PT Bank DBS Indonesia menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) PT JULO Teknologi Finansial (JULO) dalam skema penyaluran kredit atau loan channeling.
Kerja sama tersebut telah berjalan selama satu tahun sejak Agustus 2025 dengan limit pendanaan mencapai Rp 500 miliar. Selama periode tersebut, JULO mencatat telah menyalurkan pendanaan sebesar Rp 640 miliar kepada pengguna.
Pendanaan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya pendidikan, renovasi rumah, hingga kebutuhan sehari-hari.
Kerja sama ini berlangsung di tengah perkembangan industri pinjaman daring (pindar) dan masih terbatasnya akses sebagian masyarakat terhadap kredit formal.
JULO menyebut penetrasi kredit di Indonesia masih berada di sekitar 5 persen dari total populasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu ruang bagi layanan kredit digital untuk menjangkau kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani lembaga keuangan formal atau underbanked.
Presiden Direktur JULO Harri Suhendra mengatakan, kerja sama dengan Bank DBS Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pendanaan, tetapi juga kepercayaan dalam ekosistem kredit digital.
“Kerja sama ini bukan hanya tentang pendanaan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dalam ekosistem kredit digital di Indonesia,” ujar Harri dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, selama satu tahun terakhir, dukungan Bank DBS Indonesia membantu JULO memperluas akses pembiayaan kepada masyarakat, termasuk untuk kebutuhan produktif seperti modal usaha dan pendidikan.
“Ke depannya, kami akan terus memperkuat kolaborasi ini untuk menghadirkan akses kredit digital yang semakin inklusif, aman, dan bertanggung jawab kepada lebih dari 3 juta pengguna JULO,” kata Harri.
Pembiayaan pindar tembus Rp 105,63 triliun Kerja sama antara perbankan dan perusahaan teknologi finansial tersebut berlangsung ketika pembiayaan melalui industri pindar terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Juli 2026, outstanding pembiayaan pindar mencapai Rp 105,63 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 24,76 persen secara tahunan (year on year/yoy). Perkembangan tersebut menunjukkan meningkatnya penyaluran pembiayaan melalui platform pinjaman daring di Indonesia.
Di sisi lain, perluasan akses pembiayaan juga diikuti kebutuhan untuk menjaga kualitas penyaluran kredit, terutama karena layanan kredit digital menggunakan data untuk menilai kemampuan dan kelayakan calon penerima pembiayaan. JULO menyatakan menggunakan teknologi analisis risiko berbasis data dan machine learning dalam proses penilaian kredit.
Baca artikel berita fintech Indonesia selengkapnya di sini>>





