27.8 C
Jakarta
Selasa, 31 Januari, 2023

Apa Itu Resesi Ekonomi Global? Begini Prediksi Buruk Ekonomi Global 2023

JAKARTA, duniafintech.com – Apa itu resesi ekonomi global? Adapun kabar soal resesi ekonomi belakangan ini memang kian santer terdengar.

Tentunya, hal ini akan menjadi ancaman serius bagi seluruh negara di dunia jika benar-benar terjadi nantinya.

Di samping itu, tahun 2023 pun diprediksi akan menjadi tahun berlangsungnya resesi global. Pemicunya, di antaranya, karena naiknya suku bank sentral secara global. 

Untuk memahami lebih jauh soal istilah ekonomi yang satu ini, simak ulasan di bawah ini, seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga: OJK Ungkap Enam Tantangan Pelaku Fintech Hadapi Resesi Global 2023

Apa Itu Resesi Ekonomi Global?

Pada dasarnya, resesi merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan keadaan saat perputaran ekonomi suatu negara berubah menjadi lambat/buruk. 

Adapun perputaran ekonomi yang melambat tersebut dapat berlangsung cukup lama, bahkan tahunan, sebagai akibat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara yang menurun selama dua kartal dan berlangsung secara terus-menerus.

PDB bisa diartikan sebagai aktivitas ekonomi sebuah negara selama satu periode. Dengan demikian, jika sebuah negara mengalami aktivitas ekonomi yang turun secara terus-menerus selama dua periode maka negara itu bisa disebut sedang mengalami resesi.

Di lain sisi, National Bureau of Economic Research (NBER) yang terletak di Amerika Serikat mengartikan resesi sebagai kondisi di kala negara mengalami penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dalam kurun waktu beberapa bulan dilihat dari PDB riil, penghasilan, tingkat pengangguran, produksi industri, penjualan grosir-ritel.

Penyebab Terjadinya Apa Itu Resesi Ekonomi Global

Berikut ini berbagai faktor yang memicu terjadinya resesi:

  1. Inflasi
  2. Deflasi berlebihan
  3. Gelembung aset pecah
  4. Guncangan ekonomi yang mendadak
  5. Perkembangan teknologi
  6. Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi
  7. Pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut
  8. Nilai impor lebih besar ketimbang ekspor
  9. Tingginya tingkat pengangguran

Prediksi Buruk Ekonomi Dunia pada Tahun 2023

Menukil Kontan.co.id, beberapa organisasi internasional memperkirakan terjadinya krisis ekonomi global pada tahun ini.

Bahkan juga disebutkan bahwa krisis yang terjadi pada 2023 ini akan menjadi yang terburuk dari yang pernah ada sebelumnya. Berikut ini ulasan selengkapnya.

  1. Prediksi Bank Dunia

Pimpinan Bank Dunia pada akhir September lalu memperkirakan, ekonomi global bakal mengalami resesi ekonomi di 2023.

Presiden World Bank Group, David Malpass, menyatakan, bank sentral di seluruh dunia sudah menaikkan suku bunganya dan tren tersebut diperkirakan akan berlanjut di tahun depan.

Ujungnya, kebijakan ini berdampak kepada perlambatan ekonomi yang dapat memunculkan resesi di banyak negara sehingga hal itu pun akan mengganggu kinerja ekspor.

  1. Ramalan Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 bakal lebih pelan/melambat.

Menurut perkiraan Gubernur BI, Perry Warjiyo, pertumbuhan ekonomi global tahun depan akan sebesar 2,6% yoy atau lebih rendah dari perkiraan 2022 yang sebesar 3% yoy.

Ia mengatakan, tekanan inflasi global masih tinggi sekalipun berpotensi melandai pada tahun ini.

Baca juga: UMKM Binaan Amartha Siap Hadapi Resesi Ekonomi Global

Kondisi itu didorong oleh disrupsi rantai pasok global dan ketatnya pasar tenaga kerja terutama di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Hal itulah yang lantas mendorong bank-bank sentral untuk tetap mengerek suku bunga acuan. Misalnya bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan hingga awal 2023.

Hal itu pun mendorong adanya ketidakpastian di pasar keuangan global. Perkasanya dolar AS juga ikut mengerem aliran masuk modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Lebih jauh, perlambatan ekonomi global ini juga mengandung risiko resesi di beberapa negara, di antaranya AS dan Eropa.

Apa Itu Resesi Ekonomi Global

  1. Prediksi CEBR

Pada tahun 2023, ekonomi dunia diperkirakan akan masuk resesi karena kenaikan suku bunga bunga yang masih berlanjut, yang ditujukan untuk meredam inflasi.

Penelitian Centre for Economics and Business Research (CEBR) mengungkap bahwa kebijakan suku bunga yang tinggi akan menyebabkan sejumlah ekonomi mengalami kontraksi sehingga dunia akan menghadapi resesi.

Dalam World Economic League Table tahunan yang dirilis konsultan Inggris tersebut, ekonomi global yang pertama kalinya melampaui US$ 100 triliun pada tahun 2022.

Hal itu akan terhenti pada tahun 2023 lantaran bank sentral masih harus berjuang menjinakkan inflasi.

Sekalipun suku bunga sudah naik tinggi, tetapi pertempuran menjinakkan inflasi belum dimenangkan.

Menurut CEBR, biaya menurunkan inflasi ke tingkat yang lebih aman merupakan prospek pertumbuhan yang lebih buruk untuk beberapa tahun mendatang.

Adapun laporan CEBR ini lebih pesimistis ketimbang perkiraan terbaru IMF. Lembaga tersebut pada Oktober lalu memperingatkan bahwa sepertiga ekonomi dunia akan kontraksi tahun depan dan 25% berpeluang tumbuh di bawah 2%. Hal itu pun didefinisikan sebagai resesi global.

  1. Ramalan IMF

Sebelumnya, Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, telah mengeluarkan ramalan buruk soal ekonomi global di 2023. 

Ia berpandangan, pada  tahun ini, ekonomi global akan lebih sulit ketimbang tahun 2022 lalu.

Hal itu, kata dia, terjadi karena tiga ekonomi besar, yakni AS, UE, China, semuanya melambat secara bersamaan.

IMF pun memperkirakan bahwa “sepertiga dari ekonomi dunia berada dalam resesi”. Kata Georgieva, bahkan untuk negara-negara yang tidak dalam resesi, rasanya akan sama seperti resesi bagi ratusan juta orang. 

  1. Prediksi Moody’s

Pada laporan terbarunya, Moody’s Analytics memperingatkan bahwa AS bisa menghadapi apa yang disebutnya “slowcession” di 2023.

Namun, Moody’s mempertahankan pendapatnya bahwa ekonomi kemungkinan besar akan mampu menghindari resesi atau penurunan besar-besaran. 

Lantas, apa maksud dari ekonomi AS bakal menghadapi slowcession? Melangsir Business Insider, slowcession adalah suatu skenario ketika pertumbuhan ekonomi hampir terhenti, tetapi tidak pernah berbalik arah.

Baca juga: Tips Hadapi Resesi Ekonomi Global Bagi Para Pelaku Usaha ala Rey Insurtech

Sekian ulasan tentang apa itu resesi ekonomi global yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat.

Baca terus berita fintech Indonesia dan kripto terkini hanya di duniafintech.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

-Inline sidebar-

ARTIKEL TERBARU

Investasi Sektor Manufaktur Naik 52 Persen di Tahun 2022, Tembus Rp497,7 Triliun

JAKARTA, duniafintech.com - Investasi pada sektor industri manufaktur di Tanah Air terus meningkat meski di tengah dinamika geopolitik dunia yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global....

Daftar HP Samsung Terbaru 2023 Dari Berbagai Seri

JAKARTA, duniafintech.com - Samsung dikenal sebagai salah satu merek ponsel pintar atau HP favorit banyak orang, terutama bagi para pengguna sistem operasi Android. Pasalnya,...

Sri Mulyani Upayakan Sinergi APBN Kembangkan Produktivitas UMKM

JAKARTA, duniafintech.com - Sinergi APBN sebagai instrumen keuangan negara dengan para pelaku usaha menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani dapat mengamplifikasi pemulihan ekonomi Indonesia. Berkaitan dengan...

Moncer! Ekspor Mobil Surplus Capai 64 Persen

JAKARTA, duniafintech.com - Industri otomotif ekspor mobil surplus merupakan salah satu sektor manufaktur yang strategis karena berperan penting dalam upaya menopang perekonomian nasional.  Juru Bicara...

Berikan PMN, Sri Mulyani Minta BTN Penuhi Kebutuhan Rumah

JAKARTA, duniafintech.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hak untuk mendapatkan tempat tinggal, termasuk dari BTN, yang layak diatur dalam undang-undang. Namun...
LANGUAGE