26 C
Jakarta
Selasa, 31 Januari, 2023

Apa Itu Resesi Ekonomi Global? Inilah Penyebab dan Dampaknya

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu resesi ekonomi global? Saat ini, kabar terkait resesi memang kian kencang berembus, termasuk di Indonesia.

Hal ini pun tentu saja akan menjadi ancaman serius bagi seluruh negara di dunia jika benar-benar terjadi.

Tahun 2023 adalah tahun yang diperkirakan menjadi saat berlangsung resesi global. Pemicunya, antara lain, karena naiknya suku bank sentral secara global.

Untuk memahami lebih jauh soal istilah ekonomi yang satu ini, simak ulasan selengkapnya berikut ini, seperti dinukil dari CNBC Indonesia.

Baca juga: OJK Ungkap Enam Tantangan Pelaku Fintech Hadapi Resesi Global 2023

Pengertian dari Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Resesi ekonomi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Hal tersebut dapat memicu terjadi penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, dan juga kebangkrutan ekonomi.

Resesi secara umum terjadi saat ekonomi tumbuh negatif dua kuartal beruntun. Pada 2020 lalu, dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, yang menyebabkan berkurangnya lapangan kerja dan banyak pegawai dirumahkan.

Tanpa aktivitas dan mobilitas manusia, roda ekonomi pun macet.

Penyebab dari Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Adapun resesi ditandai dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal beruntun.

Penyebab terjadinya resesi adalah hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dan teknologi. Inilah beberapa penyebabnya.

1. Guncangan Ekonomi

Adapun guncangan ekonomi yang mendadak, misalnya pandemi Covid-19, menjadi salah satu penyebab resesi. Hal itu ditandai dengan lemahnya daya beli karena kesulitan finansial.

Di samping resesi, guncangan ekonomi pun dapat menyebabkan berbagai masalah ekonomi serius, di antaranya tumpukan utang.

Utang yang banyak membuat biaya pelunasannya meninggi, bahkan hingga ke titik tidak mampu lagi melunasinya.

2. Inflasi sebagai Penyebab Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Penyebab berikutnya, yakni inflasi. Pada 2020 lalu, dunia mengalami resesi karena pandemi Covid-19 dan saat ini resesi terjadi lantaran tingginya inflasi akibat harga komoditas energi yang melesat.

Inflasi adalah kondisi naiknya harga barang dan jasa selama periode tertentu. Inflasi yang berlebihan membuat daya beli masyarakat melemah.

Di sisi lain, produksi barang dan jasa akan menurun. Hal itu masuk dalam kategori berbahaya karena akan memicu pengangguran, kemiskinan, dan berujung pada resesi.

3. Tingginya Suku Bunga

Dengan inflasi yang melambung, bank sentral pun akhirnya menaikkan suku bunganya.

Namun, masalahnya, dua hal tadi diperparah dengan daya beli yang mulai lesu dan akan menjadi pemantik resesi.

Adapun suku bunga yang tinggi berfungsi untuk melindungi nilai mata uang, tetapi hal itu akan membebani debitur dan menyebabkan kredit macet.

Kalau terjadi secara besar-besaran maka perbankan bisa saja kolaps.

4. Deflasi sebagai Penyebab Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Bukan hanya inflasi, deflasi pun dapat menyebabkan terjadinya resesi. Deflasi sendiri ditandai dengan turunnya harga barang atau jasa.

Deflasi ini sekilas dapat meningkatkan daya beli masyarakat, tetapi kalau terjadi berlebihan maka akan merugikan penyedia barang dan jasa.

Adapun penurunan harga terus-menerus dapat membuat konsumen menunda pembelian dan menunggu hingga nominal terendah.

Kalau itu terjadi maka daya beli malah akan melemah dan aktivitas produksi berkurang.

Saat individu dan unit bisnis berhenti mengeluarkan uang, ekonomi pun akan menjadi rusak.

Baca juga: UMKM Binaan Amartha Siap Hadapi Resesi Ekonomi Global

5. Gelembung Aset Pecah

Penyebab lainnya adalah gelembung aset. Biasanya, fenomena gelembung aset ini terjadi di pasar saham dan properti.

Dalam hal ini, investor mengambil keputusan gegabah yang akhirnya merusak pasar. Mereka akan membeli banyak saham atau menumpuk properti dengan spekulasi bahwa harganya akan terus naik di masa depan.

Akan tetapi, gelembung aset tersebut akan ramai-ramai dijual saat kondisi ekonomi sedang berantakan atau biasa disebut sebagai “panic selling”.

Sekiranya hal itu terjadi, resesi ekonomi akan semakin dekat.

Apa Itu Resesi Ekonomi Global

6. Perkembangan Teknologi

Bukan hanya dari sektor ekonomi secara langsung, penyebab resesi pun bisa berkaitan dengan teknologi.

Adanya revolusi industri dikhawatirkan akan membuat Artificial Intelligence (AI) dan robot akan menggantikan banyak pekerjaan manusia. 

Kalau hal itu terjadi maka banyak pekerja yang berpotensi menjadi pengangguran dan resesi pun tidak terelakkan.

Dampak dari Apa Itu Resesi Ekonomi Global

  1. Dampak terhadap Pemerintah

Resesi akan membuat pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Pasalnya, penghasilan masyarakat menurun sehingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara.

Saat pendapatan negara sedang merosot, pemerintah tetap dituntut untuk membuka lapangan kerja sebanyak mungkin lantaran jumlah pengangguran yang meningkat. Hal itu membuat pinjaman ke bank asing akan meroket.

Di samping itu, pembangunan tetap dituntut untuk terus berjalan di berbagai sektor pemerintahan, termasuk menjamin kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, penurunan pendapatan pajak dan meningkatnya pembayaran kesejahteraan mengakibatkan defisit anggaran serta tingginya utang pemerintah.

  1. Dampak terhadap Perusahaan

Ketika terjadi resesi ekonomi, bisnis pun berpotensi bangkrut. Saat terjadi resesi ekonomi, daya beli masyarakat akan menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil.

Kondisi itulah yang akan mengancam kelancaran arus kas. Lantas, perang harga pun menjadi opsi perusahaan supaya terhindar dari kebangkrutan.

Akan tetapi, langkah tersebut malah membuat keuntungan akan menurun dan mesti ditambal dengan melakukan efisiensi.

Lazimnya, perusahaan akan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan serta memotong biaya operasional.

  1. Dampak terhadap Pekerja

Efisiensi yang dilakukan perusahaan saat terjadi resesi sebetulnya juga berdampak terhadap pekerja.

Tentunya, menutup area bisnis yang kurang menguntungkan dan memotong biaya operasional berarti juga melakukan PHK terhadap banyak pekerja.

Kalau banyak terjadi PHK maka artinya jumlah pengangguran kian meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di tengah resesi ekonomi.

Di sisi lain, bagi pekerja yang tidak terkena PHK pun terancam akan terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya ketika resesi terjadi.

Sekian ulasan tentang apa itu resesi ekonomi global yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Tips Hadapi Resesi Ekonomi Global Bagi Para Pelaku Usaha ala Rey Insurtech

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Investasi Sektor Manufaktur Naik 52 Persen di Tahun 2022, Tembus Rp497,7 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi pada sektor industri manufaktur di Tanah Air terus meningkat meski di tengah dinamika geopolitik dunia yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global....

Daftar HP Samsung Terbaru 2023 Dari Berbagai Seri

JAKARTA, duniafintech.com - Samsung dikenal sebagai salah satu merek ponsel pintar atau HP favorit banyak orang, terutama bagi para pengguna sistem operasi Android. Pasalnya,...

Sri Mulyani Upayakan Sinergi APBN Kembangkan Produktivitas UMKM

JAKARTA, duniafintech.com - Sinergi APBN sebagai instrumen keuangan negara dengan para pelaku usaha menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani dapat mengamplifikasi pemulihan ekonomi Indonesia. Berkaitan dengan...

Moncer! Ekspor Mobil Surplus Capai 64 Persen

JAKARTA, duniafintech.com - Industri otomotif ekspor mobil surplus merupakan salah satu sektor manufaktur yang strategis karena berperan penting dalam upaya menopang perekonomian nasional.  Juru Bicara...

Berikan PMN, Sri Mulyani Minta BTN Penuhi Kebutuhan Rumah

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hak untuk mendapatkan tempat tinggal, termasuk dari BTN, yang layak diatur dalam undang-undang. Namun...
LANGUAGE