25 C
Jakarta
Jumat, 7 Oktober, 2022

Duh! Seniman Ini Digugat Gegara Buat NFT Bored Ape Yacht Tiruan

JAKARTA, duniafintech.com – Perusahaan di balik proyek non-fungible token atau NFT Bored Ape Yacht Club (BAYC), Yuga Labs telah menggugat seniman yang dijuluki Ryder Ripps dan beberapa rekannya karena mencoba mendevaluasi merek BAYC. 

Gugatan Yuga Labs mengklaim Ripps dan rekannya itu mengendalikan sebuah perusahaan dan mulai “menipu” konsumen agar membeli NFT tiruan yang dinamai RR BAYC dengan menyalahgunakan merek dagang Yuga Labs.

Gugatan itu mencatat Ripps mengklaim tindakannya adalah “sindiran”, tetapi Yuga Labs bersikeras Ripps meraup jutaan keuntungan haram dari koleksi RR/BAYC NFT. 

Yuga Labs yakin Ripps dan koleksinya akan terus merusak bisnis. Ripps terus men-tweet tentang dugaan hubungan antara simbol tertentu yang dimanfaatkan oleh Yuga Labs.

Yuga Labs membahas soal gugatan tersebut pada 24 Juni lalu melalui Twitter dan mengatakan dukungan dari komunitas mereka sangat luar biasa.

“Kami akan terus transparan dengan komunitas kami saat kami melawan klaim fitnah ini,” kata Yuga Labs dikutip dari Bitcoin.com, Selasa (30/8/2022).

Baca jugaDituding Jadi Penyebab NFT Karafuru Turun, Chef Arnold Diprotes Warganet

Untuk menghentikan pelanggaran yang terus menerus, dan upaya ilegal lainnya yang merugikan BAYC dan komunitas BAYC, Yuga Labs telah mengajukan gugatan terhadap pihak yang bertanggung jawab.

“Kami akan terus mengeksplorasi dan mengejar semua opsi hukum yang kami miliki,” lanjut penjelasan Yuga Labs tersebut. 

Baca juga: Waspada! Nilai Pencurian NFT Sentuh Rp1,4 T Sepanjang 2022

Yuga Labs menuduh Ryder Ripps “berusaha mendevaluasi” NFT Bored Ape Yacht Club resmi dengan koleksi tiruan yang disebut RR/BAYC NFT. Gugatan tersebut mengklaim gambar BAYC asli digunakan dan Ripps dituduh memasarkan NFT sebagai produk BAYC resmi.

Merek dagang Yuga Labs juga diduga digunakan di pasar NFT “Ape Store” Ripps. Gugatan itu menambahkan ini adalah “bukan bisnis monyet belaka” dan tindakan Ripps adalah upaya yang disengaja untuk merugikan Yuga Labs dengan mengorbankan konsumen.

Selama minggu pertama Februari, Ryder Ripps menuduh merek dagang Yuga Labs memiliki “ikatan Nazi.” Salah satu pendiri Yuga Labs, Gordon Goner, menanggapi tuduhan itu dalam posting blog Medium dan menekankan tuduhan itu sangat tidak masuk akal.

Postingan blog ini memberikan ringkasan lengkap tentang mengapa pencipta BAYC memilih menggunakan Apes, inspirasi di balik desain logo BAYC, dan nama perusahaan.

Baca jugaProject NFT Asal Indonesia Terpopuler, Bukan Cuma Ghozali Lho!

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com.

 

Penulis: Kontributor/Panji A Syuhada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Ancaman Resesi Ekonomi Global 2023, Tetap Yakin Ingin Cicil Rumah?

JAKARTA, duniafintech.com - Ekonomi global diprediksi akan menghadapi resesi ekonomi global. Hal itu terlihat dari beberapa kebijakan bank-bank sentral di berbagai negara dengan mengeluarkan...

Pinjol Cepat Cair 2022 Limit Besar Resmi, Ini Rekomendasinya

JAKARTA, duniafintech.com – Pinjol cepat cair adalah pinjaman yang diajukan via aplikasi di smartphone, dengan proses pencairan dana cepat. Saat ini, pinjol yang berizin Otoritas...

Berita Kripto Hari Ini: Apa Kabar Bursa Kripto Indonesia?

JAKARTA, duniafintech.com – Berita kripto hari ini akan mengulas soal perkembangan bursa kripto Indonesia yang masih belum diluncurkan. Adapun sebelumnya, bursa kripto pun sempat molor—sebagai...

Berita Bitcoin Hari Ini: Sempat Menguat, Bitcoin Melemah!

JAKARTA, duniafintech.com – Berita Bitcoin hari ini akan mengulas soal harga Bitcoin dan kripto teratas lainnya dengan pergerakan yang beragam. Pada perdagangan pagi ini, mayoritas...

Kerangka Kerja Inklusi Keuangan Fokus Digitalisasi dalam Presidensi G20 Indonesia

JAKARTA, duniafintech.com - Presidensi G20 Indonesia menyusun Kerangka Kerja Inklusi Keuangan sebagai panduan bagi setiap negara untuk mendorong digitalisasi guna menciptakan ekonomi yang inklusif...
LANGUAGE