25.6 C
Jakarta
Minggu, 26 Juni, 2022

Masihkah Industri Fintech Diminati Investor Pada 2021?

DuniaFintech.com – Industri fintech pada tahun 2021 diprediksi sebagian orang masih diminati, khususnya para pendana (venture capital). Hal ini menjadi pertanyaan yang mencuat, lantaran adanya penambahan serta pembaruan aturan terhadap layanan keuangan berbasis teknologi di klaster pinjaman personal (P2P Lending).

Diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah meramu revisi regulasi sebelumnya, POJK 77/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Terdapat berbagai ketentuan baru, seperti memperketat aturan modal dasar dan bagian saham, aliran pinjaman ke luar Jawa dan sektor produktif, serta ketentuan anyar untuk manajemen dan pemegang saham.

Sementara itu, aturan baru untuk fintech urun dana (equity crowdfunding) juga telah bergulir. Berlandaskan POJK 57/2020 tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi, para penyelenggara mampu mengakomodasi penerbitan efek bersifat utang dan sukuk dari pihak yang hendak didanai.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo), Edward Ismawan Chamdani menilai dua klaster fintech tersebut memiliki tanggapan yang berbeda di mata pendana.

Untuk klaster P2P Lending, Edward menilai adanya aturan baru OJK membuat para penyelenggara terseleksi dengan sendirinya. Menurutnya, para pendana cenderung ragu untuk mendanai para penyelenggara yang terganjal aturan.

“Jumlah pemain P2P saat ini sudah sangat banyak, dan sudah waktunya untuk regulator fokus bukan dalam pemberian izin operasi saja, namun meningkatkan layanan P2P kepada para konsumen,”

Baca juga:

Prediksi Alur Pendanaan Industri Fintech di Tahun 2021

Lebih lanjut, Edward menilai bahwa tren penanaman modal para investor terhadap fintech P2P Lending pada tahun 2021 masih akan dievaluasi. Ia menyebut, para pendana akan melakukan penilaian terhadap tren pertumbuhan serta progress yang dialami para penyelenggara, sebelum melakukan pendanaan lebih lanjut.

“Pertimbangan investor MV dalam melakukan investasi tidak hanya soal kebutuhan urgen dari pelaku P2P dalam meningkatkan modal, namun di lihat dari performa mereka soal jumlah layanan dan transaksi,”

Sementara, untuk layanan fintech crowdfunding, Edward mengatakan para pelaku cenderung siap dengan regulasi yang ada. Masih sedikitnya jumlah penyelenggara menjadi alasan untuk para investor mengalirkan permodalan. Menurutnya, pemodal cenderung menanamkan modalnya terhadap industri serta pemain baru.

“Layanan urun dana yang bersifat ekuitas dan efek akan menarik untuk diperhatikan juga sebagai potensi investasi para MV di startup sejenis,”

DuniaFintech/Fauzan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Bursa Kripto Masih Belum Terealisasi, Langkah Mendag Zulkifli Hasan Ditunggu

JAKARTA, duniafintech.com - Keberadaan bursa kripto sebagai bagian dari ekosistem perdagangan legal aset kripto di Indonesia hingga kini belum berujung atau terealisasi.  Meski pucuk pimpinan...

Segera Siapkan Regulasi Investasi Kripto, Zulkifli Hasan Bilang Biar Lebih Aman

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi aset kripto saat ini banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus beradaptasi dengan tren ekosistem ekonomi digital itu. Hal itu...

Harga Volkswagen Polo hingga Daftar Dealernya

JAKARTA, duniafintech.com – Volkswagen Polo hingga kini masih menjadi salah satu mobil asal Jerman yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Baik di Indonesia maupun di...

Estimasi Biaya Laparoskopi, Mahal Enggak Ya?

JAKARTA, duniafintech.com – Estimasi biaya laparoskopi di rumah sakit memang terbilang cukup menguras kantong, bahkan bisa mencapai puluhan juta. Laparoskopi sendiri adalah tindakan medis berupa...

Sesuai Syariat Islam, Begini Prinsip P2P Lending Syariah

JAKARTA, duniafintech.com - Pastinya P2P lending sudah tidak asing lagi di telinga, bukan? Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dunia fintech syariah terus mengalami peningkatan....
LANGUAGE