37.3 C
Jakarta
Sabtu, 17 Oktober, 2026

Pendanaan Fintech Asia Tenggara Melonjak 206%

Pendanaan startup teknologi finansial (fintech) di Asia Tenggara mencapai US$2,3 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Namun, lonjakan tersebut terutama ditopang oleh sejumlah transaksi jumbo, di tengah penurunan tajam jumlah kesepakatan pendanaan di kawasan tersebut.

Platform intelijen pasar Tracxn dalam laporan yang dirilis Kamis (15/10), dikutip Jumat (16 Oktober 2026) menyebutkan, kondisi ini mencerminkan ekosistem fintech yang semakin didominasi oleh pemain mapan dan transaksi akuisisi bernilai besar.

Total pendanaan pada Januari-September 2026 melonjak 206% dibandingkan US$748 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, jumlah putaran pendanaan turun 44% menjadi hanya 42 transaksi.

Lonjakan investasi tersebut terkonsentrasi pada segelintir perusahaan. Empat putaran pendanaan jumbo senilai minimal US$100 juta masing-masing mengumpulkan total US$2 miliar, setara 86% dari keseluruhan pendanaan fintech di Asia Tenggara selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Ant International menjadi penerima pendanaan terbesar setelah meraih US$1,2 miliar melalui putaran Seri A pada Juli, dengan dukungan Alibaba dan Ant Group. Nilai transaksi tersebut setara sekitar 52% dari total pendanaan fintech di kawasan itu.

Transaksi besar lainnya mencakup pendanaan Seri D senilai US$400 juta untuk Crypto.com yang berbasis di Singapura, dengan dukungan Citadel Securities. Sementara itu, Ajaib, perusahaan fintech yang berbasis di Jakarta Barat, memperoleh US$270 juta dalam putaran pendanaan Seri C dengan dukungan SBI Group.

aplikasi fintech

Singapura masih menjadi tujuan utama investasi fintech di Asia Tenggara. Negara tersebut menarik pendanaan sebesar US$1,9 miliar, atau sekitar 83% dari total pendanaan kawasan selama Januari-September 2026.

Jakarta Barat menempati posisi berikutnya dengan US$270 juta, disusul Taguig di Filipina yang menarik US$60 juta.

Meski nilai pendanaan secara keseluruhan meningkat, indikator pada tahap awal pengembangan startup menunjukkan kondisi yang lebih menantang bagi perusahaan-perusahaan muda. Pendanaan tahap seed merosot 46% secara tahunan menjadi US$53,3 juta. Jumlah perusahaan yang untuk pertama kalinya memperoleh pendanaan juga turun 48% menjadi hanya 17 perusahaan.

Di sisi lain, pendanaan tahap awal yang mencakup putaran Seri A dan Seri B melonjak 354% menjadi US$1,4 miliar. Namun, kenaikan ini sebagian besar ditopang oleh transaksi besar Ant International, sehingga belum mencerminkan peningkatan pendanaan yang merata di seluruh ekosistem startup.

Aktivitas penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) juga belum menunjukkan pemulihan. Asia Tenggara tidak mencatat satu pun IPO fintech selama sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan satu IPO pada periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, pasar merger dan akuisisi (M&A) menunjukkan konsolidasi melalui transaksi bernilai besar. Sepanjang periode tersebut, tercatat 12 transaksi akuisisi dengan rata-rata nilai mencapai US$501 juta, melonjak dari US$22,9 juta pada Januari-September 2025.
Salah satu transaksi terbesar adalah akuisisi platform buy now, pay later ( BNPL ) Atome oleh Grab senilai US$1,5 miliar.

Transaksi penting lainnya mencakup akuisisi platform pembayaran lintas negara TazaPay yang berbasis di Singapura oleh Circle, penerbit stablecoin USDC , senilai US$400 juta. Selain itu, platform perdagangan Webull mengakuisisi penyedia layanan investasi asal Thailand, Pi Securities, senilai US$100 juta.

BACA SELENGKAPNYA BERITA FINTECH INDONESIA TERBARU DI SINI >>

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU