theta. Saya sangat terkesan dengan daftar partnership yang dibawa oleh Theta,” jelas Oscar.

Thetalabs dan TFUEL

THETA adalah token tata kelola dari protokol blockchain Theta yang digunakan untuk dipertaruhkan sebagai simpul validator untuk menghasilkan blok, untuk mengamankan jaringan, dan untuk berpartisipasi dalam tata kelola protokol. Staking THETA juga menghasilkan TFUEL.

TFUEL adalah token operasional protokol blockchain Theta. Pengguna akan menggunakan Theta Fuel untuk menyelesaikan transaksi seperti membayar relay node untuk dapat mengakses video, atau untuk menyebarkan dan berinteraksi dengan kontrak pintar. Relay node menghasilkan Theta Fuel untuk setiap streaming video yang mereka bagikan ke pengguna lain di jaringan.

Setelah meluncurkan jaringan utamanya, pada bulan Maret 2019, beberapa pemimpin industri blockchain telah bergabung dengan jaringan Theta sebagai Enterprise Validator Nodes.

Setelah Theta berhasil mengimplementasikan jaringan Theta pada Dapp pertama, Theta TV, perusahaan itu juga kemudian bermitra dengan platform video seperti Contentos, MBG Newsgroup Korea, CJ Hello, dan Samsung VR.

“Peluncuran Theta Mainnet 2.0 baru-baru ini telah sukses besar, dengan basis kode forking ke kode 2.0 tanpa hambatan, dan cakupan yang luas dari kemitraan peluncuran dengan Google Cloud. Tetapi yang paling penting untuk jangka panjang adalah peluncuran main net Guardian Node staking,” pungkas Mitch.

(DuniaFintech/Karin Hidayat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

P2P Lending Syariah Terpercaya dan Terdaftar di OJK

DuniaFintech.com - P2P lending syariah menjadi pilihan bagi masyarakat yang menghindari bunga pinjaman. P2P lending syariah tidak hanya menawarkan pinjam meminjam tetapi...

Mau Bisnis Untung Saat Corona? Peluang Usaha ini Cukup Menjanjikan untuk Dicoba

DuniaFintech.com - Saat ini usaha yang bisa dilakukan hanya dengan di rumah saja menjadi usaha yang paling cocok untuk dilakukan agar penghasilan...

Pinjam Uang Tanpa Riba, Ini Beberapa Jenis Pinjaman yang Bisa Jadi Pilihan Anda

DuniaFintech.com - Berencana pinjam uang tanpa riba? Banyak yang menganggap penyertaan bunga pada pinjaman konvensional sebagai riba yang seharusnya dihindari umat Muslim. Beberapa...

Fintech Bersaing jadi Penyedia Pembayaran di Saat Transaksi E-Commerce Meningkat

DuniaFintech.com - Pandemi covid-19 membuat transaksi digital semakin menggeliat. Pasalnya, imbauan untuk mengurangi penggunaan uang tunai yang digaungkan pemerintah membuat fintech bersaing...

Telunjuk.com Bantu Tingkatkan UMKM Lewat Basis Data

DuniaFintech.com - Layanan e-commerce aggregator berbasis digital, Telunjuk.com menekankan pentingnya pemanfaatan basis data elektronik untuk membantu pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)...
LANGUAGE