26.6 C
Jakarta
Kamis, 2 Juli, 2020

Skandal Wirecard Bukti Kesuksesan Disrupsi Fintech

DuniaFintech.com – Publik dikejutkan dengan adanya skandal Wirecard, sebuah badan keuangan untuk jasa pembayaran. Diketahui, perusahaan berbasis Jerman ini menghadapi ancaman bangkrut setelah uang senilai USD 2 miliar mengalir ke beberapa rekening palsu. Hal tersebut mengantarkan dugaan atas isu pencucian uang di wilayah operasi Wirecard di Asia Pasifik.

Dengan terjadinya skandal Wirecard, membuat sektor yang tergabung dalam grup perusahaan pun ikut terdampak, salah satunya jasa keuangan berbasis teknologi (fintech). Seperti diketahui sebelumnya, fintech mengalami pekan yang baik saat menjaga stabilitas dan tren positif lantaran menjadi solusi keuangan di kala pandemi.

Adanya permasalahan ini membuat perusahaan fintech yang tergabung dalam grup Wirecard seperti Revolut, Soldo dan Curve seolah-olah terlibat dalam skandal. Namun beberapa pekan setelah bergulirnya informasi, ditegaskan bahwa pemain fintech di dalam grup Wirecard berada dalam regulasi, unit serta prosedur akunting yang berbeda.

Secara status, grup Wirecard beratas-namakan Wirecard AG, sementara, pemain fintech dalam grup tersebut memiliki independensi melalui pembentukan anak perusahaan yang dinamai Wirecard Card Solution (WCS). Dari segi hukum sendiri, para pemain fintech dalam grup Wirecard merunut pada regulasi otoritas keuangan (Financial Conduct Authority) di Britania Raya.

Baca juga:

Skandal Wirecard Tidak Memiliki Koneksi dengan Mitra Fintechnya

David Parker, pakar jasa pembayaran mengatakan, jika skenario terburuk mengharuskan Wirecard bangkrut, maka fintech pendukung didalamnya tidak akan dilibatkan dalam kasus. Ia mengatakan bahwa peran fintech tidak untuk menyimpan uang nasabah mau pun konsumen.

“WCS dan Wirecard AG memang berada dalam satu nama, namun tidak sama,”
“WCS dan Wirecard secara terpisah diatur dalam regulasi yang berbeda. Seperti pulau yang dikelilingi air, alur keuangan WCS sangat dibatasi,”

Dengan terkuaknya skandal Wirecard, tidak membuat para fintech dalam WCS berhenti beroperasi. Terdapat opsi untuk hengkang dari Wirecard, dengan cara menjual WCS ke perusahaan induk lain. Pada dasarnya, WCS hanya mengacu dari perizinan FCA, sama halnya dengan Mastercard mau pun Visa yang menjadikan mereka pemegang saham yang independen dalam suatu kerja sama yang mengikat.

Meski demikian, fintech yang berada dalam WCS menegaskan kembali kepada pelanggan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dalam skandal. Pimpinan Crypto.com yang memiliki pendukung WCS dalam layanannya pun ikut menjelaskan ke publik untuk tidak khawatir.

DuniaFintech/Fauzan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Raih Segudang Keuntungan di Masa Pandemi dengan Ide Bisnis Ini

DuniaFintech.com - Wabah corona berdampak cukup besar bagi kalangan masyarakat, terutama dari segi ekonomi. Perubahan tren dan kebutuhan prioritas konsumen pun mempengaruhi...

Influencer Diadu di PUBG Mobile Global Ultimate Team Selection

DuniaFintech.com - Penggemar game berbasis mobile, Players Unknown Battle Ground (PUBG) menghelat PUBG Mobile Global Ultimate Team Selection per tanggal 23 Juni...

Pintek Bersama Sevima Bantu Berikan Solusi Managemen Akademik

DuniaFintech.com - Perusahaan fintech P2P lending yang fokus kepada sektor pendidikan, Pintek bersama Sevima, perusahaan konsultan dan pengembangan teknologi informasi untuk berikan...

BIDR Resmi Diperdagangkan di Binance dan Tokocrypto

DuniaFintech.com - Binance, Perusahaan Blockchain global dibelakang pertukaran aset digital terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan dan pengguna bersama Tokocrypto, pedagang aset...

Pinjaman Dana Cepat untuk Laptop Agar WFH Lebih Produktif

DuniaFintech.com - Laptop menjadi salah satu kebutuhan untuk menunjang masa work from home (WFH). Tanpa barang ini, pekerjaan yang dilakukan tentu menjadi...
LANGUAGE