30.4 C
Jakarta
Senin, 21 September, 2026

Harga Bitcoin Tembus US$84.000, Short Seller Rugi Rp4 Triliun dalam Satu Jam

Harga Bitcoin tembus US$84.000 dan mencetak harga tertinggi hampir delapan bulan. Reli BTC memicu likuidasi US$262 juta posisi short hanya dalam satu jam.

Harga Bitcoin kembali mencatatkan reli kuat pada Senin, 21 September 2026. Bitcoin (BTC) berhasil menembus US$84.000 untuk pertama kalinya dalam hampir delapan bulan, sekaligus memicu likuidasi besar-besaran terhadap trader yang bertaruh harga BTC akan turun.

Bitcoin terakhir berada di level tersebut pada 31 Januari 2026. Dengan demikian, kenaikan terbaru membawa BTC kembali ke harga tertingginya dalam hampir delapan bulan.

Namun, yang menarik bukan hanya kenaikan harga Bitcoin.

Data CoinGlass yang dikutip BeInCrypto menunjukkan sekitar US$262,30 juta posisi short terlikuidasi hanya dalam waktu satu jam. Jika dikonversikan secara kasar dengan kurs Rp16.500 per dolar AS, nilainya mencapai sekitar Rp4,3 triliun.

Sebagai perbandingan, posisi long yang terlikuidasi pada periode yang sama hanya sekitar US$9,53 juta.

Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan Bitcoin membuat trader yang sebelumnya memperkirakan harga akan turun terkena short squeeze.

Bitcoin Tembus US$84.000

Bitcoin sempat menembus US$84.000 pada perdagangan 21 September sebelum berada di sekitar US$83.869 ketika laporan BeInCrypto diterbitkan.

Dalam 24 jam, harga Bitcoin tercatat naik sekitar 3,18%.

Kenaikan tersebut memperpanjang pemulihan Bitcoin selama beberapa pekan terakhir.

CoinDesk mencatat Bitcoin telah menguat hampir 6% dalam satu pekan dan sekitar 29% selama 35 hari terakhir. BTC juga berhasil menutup perdagangan mingguan di atas moving average 50 minggu untuk pertama kalinya dalam 45 minggu.

Pergerakan tersebut menjadi semakin signifikan karena Bitcoin sebelumnya sempat menghadapi tekanan besar sepanjang 2026.

Kini, kembalinya Bitcoin ke area US$84.000 membuat sentimen pasar mulai berubah.

Namun, reli tersebut juga memberikan konsekuensi besar bagi trader derivatif.

harga bitcoin

US$262 Juta Posisi Short Bitcoin Terlikuidasi

Ketika Bitcoin menembus US$84.000, trader yang mengambil posisi short mengalami tekanan besar.

Dalam satu jam, sekitar US$262,30 juta posisi short terlikuidasi.

Sementara itu, likuidasi posisi long hanya sekitar US$9,53 juta.

Artinya, nilai likuidasi short hampir 28 kali lebih besar dibandingkan posisi long dalam periode tersebut.

Situasi seperti ini dikenal sebagai short squeeze.

Short squeeze terjadi ketika harga suatu aset naik dengan cepat sehingga trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi mereka.

Penutupan posisi short kemudian menciptakan pembelian tambahan di pasar.

Akibatnya, harga dapat bergerak semakin tinggi.

Dengan kata lain, trader yang bertaruh Bitcoin turun justru dapat menjadi salah satu bahan bakar yang mempercepat kenaikan Bitcoin.

Apa Itu Likuidasi Short Bitcoin?

Dalam perdagangan futures atau derivatif kripto, trader dapat menggunakan leverage untuk membuka posisi yang nilainya lebih besar dibandingkan modal yang dimiliki.

Trader yang memperkirakan Bitcoin akan naik dapat membuka posisi long.

Sebaliknya, trader yang memperkirakan Bitcoin akan turun dapat membuka posisi short.

Masalah muncul ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi trader.

Sebagai contoh, seorang trader membuka posisi short Bitcoin pada US$80.000 karena memperkirakan BTC akan turun ke US$75.000.

Namun, Bitcoin justru naik menuju US$84.000.

Jika trader menggunakan leverage tinggi dan margin yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk menanggung kerugian, exchange dapat menutup posisi tersebut secara otomatis.

Proses inilah yang disebut likuidasi.

Semakin tinggi leverage yang digunakan, semakin kecil ruang pergerakan harga yang dapat ditoleransi sebelum posisi terkena likuidasi.

Mengapa Likuidasi Short Bisa Membuat Bitcoin Naik Lebih Cepat?

Inilah bagian menarik dari short squeeze.

Ketika posisi short ditutup, trader pada dasarnya harus membeli kembali aset atau kontrak untuk menutup posisi bearish tersebut.

Jika hanya beberapa trader yang mengalami likuidasi, pengaruhnya mungkin kecil.

Namun, jika ratusan juta dolar posisi short terlikuidasi dalam waktu hampir bersamaan, muncul tekanan pembelian yang sangat besar.

Harga Bitcoin kemudian naik.

Kenaikan tersebut dapat mengenai harga likuidasi trader short berikutnya.

Posisi tersebut ikut ditutup.

Muncul pembelian baru.

Bitcoin naik lagi.

Proses tersebut dapat menciptakan efek domino.

Inilah alasan pergerakan harga pada pasar futures terkadang terjadi sangat cepat meskipun tidak ada berita fundamental baru yang sebanding dengan besarnya pergerakan harga.

Bukan Short Squeeze Pertama Bitcoin pada 2026

Likuidasi short besar-besaran sebenarnya bukan fenomena baru bagi Bitcoin pada tahun ini.

Pada Agustus 2026, pasar mengalami short squeeze yang jauh lebih besar.

Ketika Bitcoin melonjak melewati US$71.000, hampir US$2,7 miliar posisi bearish kripto terlikuidasi dalam 24 jam.

Total likuidasi pasar ketika itu mendekati US$3 miliar dan melibatkan lebih dari 172.000 trader. Sekitar 92% nilai likuidasi berasal dari posisi short.

Lebih dari US$1 miliar posisi short bahkan terhapus dalam waktu sekitar satu jam.

Peristiwa tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh leverage terhadap volatilitas pasar kripto.

Ketika terlalu banyak trader mengambil posisi yang sama, perubahan harga secara tiba-tiba dapat memicu rangkaian likuidasi.

harga bitcoin tertinggi

Harga Minyak Turun Ikut Mendorong Bitcoin

Short squeeze bukan satu-satunya alasan Bitcoin naik.

Kondisi makroekonomi juga mendukung reli pasar kripto.

Harga minyak turun sekitar 2% pada Senin ketika muncul harapan terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Penurunan harga minyak membantu menurunkan tekanan terhadap yield obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor 10 tahun bahkan turun ke bawah 5%.

Kondisi tersebut meningkatkan kembali minat investor terhadap aset berisiko.

Pasar saham AS ikut menguat.

Futures S&P 500 naik sekitar 0,63%, sedangkan Nasdaq 100 futures menguat sekitar 1,09% pada perdagangan awal Senin.

Bitcoin kemudian bergerak bersama gelombang risk-on tersebut.

Dengan demikian, reli Bitcoin terjadi karena kombinasi antara sentimen makro yang membaik dan struktur pasar derivatif yang dipenuhi posisi short.

Bitcoin Lewati Moving Average 50 Minggu

Selain short squeeze, Bitcoin juga mencatat perkembangan menarik dari sisi teknikal.

Bitcoin berhasil menutup perdagangan mingguan di atas moving average 50 minggu untuk pertama kalinya dalam 45 minggu.

Moving average tersebut berada di sekitar US$78.115, sementara Bitcoin telah bergerak jauh di atasnya.

Level ini banyak digunakan untuk membaca tren jangka panjang Bitcoin.

Menurut analisis Galaxy yang dikutip CoinDesk, Bitcoin telah kembali menutup perdagangan di atas moving average 50 minggu sebanyak 13 kali dalam sejarahnya.

Dalam 11 dari 13 kejadian tersebut, Bitcoin tidak kembali mencetak titik terendah baru dari siklus yang sedang berlangsung. Namun, terdapat dua kejadian ketika sinyal tersebut gagal, sehingga pola historis ini tidak menjamin reli berikutnya.

Dengan demikian, pergerakan di atas MA 50 minggu dapat menjadi sinyal teknikal yang diperhatikan trader, tetapi bukan kepastian bahwa Bitcoin akan terus naik.

Apakah Bitcoin Sudah Kembali Bullish?

Kenaikan Bitcoin ke US$84.000 tentu meningkatkan optimisme.

Namun, ada perbedaan antara reli yang didorong permintaan investor baru dengan reli yang sebagian besar terjadi akibat short squeeze.

Short squeeze dapat menghasilkan kenaikan harga sangat cepat.

Masalahnya, tekanan pembelian dari likuidasi tidak berlangsung selamanya.

Setelah sebagian besar posisi short terhapus, pasar membutuhkan permintaan baru agar kenaikan dapat berlanjut.

Fenomena tersebut pernah terlihat pada Agustus 2026.

CoinDesk memperingatkan bahwa reli yang terutama didorong pembelian paksa akibat likuidasi dapat menjadi rapuh apabila tidak diikuti permintaan spot baru.

Karena itu, investor perlu melihat indikator lain seperti volume perdagangan spot, arus dana ETF Bitcoin, open interest futures, funding rate dan aktivitas investor institusional.

Area US$78.000 Bisa Menjadi Level Penting

Bitcoin saat ini memang telah bergerak jauh di atas US$80.000.

Namun, area sekitar US$78.000 tetap menarik untuk diperhatikan.

Moving average 50 minggu Bitcoin berada di sekitar US$78.115.

Apabila Bitcoin mengalami koreksi tetapi mampu bertahan di atas area tersebut, trader dapat melihatnya sebagai indikasi bahwa struktur pemulihan jangka panjang masih bertahan.

Sebaliknya, penurunan kembali di bawah moving average tersebut dapat membuat sinyal breakout menjadi lebih lemah.

Level US$84.000 juga menjadi area psikologis baru setelah Bitcoin berhasil mencapainya untuk pertama kalinya sejak Januari.

Pertarungan antara pembeli dan penjual di area tersebut dapat menentukan momentum Bitcoin berikutnya.

Ramai Ramalan Harga Bitcoin Bakal Tembus Rp15 Miliar? Ini Faktanya!
 

Jangan Terjebak FOMO Setelah Short Squeeze

Reli cepat sering membuat investor takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO).

Namun, short squeeze juga menunjukkan risiko menggunakan leverage tinggi.

Trader yang menggunakan leverage besar dapat mengalami kerugian signifikan hanya karena pergerakan harga beberapa persen.

Likuidasi US$262 juta dalam satu jam menjadi contoh nyata.

Pasar kripto dapat bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan trader untuk menambah margin atau menutup posisi secara manual.

Karena itu, kenaikan Bitcoin ke US$84.000 tidak seharusnya hanya dilihat sebagai peluang keuntungan.

Peristiwa tersebut juga menunjukkan besarnya risiko perdagangan futures dengan leverage tinggi.

Kesimpulan

Harga Bitcoin menembus US$84.000 pada 21 September 2026, menjadi level tertinggi BTC dalam hampir delapan bulan atau sejak 31 Januari 2026.

Kenaikan tersebut memicu short squeeze besar.

Sekitar US$262,30 juta posisi short terlikuidasi hanya dalam satu jam, sedangkan posisi long yang terlikuidasi sekitar US$9,53 juta.

Reli Bitcoin juga didukung membaiknya sentimen pasar global setelah harga minyak turun dan yield Treasury AS melemah.

Dari sisi teknikal, Bitcoin juga berhasil menutup perdagangan mingguan di atas moving average 50 minggu untuk pertama kalinya dalam 45 minggu.

Meski demikian, investor perlu memperhatikan apakah kenaikan Bitcoin dapat didukung oleh permintaan spot dan arus modal baru setelah efek short squeeze mereda.

Sebab, likuidasi short dapat mempercepat sebuah reli, tetapi permintaan investor yang berkelanjutanlah yang dibutuhkan untuk mempertahankannya.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Perdagangan aset kripto dan produk derivatif memiliki risiko tinggi. Investor perlu melakukan riset mandiri serta mempertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan.

Iklan

mau tayang di media lain juga

ARTIKEL TERBARU