32.8 C
Jakarta
Selasa, 9 Agustus, 2022

Fintech dan Digital Bank jadi Tantangan Industri Perbankan

DuniaFintech.com – Industri perbankan konvensional disebut-sebut tengah menghadapi disrupsi dan tantangan. Dikatakan, selain jasa keuangan berbasis teknologi, fintech saat ini badan keuangan tradisional juga menghadapi pesaing digital bank.

Hal tersebut dikemukakan oleh Mantan CEO Bank CIMB Niaga, Arwin Rasyid. Ia mengatakan, selain fintech, digital bank sebagai perbankan yang sepenuhnya memanfaatkan layanan dan fitur daring berpotensi menjadi rival dari industri pendahulunya.

Lebih lanjut, Arwin mengatakan digital bank menjadi tren dengan pasar yang potensial. Memanfaatkan fitur dan perangkat dasar teknologi, seperti chat, aplikasi dan sosial media diperkirakan disrupsi industri jasa keuangan telah dimulai.

“Kakaotalk melahirkan kakao bank di korea selatan. wechat melahirkan webank di Tiongkok. aplikasi belanja shopnowpaylater melahirkan klarna bank di swedia,”

Arwin kemudian menjelaskan soal tren digital bank yang mulai populer dan berpotensi berbagi pasar dengan fintech. Menurut sepengetahuannya, wilayah Eropa berhasil menggandeng nasabah sebanyak 15 juta. Ia juga menyinggung Kakao Bank yang berhasil mendaftarkan 240 ribu nasabah dalam waktu 2 hari.

Baca juga:

Digital Bank Siap Saingi Fintech

Menurut Arwin, kehadiran fintech dan digital bank dalam skena industri disebabkan evolusi infrastruktur jaringan internet, seperti 3G dan 4G. Sementara itu, isu kehadiran jaringan 5G juga membuat teknologi yang revolusioner hadir mewarnai sektor keuangan, mulai dari blockchain, cloud computing, artificial intelligence serta VR dan AR.

“Bank harus segera bersiap menyambut datangnya era 5G dan mengadaptasi teknologi digital yang mendorong peningkatan layanan perbankan,”

Selain itu, Arwin menilai bank konvensional perlu mengadaptasi perkembangan teknologi dan digitalisasi. Menurutnya, 4 hal yang perlu diadaptasi oleh jasa keuangan tersebut meliputi inovasi, sumber daya yang kompeten, pengalaman pengguna dan konsumen serta efisiensi penjualan antar sektor.

Arwin menilai perbankan perlu tanggap dalam merespon transisi dan fenomena tersebut. Kenyamanan, efisiensi dan kecepatan merupakan faktor yang dicari dan dibutuhkan pasar saat ini.

“Saatnya bank menyusun langkah strategis baru sebagai agenda besar bank ke depan,”

DuniaFintech/Fauzan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Cara Top Up OVO lewat OCBC NISP 2022: ATM & Mobile Banking

JAKARTA, duniafintech.com – Cara top up OVO lewat OCBC NISP sejatinya hampir mirip kok dengan cara isi saldo OVO lewat sejumlah bank lainnya. Saat ini,...

Cara Menghubungkan Akulaku ke Bukalapak, Banyak Manfaatnya!

JAKARTA, duniafintech.com – Cara menghubungkan Akulaku ke Bukalapak berikut ini perlu diketahui karena akan memberikan banyak manfaat bagi penggunanya. Nah, sebagai pelanggan Akulaku, barangkali kamu...

Fantastis! Hingga Juni 2022, Sudah 9,5 Juta UMKM Masuk Ekosistem Digital

JAKARTA, duniafintech.com - Hingga Juni 2022, sudah 9,5 juta UMKM masuk ekosistem digital. Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki mengatakan sebanyak 19,5 juta pelaku...

Jangan Salah Kira, Inilah Perbedaan Bitcoin dan Stablecoin

JAKARTA, duniafintech.com - Perbedaan Bitcoin dan Stablecoin sangat mencolok. Data dari Coinmarketcap menunjukkan ada sekitar 20 ribu kripto yang tercatat.  Dari sekian banyak kripto di...

Lindung Konsumen, AFPI Percepat Sertifikasi Tenaga Penagihan

JAKARTA, duniafintech.com – Untuk meningkatkan perlindungan konsumen, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) percepat program pelatihan dan sertifikasi bagi para tenaga penagihan sehingga di...
LANGUAGE