31.2 C
Jakarta
Minggu, 14 April, 2024

China, Vietnam hingga Jepang Incar Tanaman Penghasil Emas RI, Ternyata Banyak di Sekitar Rumah

JAKARTA, duniafintech.com – Tanaman porang yang nama latinnya yaitu Amorphophallus Oncophyllus Muelleri Blume ternyata memiliki nilai ekonomis tinggi. Karena itu, tanaman ini banyak dicari orang bahkan hingga luar negeri.

Tanaman ini banyak ditanam oleh petani Desa Blungun, Blora, Jawa Tengah. Bahkan tak hanya di tanah Jawa, di Pulau Sumatera juga demikian. Porang ini kian populer dari hari ke hari.

Porang sebenarnya merupakan umbi-umbian yang termasuk dalam famili Areaceae dan tumbuh di hutan. Masa panen tanaman ini setahun sekali.

Tanaman porang ini tumbuh di bawah kerindangan tanaman seperti jati, mahoni, sonokeling dan sengon dengan intensitas sinar matahari 40% yang tidak terlalu panas atau dingin.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (10/5/2022) Porang umum dijual dalam berbagai bentuk seperti umbi, irisan kering, tepung porang, dan glukomannan. 

Baca juga: 10 Perusahaan Investasi Terbesar di Dunia, Mulai dari BlackRock Hingga Perusahaan Milik Warren Buffett

Glukomannan sendiri sangat penting dalam industri makanan karena serat alaminya dapat dijadikan pengganti agar-agar, mempercepat rasa kenyang, memperlambat pengosongan perut.

Tanaman ini bisa jadi bahan makanan yang cocok untuk orang diet. Selain itu juga bisa mengurangi kadar kolesterol dalam darah.

Baca juga: Usai Suku Bunga The Fed Naik, Harga Bitcoin Melonjak Jadi USD 40.000

Tidak hanya itu, bahan ini juga bisa dijadikan campuran pembuatan kertas agar kuat dan lemas. Glukomannan juga dapat menjadi bahan pembuat lem, bahan pembuat kapsul, pengikat formulasi tablet, pengganti gel, hingga silikon sebagai isolator listrik.

Porang pun bisa digunakan untuk industri kosmetik. Meski baunya tergolong tak sedap, nilai kegunaannya sangat tinggi.

Baca juga: Siap-siap, Elon Musk Terapkan Twitter Berbayar Untuk Akun Pemerintah dan Perusahaan

Mengutip, Data Badan Karantina Pertanian menyebut di semester I 2021, ekspor porang mencapai 14,8 ribu ton. Ini meningkat dari 2019 yang 5,7 ribu ton. Ada lonjakan hingga 160%. Tanaman ini diburu China, Vietnam, hingga Jepang.

Baca jugaPadahal Berizin OJK, Perusahaan Reksadana Ini Tipu Korban hingga Rp500 M

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Iklan

ARTIKEL TERBARU

LANGUAGE