Kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali menjadi perhatian pasar kripto. Namun, Grayscale menilai pelaku pasar Bitcoin tidak perlu terlalu khawatir karena kondisi kebijakan moneter Amerika Serikat saat ini berbeda dengan siklus pengetatan yang terjadi pada 2022.
Dalam analisis yang diterbitkan pada 17 September 2026, Zach Pandl, Head of Research Grayscale, menyebut kenaikan suku bunga terbaru sebagai “penyesuaian di tengah siklus”, bukan awal dari perubahan besar dalam kebijakan moneter.
Pandangan tersebut muncul setelah Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada 16 September 2026.
The Fed menyatakan langkah tersebut berkaitan dengan tingkat inflasi yang masih tinggi dan ditujukan untuk membantu mengembalikan inflasi menuju target 2%.
Grayscale Sebut Kenaikan Suku Bunga Kali Ini Berbeda
Menurut Grayscale, kenaikan suku bunga terbaru tidak serta-merta menandai dimulainya siklus pengetatan agresif seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.
Zach Pandl mengatakan bahwa kenaikan 25 basis poin pada September 2026, ditambah kemungkinan kenaikan berikutnya pada tahun ini, diperkirakan tidak akan menghasilkan perubahan besar dalam alokasi modal di pasar aset digital.
Pandangan tersebut penting bagi pasar Bitcoin karena perubahan suku bunga biasanya memengaruhi daya tarik relatif antara aset berisiko dan instrumen yang memberikan imbal hasil.
Ketika suku bunga naik, investor memiliki lebih banyak alternatif untuk memperoleh imbal hasil dari aset berbunga. Kondisi tersebut secara teori dapat meningkatkan biaya peluang memegang Bitcoin yang tidak memberikan bunga secara langsung.
Namun, Grayscale melihat skala pengetatan kali ini jauh lebih terbatas dibandingkan siklus sebelumnya.
Berbeda dengan Siklus The Fed pada 2022
Perbandingan dengan 2022 menjadi bagian penting dari analisis Grayscale.
Pada Maret 2022, The Fed memulai rangkaian kenaikan suku bunga yang berlangsung cukup agresif. Hingga Juli 2023, suku bunga acuan telah dinaikkan sebanyak 525 basis poin.
Kebijakan tersebut secara signifikan mengubah kondisi likuiditas dan meningkatkan imbal hasil yang tersedia dari uang tunai maupun instrumen berbunga.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor makro yang menekan berbagai aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Grayscale menilai kondisi 2026 berbeda karena kenaikan suku bunga kali ini terjadi setelah periode kebijakan moneter yang lebih kompleks, termasuk rangkaian pemangkasan suku bunga sejak September 2024 hingga Desember 2025.
The Fed kemudian kembali menaikkan suku bunga pada September 2026 untuk pertama kalinya sejak 2023.
Dengan demikian, Grayscale melihat kemungkinan satu atau dua kali kenaikan suku bunga pada 2026 sebagai sesuatu yang berbeda dari kampanye pengetatan panjang pada 2022-2023.
Mengapa Suku Bunga Penting bagi Bitcoin?
Bitcoin merupakan aset yang tidak memberikan bunga seperti deposito atau obligasi.
Karena itu, ketika imbal hasil instrumen berbunga meningkat, investor perlu mempertimbangkan kembali biaya peluang untuk mempertahankan aset seperti Bitcoin.
Sebaliknya, ketika suku bunga rendah dan likuiditas berlimpah, aset berisiko dapat memperoleh dukungan karena investor mencari instrumen dengan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.
Hubungan tersebut tidak selalu berlangsung secara langsung. Harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti permintaan institusional, arus dana ETF, kondisi likuiditas global, sentimen pasar, regulasi, serta perkembangan ekonomi dan geopolitik.
Karena itu, kenaikan suku bunga 25 basis poin tidak otomatis berarti Bitcoin harus mengalami penurunan berkepanjangan.
Pergerakan pasar setelah keputusan The Fed pada September 2026 juga menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.
Bitcoin Tetap Bergerak Volatil Setelah Keputusan The Fed
Bitcoin sempat mengalami pergerakan tajam setelah keputusan suku bunga terbaru.
Menurut laporan Bitcoin.com, Bitcoin sempat kembali berada di atas US$77.000 pada 17 September 2026, setelah sebelumnya menyentuh level terendah bulanan kurang dari 24 jam sebelumnya.
Rebound tersebut juga diikuti likuidasi posisi short kripto senilai hampir US$260 juta.
Data tersebut menunjukkan bahwa keputusan The Fed memang memicu volatilitas, tetapi belum menghasilkan pola penurunan berkelanjutan pada Bitcoin.
Bagi trader, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara volatilitas jangka pendek setelah keputusan bank sentral dan perubahan tren makro dalam jangka lebih panjang.
Suku Bunga Tinggi Tidak Selalu Buruk bagi Industri Kripto
Menariknya, Grayscale juga melihat bahwa suku bunga yang lebih tinggi dapat memberikan manfaat bagi beberapa segmen industri kripto.
Salah satunya adalah bisnis stablecoin.
Penerbit stablecoin seperti Circle dan Tether dapat memperoleh pendapatan bunga dari cadangan yang mereka simpan dalam bentuk uang tunai dan surat utang pemerintah jangka pendek.
Ketika tingkat imbal hasil meningkat, pendapatan dari aset cadangan tersebut juga berpotensi meningkat.
Artinya, dampak kenaikan suku bunga terhadap industri kripto tidak seragam.
Bitcoin sebagai aset yang tidak menghasilkan bunga dapat menghadapi tantangan berbeda dibandingkan perusahaan atau produk kripto yang memperoleh pendapatan dari aset berbunga.
Produk Keuangan Berbasis Blockchain Bisa Mendapat Manfaat
Grayscale juga menyoroti potensi dampak positif dari imbal hasil yang lebih tinggi terhadap produk keuangan berbasis blockchain.
Obligasi yang ditokenisasi dan reksa dana pasar uang berbasis blockchain, misalnya, dapat menjadi lebih menarik ketika investor mencari instrumen yang memberikan imbal hasil sekaligus memanfaatkan infrastruktur teknologi aset digital.
Dengan demikian, meningkatnya suku bunga tidak selalu berarti seluruh industri kripto berada dalam kondisi yang sama.
Sebagian produk yang memberikan eksposur terhadap aset berbunga justru dapat memperoleh keuntungan dari lingkungan imbal hasil yang lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan semakin beragamnya ekosistem aset digital dibandingkan ketika Bitcoin masih menjadi fokus utama pasar kripto.
Grayscale: Siklus 2026 Bukan Pengulangan 2022
Perbedaan utama yang ditekankan Grayscale adalah skala dan durasi pengetatan moneter.
Pada 2022, investor menghadapi serangkaian kenaikan suku bunga yang berlangsung lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut secara bertahap memperketat kondisi keuangan dan meningkatkan imbal hasil aset berbunga.
Sementara itu, kondisi 2026 sejauh ini hanya menunjukkan satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan kenaikan berikutnya masih menjadi perhatian pasar.
Grayscale memperkirakan satu atau dua kenaikan pada 2026 tidak akan memberikan dampak terhadap alokasi modal sebesar siklus pengetatan 525 basis poin pada 2022 hingga 2023.
Namun, pandangan tersebut merupakan analisis Grayscale, bukan kepastian mengenai arah pasar Bitcoin.
Perubahan data inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, kondisi pasar obligasi dan perkembangan ekonomi AS tetap dapat mengubah ekspektasi investor.
Baca juga :
- Apakah Bitcoin Bisa Dibeli dengan Uang Rp50 Ribu? Ini Caranya
- Cara Kirim Bitcoin dari Indodax ke Wallet Lain dengan Aman
- Arus Dana ETF Bitcoin Tembus US$3,8 Miliar, INDODAX Nilai Pasar Tetap Perlu Cermati Faktor Makro
Apa Artinya bagi Trader Bitcoin?
Bagi trader Bitcoin, perbedaan siklus tersebut berarti keputusan The Fed perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Kenaikan suku bunga 25 basis poin memang dapat meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Namun, dampaknya terhadap Bitcoin akan bergantung pada apakah kenaikan tersebut berkembang menjadi siklus pengetatan yang panjang atau hanya menjadi penyesuaian terbatas.
Selain suku bunga, trader juga perlu memperhatikan data inflasi, imbal hasil Treasury AS, arus dana ETF Bitcoin dan kondisi likuiditas global.
Pergerakan harga Bitcoin setelah keputusan The Fed menunjukkan bahwa pasar dapat merespons dengan cepat, baik melalui pembelian maupun likuidasi posisi derivatif.
Karena itu, volatilitas tetap menjadi risiko utama meskipun Grayscale menilai kondisi saat ini berbeda dari 2022.
Kesimpulan
Grayscale menilai trader Bitcoin tidak perlu menganggap kenaikan suku bunga The Fed pada 2026 sebagai pengulangan siklus pengetatan 2022.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada 16 September 2026. Menurut Grayscale, langkah tersebut lebih menyerupai penyesuaian di tengah siklus dibandingkan awal dari perubahan besar kebijakan moneter. (Bitcoin News)
Perbedaan terbesar terletak pada skala. Pada 2022 hingga 2023, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak 525 basis poin dalam kampanye pengetatan yang berlangsung panjang.
Sementara itu, Grayscale memperkirakan satu atau dua kenaikan suku bunga pada 2026 tidak akan menghasilkan perubahan besar terhadap alokasi modal di pasar aset digital.
Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi juga dapat memberikan manfaat bagi segmen tertentu dalam industri kripto, seperti penerbit stablecoin dan produk keuangan berbasis blockchain yang memperoleh pendapatan dari aset berbunga.
Meski demikian, Bitcoin tetap menghadapi volatilitas tinggi. Investor masih perlu mencermati kebijakan The Fed berikutnya, inflasi, imbal hasil obligasi, arus dana institusional dan kondisi likuiditas global.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki volatilitas dan risiko yang tinggi.





