30.4 C
Jakarta
Senin, 21 September, 2026

Harga Bitcoin Tembus US$82.000, Turunnya Harga Minyak Jadi Pendorong Utama

Harga Bitcoin tembus US$82.000 pada 21 September 2026 seiring harga minyak turun. Simak hubungan minyak, inflasi, The Fed dan kenaikan BTC.

Harga Bitcoin kembali menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Aset kripto terbesar dunia tersebut berhasil menembus level US$82.000, melanjutkan reli yang mulai terbentuk sejak akhir pekan lalu.

Kenaikan harga Bitcoin kali ini tidak hanya berasal dari sentimen pasar kripto. Penurunan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan kembali minat investor terhadap aset berisiko.

Bitcoin sempat diperdagangkan sedikit di atas US$82.000 dan naik hampir 2% dalam 24 jam. Penguatan kemudian berlanjut, dengan data CoinDesk menunjukkan Bitcoin berada di sekitar US$84.000 pada Senin sore waktu Indonesia.

Reli juga terjadi di pasar kripto secara luas. Ethereum, Solana, XRP, Dogecoin hingga sejumlah altcoin lainnya bergerak naik ketika sentimen risk-on kembali muncul di pasar global.

Harga Bitcoin Naik di Atas US$82.000

Bitcoin mengawali pekan dengan pergerakan positif setelah mengalami volatilitas tinggi selama beberapa hari sebelumnya.

CoinDesk melaporkan Bitcoin diperdagangkan di atas US$82.000 dengan kenaikan hampir 2% dalam 24 jam. Monero (XMR) bahkan sempat melonjak sekitar 13%, sementara Dogecoin naik 5% dan XRP sekitar 4%.

Ethereum, Solana dan HYPE masing-masing naik sekitar 3%, sedangkan BNB dan Zcash mencatat kenaikan sekitar 2%.

Kenaikan tersebut menunjukkan sentimen positif tidak hanya terjadi pada Bitcoin.

Investor mulai kembali mengambil posisi pada aset berisiko setelah tekanan yang terjadi pada pekan sebelumnya.

Namun, salah satu pemicu terpenting kali ini justru datang dari luar pasar kripto: harga minyak dunia.

harga bitcoin

Harga Minyak Turun, Bitcoin Ikut Naik

Harga minyak Brent turun sekitar 2% pada perdagangan Senin dan menyentuh level terendah dalam 11 hari.

Brent diperdagangkan sekitar US$101,75 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober turun sekitar 2% menjadi US$98,34 per barel.

Penurunan tersebut terjadi ketika investor melihat peluang adanya perkembangan diplomatik dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Pada saat yang sama, ekspor minyak Arab Saudi menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Data yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor Saudi pada September telah pulih menjadi lebih dari 4 juta barel per hari setelah sebelumnya turun menjadi sekitar 2,4 juta barel per hari pada Agustus.

Kombinasi antara peluang deeskalasi geopolitik dan membaiknya pasokan tersebut menurunkan premi risiko pada harga minyak.

Bagi Bitcoin, kondisi tersebut ternyata menjadi kabar positif.

Apa Hubungan Harga Minyak dengan Bitcoin?

Sekilas, Bitcoin dan minyak memang terlihat seperti dua aset yang tidak memiliki hubungan langsung.

Bitcoin merupakan aset digital, sedangkan minyak merupakan komoditas energi.

Namun, keduanya dapat terhubung melalui satu faktor penting: inflasi.

Ketika harga minyak naik tajam, biaya energi meningkat.

Biaya transportasi, produksi barang, penerbangan, logistik hingga manufaktur dapat ikut meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi.

Inflasi yang tinggi kemudian dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Inilah yang menjadi masalah bagi Bitcoin.

Suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik bagi investor, sekaligus meningkatkan biaya modal di pasar keuangan.

Akibatnya, investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Sebaliknya, ketika harga minyak turun, tekanan inflasi dari sektor energi dapat mereda.

Ekspektasi tersebut dapat menurunkan imbal hasil obligasi dan meningkatkan kembali minat terhadap aset berisiko.

Bitcoin menjadi salah satu aset yang mendapatkan keuntungan dari perubahan sentimen tersebut.

Baca juga :

Selengkapnya berita kripto di sini

Yield Treasury Ikut Turun

Efek penurunan harga minyak juga terlihat di pasar obligasi.

Reuters melaporkan yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke bawah level 5% ketika harga minyak melemah.

Pergerakan tersebut penting bagi Bitcoin.

Yield obligasi yang lebih rendah dapat mengurangi daya tarik relatif instrumen pendapatan tetap dibandingkan aset berisiko.

Pada saat yang sama, pasar saham juga menguat.

Kontrak berjangka Dow Jones naik sekitar 0,6%, S&P 500 sekitar 0,63%, sedangkan Nasdaq 100 naik lebih dari 1% pada perdagangan awal.

Bitcoin ikut bergerak bersama gelombang risk-on tersebut.

Dengan kata lain, kenaikan Bitcoin kali ini bukan pergerakan yang berdiri sendiri.

Pasar saham, obligasi dan kripto sama-sama merespons perubahan kondisi makroekonomi.

harga bitcoin

Kebijakan The Fed Kembali Jadi Perhatian

Penurunan harga minyak menjadi semakin penting karena The Fed sedang menghadapi tekanan inflasi.

Federal Reserve sebelumnya telah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Kini pasar mulai memperkirakan apakah kenaikan berikutnya akan kembali dilakukan pada pertemuan Oktober.

Reuters mencatat pasar memperkirakan peluang sekitar 53% untuk kenaikan suku bunga berikutnya pada Oktoberberdasarkan CME FedWatch pada perdagangan Senin.

Karena itu, harga minyak dapat menjadi salah satu variabel yang diperhatikan investor.

Jika harga minyak terus turun, tekanan inflasi dari energi dapat berkurang.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan The Fed untuk memperketat kebijakan secara agresif.

Sebaliknya, jika konflik Timur Tengah kembali meningkat dan harga minyak melonjak, kekhawatiran terhadap inflasi dapat kembali muncul.

Bagi investor Bitcoin, dinamika tersebut menjadi sangat penting.

Bitcoin Bangkit Setelah Sempat Turun ke US$75.000

Kenaikan Bitcoin di atas US$82.000 juga menjadi menarik karena terjadi setelah volatilitas besar pada pekan sebelumnya.

Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$75.000 setelah keputusan suku bunga The Fed sebelum kemudian berbalik naik.

Artinya, Bitcoin telah mengalami pemulihan hampir US$10.000 dari titik terendah tersebut ketika sempat bergerak ke area US$84.000 pada Senin.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana sentimen pasar dapat berubah dengan sangat cepat.

Sebelumnya, investor mengkhawatirkan kenaikan suku bunga.

Kini, penurunan harga minyak dan membaiknya sentimen terhadap aset berisiko justru menjadi katalis kenaikan.

Bukan Cuma Minyak, Ada Sentimen Regulasi AS

Reli Bitcoin juga mendapat dukungan dari perkembangan regulasi di Amerika Serikat.

CoinDesk melaporkan Bitcoin sebelumnya telah bergerak di atas US$81.000 setelah Securities and Exchange Commission (SEC) membuka jalan bagi perdagangan saham AS yang ditokenisasi secara on-chain.

Perkembangan tersebut meningkatkan optimisme terhadap integrasi antara pasar modal tradisional dan teknologi blockchain.

Saham yang ditokenisasi memungkinkan aset pasar modal tradisional direpresentasikan dan diperdagangkan melalui jaringan blockchain.

Jika berkembang lebih luas, tren ini dapat memperbesar penggunaan infrastruktur blockchain dalam sistem keuangan tradisional.

Kombinasi sentimen regulasi tersebut dengan penurunan harga minyak kemudian membantu memperkuat momentum Bitcoin.

Pertemuan Trump dan Xi Jinping Juga Dinanti Pasar

Selain minyak dan The Fed, investor juga menunggu perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China.

Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada pekan ini.

Pasar akan memperhatikan pembahasan terkait perdagangan, teknologi, tarif dan sejumlah isu geopolitik lainnya.

Sentimen positif sebenarnya sudah mulai terlihat.

CoinDesk melaporkan saham Asia dan futures saham AS menguat setelah pejabat AS memberikan penilaian positif terhadap perkembangan pembicaraan antara Washington dan Beijing menjelang pertemuan tersebut.

Apabila pertemuan menghasilkan perkembangan positif, sentimen risk-on dapat memperoleh dukungan tambahan.

Namun, kegagalan negosiasi atau meningkatnya ketegangan perdagangan juga dapat kembali meningkatkan volatilitas pasar.

Altcoin Ikut Menguat

Penguatan Bitcoin turut diikuti berbagai altcoin.

Pada laporan awal CoinDesk, Monero menjadi salah satu aset dengan performa paling menonjol dengan kenaikan sekitar 13%.

Dogecoin naik sekitar 5%, XRP 4%, sedangkan Ethereum dan Solana sekitar 3%.

Kondisi tersebut menunjukkan investor tidak hanya membeli Bitcoin.

Ketika selera risiko meningkat, modal dapat mulai mengalir ke aset kripto dengan kapitalisasi lebih kecil.

Fenomena tersebut sering diperhatikan investor sebagai indikasi meningkatnya kepercayaan terhadap pasar kripto secara keseluruhan.

Namun, altcoin umumnya memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan Bitcoin sehingga potensi koreksinya juga dapat lebih besar.

harga bitcoin

Apakah Bitcoin Bisa Melanjutkan Kenaikan?

Kenaikan harga Bitcoin di atas US$82.000 menjadi perkembangan positif, tetapi investor masih perlu memperhatikan beberapa faktor.

Harga minyak menjadi salah satu indikator utama.

Jika minyak terus turun, kekhawatiran inflasi dapat mereda dan memberikan ruang lebih besar bagi aset berisiko.

Investor juga perlu memperhatikan yield Treasury AS.

Penurunan yield dapat mendukung Bitcoin, sementara lonjakan kembali yield dapat memberikan tekanan terhadap aset kripto.

Selain itu, pernyataan pejabat Federal Reserve sepanjang pekan ini akan menjadi perhatian pasar. Sedikitnya 10 pejabat The Fed dijadwalkan memberikan komentar yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya.

Pertemuan Trump-Xi dan perkembangan konflik Timur Tengah juga dapat mengubah sentimen dengan cepat.

Karena itu, meskipun Bitcoin sedang berada dalam momentum positif, volatilitas masih berpotensi tinggi.

Kesimpulan

Harga Bitcoin berhasil menembus US$82.000 pada Senin, 21 September 2026, seiring membaiknya sentimen terhadap aset berisiko. Pergerakan kemudian berlanjut hingga Bitcoin berada di sekitar US$84.000 berdasarkan data CoinDesk pada hari yang sama.

Salah satu katalis utamanya adalah penurunan harga minyak.

Brent turun sekitar 2% ke kisaran US$101,75 per barel di tengah harapan terhadap perkembangan diplomatik AS-Iran dan membaiknya aliran minyak dari Arab Saudi.

Harga minyak yang lebih rendah membantu meredakan kekhawatiran inflasi, menekan yield Treasury dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Bitcoin ikut mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut.

Namun, arah Bitcoin selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi harga minyak, kebijakan The Fed, perkembangan konflik Timur Tengah, serta pertemuan Amerika Serikat dan China.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini semakin terhubung dengan dinamika pasar keuangan global.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Aset kripto memiliki volatilitas dan risiko tinggi. Investor perlu melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU